Persiapkan Pembantaian Polisi, Kristen Garis Keras Amerika Ditangkapi FBI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok milisi Kristen garis keras dari Michigan, Hutaree, berfoto saat latihan militer. Milisi ini berniat membantai polisi dan mengobarkan pemberontakan melawan pemerintah Amerika Serikat. (Foto: Hutaree.com)

    Kelompok milisi Kristen garis keras dari Michigan, Hutaree, berfoto saat latihan militer. Milisi ini berniat membantai polisi dan mengobarkan pemberontakan melawan pemerintah Amerika Serikat. (Foto: Hutaree.com)

    TEMPO Interaktif, Detroit - Aparat keamanan Amerika Serikat FBI menangkap sembilan orang Kristen garis keras. Mereka berencana membunuh seorang polisi, mengebom saat polisi itu dimakamkan, dan memicu perlawanan terhadap pemerintah Amerika Serikat.

    FBI menangkap tujuh pria dan dua perempuan anggota kelompok yang berpusat di Michigan dengan nama Hutaree itu. Hutaree, menurut mereka, adalah ungkapan rahasia yang berarti "tentara Kristen".

    Mereka ditangkap di Michigan, Indiana, dan Ohio sejak akhir pekan hingga Senin (29/3) malam. Mereka ditangkap karena rencana serangan pada April menadatang itu. FBI juga menyita senjata-senjata dari kelompok ini.

    Jaksa Agung Eric Holder mengatakan bahwa penangkapan ini bisa melumpuhkan organisasi berbahaya. "Mereka dituduh bersekongkol  untuk mengobarkan peperangan terhadap Amerika Serikat," kata Holder.

    Menurut jaksa, kelompok itu sudah mengadakan pelatihan militer di hutan-hutan Michigan sejak 2008. Mereka belajar menembak dan membuat serta meledakkan bom.

    Kelompok Hutaree dipimpin oleh David Brian Stone, 44 tahun. Salah satu anak Stone juga diidentifikasi sebagai pemimpin Hutaree.  Anggota milisi ini diberi nama rahasia dan pangkat, mulai dari "radok" hingga "gunner".

    "Ini dimulai terkait soal kekristenan," kata janda Stone, Donna Stone. "Anda pergi ke gerje. Anda berdoa. Anda merawat keluarga Anda. Saya pikir David bertindak terlalu jauh."

    Donna mengatakan bekas suaminya itu menarik anaknya ke dalam gerakan ini. Stone adan anaknya ditangkap dalam sebuah rumah bersama lima orang dewasa lain serta seorang bocah.  Mereka menyerah setelah dikepung polisi dan para keluarganya membujuk mereka dengan pengeras suara.

    Sedang anak Stone lain, Joshua Matthew Stone, ditangkap di tempat sekitar 30 kilometer dari rumah itu.

    Jaksa mengatakan Stone sudah mengidentifikasi beberapa polisi yang tinggal dekat dengan rumahnya sebagai target potensial untuk dibunuh.

    Beberapa skenario membunuh polisi, menurut Jaksa, sudah sudah disusun. Mereka akan menelpon 911 dan berpura-pura minta pertolongan. Mereka akan membunuh polisi yang datang menolong Skenario lain adalah membunuh polisi  adalah membunuh di perempatan jalan. Cara lain, menyerang anggota keluarga polisi.

    Setelah polisi itu dibunuh, menurut jaksa, mereka akan meledakkan bom di tempat pemakaman  yang pasti bakal penuh polisi.

    Setelah melakukan serangan bom saat pemakaman, menurut Jaksa, Hutaree akan mundur ke titip pertahanan yang dilindungi dengan bom-bom di sekitarnya dan melawan aparat keamanan.

    "Dipercaya oleh Hutaree bahwa pertempuran (dengan aparat) keamanan itu akan menjadi pemicu perlawanan terhadap pemerintah di mana-mana" ungkap dakwaan jaksa.

    Dalam situs internetnya, Hutaree mengatakan nama ini berarti "tentara Kristen". Nama ini, menurut mereka, dipetik dari bahasa rahasia yang hanya diketahui segelintir orang.

    Kelompok ini mengutip beberapa ayat Injil dan menyatakan, "Kami percaya bahwa satu hari, seperti diramalkan, akan ada anti-Kristus. Yesus menginginkan kita siap untuk melindungi diri sendiri dengan pedang dan bertahan hidup dengan peralatan itu," ungkap Hutaree dalam situsnya.

    AP/NURKHOIRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?