Dokter Nepal Ini Bagai Dewa Warga Miskin Penderita Katarak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Bagi puluhan ribu warga miskin di Nepal, dr. Sanduk Ruit sangat dihormati karena mereka tanpa bayar dipulihkan penglihatannya lewat operasi katarak. Bagi para dokter mata dunia, dr. Sanduk Ruit sangat dihormati karena metode operasi yang ia temukan jauh lebih sederhana, murah, daripada metode konvensional.

    dr. Sanduk Ruit rajin melakukan operasi katarak gratis. Operasi ini--lazim disebut kamp mata--dilakukan maraton beberapa hari. Tim dokter akan datang ke wilayah terpencil. Warga lokal sudah menyiapkan tempat bedah--biasanya gedung sekolah--dan bantuan lain termasuk makanan gratis bagi pasien yang datang.

    Sebelum datang, radio-radio sudah menyiarkan bahwa bakal dilakukan operasi katarak gratis. Sekali operasi bisa mengumpulkan pasien sampai 500 orang. Mereka datang ke lokasi operasi kadang dengan perjalanan berat, berhari-hari. Ada yang berjalan kaki, bersepeda, berseped motor, dengan bus, atau mesti dipanggul sanak kerabat melewati pegunungan Himalaya di negara yang berbatasan dengan India itu.

    Mereka akan sabar, antri menunggu giliran. Jika tiba gilirannya, operasi dilakukan dengan cepat, sekitar lima menit untuk setiap pasien. Operasi dijalankan dr. Ruit dan dibantu beberapa dokter lain--sebagian dokter asing yang mempelajari metode dr. Ruit--untuk operasi tanpa dibayar itu.

    Para dokter asing itu mempelajari metode dr. Ruit karena sangat ringkas dan sama efektifnya. Dengan metode dr. Ruit, katarak dibuang dari mata dengan dua sayatan kecil tanpa jahitan.

    Metode itu sempat dikecam dunia kedokteran dunia tapi kini sudah diakui. Sekitar tiga tahun silam, dilakukan uji coba. Sebanyak 108 pasien katarak dibagi dalam dua kelompok. Separuh ditangani Ruit, separuhnya dr. dr. David Chang, ahli bedah katarak top dari University of California, San Francisco.

    Chang melakukan operasi dengan peralatan canggih seharga US$100 ribu. Ruit dengan peralatan yang harganya hanya seperenam. Hasilnya sama. Metode Ruit sebagus metode Chang: 98 persen pasien kembali pulih sempurna penglihatannya.

    Pengakuan kehebatan metode Ruit--murah tapi efektif--membuat ribuan dokter mata seluruh dunia belajar ke Nepal. Bahkan, dokter militer Amerika sudah mendaftar untuk ikut belajar metode ini mulai tahun ini.

    Dokter itu lahir pada 1954 di desa terpencil di kaki pegunungan Kanchenjunga, pegunungan tertinggi ketiga dunia. Tempat lahirnya sangat terpencil. Untuk sekolah dasar pun, ayahnya, seorang pedagang kecil, mengirimnya ke India, sebuah sekolah asrama, karena tidak ada sekolah di sana.

    Saat berusia 16 tahun, adiknya meninggal akibat TBC. Saat itu ia bertekad menjadi dokter. Ia menjadi dokter mata setelah membantu operasi katarak gratis. Ia melihat bagaimana dampak operasi katarak bagi mereka yang sebelumnya buta. Ia pun kemudian mengambil spesialisasi mata di All India Institute of Medical Sciences dan lulus pada 1929.

    Sebagai dokter pintar, dengan cepat Ruit menjadi terkenal di Nepal. Saat itu pula ia melihat bahwa bedah katarak yang ada di negerinya tidak cukup baik. Saat itu untuk bedah katarak di Nepal--dan negara berkembang lain--adalah membersihkan mata dari katarak. Setelah itu, para pasien mesti mengenakan kacamata tebal.

    Hasil ini tidak memuaskan. Pasien memang bisa melihat tapi buram. Bisa membedakan sapi dengan kambing, misalnya. Tapi untuk membaca, misalnya, sangat kesulitan.

    Ada metode yang jauh lebih bagus dan efektif saat itu. Dengan metode ini, lensa mata diganti oleh lensa dari plastik. Tapi Nepal, dan banyak negara lain, jarang melakukan metode ini apalagi dalam operasi katarak gratis.

    Penyebabnya dua: pertama harganya sangat mahal. Satu lensa jutaan rupiah, tidak terjangkau. Kedua, dalam operasi katarak gratis dibutuhkan kondisi ultra steril sehingga pembedahan di tempat darurat tidak dimungkinkan.

    Tapi Ruit keras kepala. Untuk mengurangi biaya, ia menyederhanakan metode termasuk dengan tidak melakukan jahitan. Ia juga meminta pasien mencuci muka sendiri sebelum bedah untuk memastikan kondisi steril. Metode ini cukup berhasil. Teramat sangat sedikit yang mengalami infeksi pascabedah.

    Sedang lensa plastik pengganti, ia mengandalkan rekan-rekannya dari negara maju. Mereka menyumbang lensa plastik untuk operasi katarak gratis.

    Ruit tahu lensa plastik donasi tidak akan cukup. Pemecahannya? Ia membuat pabrik sendiri di Nepal. Bukan hal yang mudah tentu, bagi seorang dokter muda membuat pabrik dan mendapatkan dana.

    Hanya sedikit dokter dari negara maju yang bersedia datang ke Nepal untuk membantunya. Dan dokter Nepal sendiri, ia dianggap merusak tatanan. Malah ada yang mengirim keluhan tentangnya ke perdana menteri.

    Ruit nekad keluar tidak lagi bekerja di rumah sakit di Nepal. Ia menghubungi Fred Hollows, ahli bedah mata yang sebelumnya menjadi mentor Ruit. Hollows ini mengumpulkan uang untuk pabrik lengsa di Katmandu.

    Pada 1992, Ruit mulai mendirikan Program Mata Nepal. Rencananya adalah membuat fasilitas pengobatan mata di Katmandu dan pusat pelatihan serta riset mata. Dua tahun kemudian, pabrik lensa matanya mulai didirikan dan mulai memproduksi pada 1996.

    Harga lensa buatan pabrik ini tidak kalah dengan buatan negara maju. Kelebihannya adalah harga: hanya sekitar Rp 50 ribu untuk sebuah lensa, bukan jutaan.

    Ruit memperkirakan sekitar tiga atau empat juta orang sudah dipulihkan penglihatannya dengan metode  yang ia kembangkan. Tak hanya di Nepal, Ruit juga melakukan operasi katarak gratis besar-besaran ini ke Afganistan, Myanmar, Tibet, sampai negara yang dianggap tertutup seperti Korea Utara.

    Yang paling membanggakan Ruit bukan jumlah bedah katarak yang pernah ia lakukan tapi metodenya yang menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Salah satunya, misalnya, dokter mata Prancis. Ia belajar di Nepal di bawah Ruit dan kemudian menularkan  ilmunya kepada 300 dokter di kawasan Afrika Barat.

    Biaya operasi katarak oleh dr. Ruit setiap pasien sekitar Rp 250 ribu. Sangat murah. Di Indonesia, operasi serupa bisa jutaan rupiah. Jadi biaya untuk 510 pasien yang ditangai Ruit selama empat hari, hanya US$12,75 atau sekitar Rp 120 juta.

    Ketrampilannya kadang membuat para dokter dari negara maju heran mengapa ia tetap tinggal di Nepal. "dr. Ruit itu ahli bedah katarak paling trampil  yang saya tahu," kata dr. Chang. "Saya pikir cukup wajar ingin tahun (berapa banyak uang) yang ia dapat jika ia tinggal di negara maju."

    Tapi Ruit mengatakan bahwa di kampung halamannya, Nepal, ia memiliki kesempatan lebih banyak untuk membantu orang. "Di mana lagi saya bisa membantu kehidupan orang lain seperti di sini?" katanya. "Saya sangat beruntung, sungguh."

    AP/READER DIGEST/NURKHOIRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.