Air Kotor Bunuh Lebih Banyak Orang Dibanding Perang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang ibu mencuci pakaian di sungai yang airnya mulai menyusut, di Pamekasan, Madura, Jawa Timur (14/7). Beberapa daerah di Madura mulai kukurangan air bersih. Foto: ANTARA/Saiful Bahri

    Seorang ibu mencuci pakaian di sungai yang airnya mulai menyusut, di Pamekasan, Madura, Jawa Timur (14/7). Beberapa daerah di Madura mulai kukurangan air bersih. Foto: ANTARA/Saiful Bahri

    TEMPO Interaktif, Nairobi - Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkapkan lebih banyak orang yang mati disebabkan oleh air yang tercemar setiap tahunnya dibandingkan akibat segala bentuk kekerasan, termasuk perang.

    Dalam laporan PBB yang menyoroti kebutuhan air bersih, Senin waktu setempat, bertepatan dengan peringatan Hari Air Se-dunia, menyebutkan sekitar 2 miliar ton air limbah -termasuk pupuk limpasan, kotoran dan limbah industri- keluar setiap harinya. Limbah bahan bakar menjadi penyebab utama penyebaran penyakit dan kerusakan ekosistem.

    UNEP, Badan Lingkungan Hidup PBB melaporkan sebanyak 3,7 persen dari semua kematian di dunia disebabkan oleh penyakit yang berkaitan dengan air. Jutaan kematian manusia disebabkan oleh air tercemar.

    Lebih dari setengah tempat tidur pasien di seluruh rumah sakit di dunia diisi oleh orang-orang yang menderita penyakit yang berkaitan dengan air.

    "Jika kita tidak dapat mengelola limbah, maka berarti akan lebih banyak lagi orang yang meninggal akibat penyakit yang ditularkan melalui air kotor," kata Direktur Eksekutif UNEP dan Wakil Sekretaris Jenderal PBB, Achim Steiner.

    Menurut laporan itu, setidaknya dibutuhkan sebanyak tiga liter air untuk memproduksi satu liter air mineral. Produk air kemasan yang konsumsi di Amerika Serikat membutuhkan sekitar 17 juta barel air bersih per tahun.

    UNEP menilai peningkatan pengelolaan air limbah di Eropa telah menghasilkan perbaikan lingkungan yang signifikan di benua itu. Namun, zona mati di laut masih tersebar di seluruh dunia. Zona mati adalah daerah yang kekurangan oksigen yang disebabkan oleh pencemaran.

    "Jika dunia internasional ingin mengembangkan kebersihan air agar manusia dapat bertahan hidup di planet ini yang sekarang dihuni 6 miliar manusia dan akan menjadi 9 miliar pada 2050, maka kita secara bersama-sama perlu lebih pintar dan cerdas bagaimana mengelola sampah, termasuk air limbah," kata Steiner.

    AP l BASUKI RAHMAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.