Cina Coba Hidupkan Lagi Tradisi Telanjang Penarik Perahu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Beijing - Sebuah perdebatan muncul di Cina karena adanya usulan untuk menghidupkan kembali kebiasaan bagi laki-laki telanjang yang bekerja sebagai penarik perahu, untuk menunjang kunjungan ke tempat wisata.

    Penasehat Politik Yao Benzhi menyarankan untuk mengembalikan budaya lokal itu untuk meningkatkan pariwisata di Taman Streaming Shennongxi di Provinsi Hubei, Cina.

    Yao bahkan menawarkan diri untuk menjadi yang pertama sebagai tukang perahu telanjang. Tapi ia dikritik dan diminta untuk mencari metode pertumbuhan ekonomi dengan cara yang lain daripada menjual martabat pengemudi perahu.

    Selama ini orang-orang datang dari jauh untuk melihat pengemudi perahu telanjang. Namun pada tahun 2000 lalu, usaha dan kebiasaan ini ditiadakan karena tradisi ini dianggap menyinggung perempuan dan anak-anak.

    Namun jumlah pengunjung tempat wisata tersebut benar-benar merosot tajam karena sekitar 1.000 pengemudi perahu diminta untuk mulai mengenakan celana.

    Liu Zhong, dari agen perjalanan Jiangshan mengatakan, "Banyak wisatawan datang ke sini untuk melihat penarik perahu telanjang dan mereka kecewa melihat mereka berpakaian."

    Namun, Xu Peng, wakil direktur Biro Wisata Badong, mengatakan tidak mungkin tradisi itu akan dipulihkan.

    "Kami sering menerima banyak keluhan dari wanita muda dan orang tua bahwa pengemudi perahu yang telanjang tidak baik untuk dilihat bagi mereka atau anak-anak mereka," katanya.

    Pensiunan tukang perahu Zhang Houbiao, 60, mengatakan tradisi untuk menarik tongkang dengan bertelanjang hanya dilakukan ratusan tahun lalu. "Tradisi bekerja telanjang ini dilakukan karena pakaian kami terbuat dari kain kasar yang mudah rusak dalam air," jelasnya.


    ANANOVA | HAYATI MAULANA NUR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.