Tujuh Anggota Al- Qaidah Tewas Di Filipina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Marinir Filipina mengamankan kamp pemberontak Abu Sayyaf di provinsi pulau Jolo di selatan Filipina, Senin, 21 September 2009.(AP Photo/Nickee Butlangan)

    Marinir Filipina mengamankan kamp pemberontak Abu Sayyaf di provinsi pulau Jolo di selatan Filipina, Senin, 21 September 2009.(AP Photo/Nickee Butlangan)

    TEMPO Interaktif , Manila – Sedikitnya tujuh orang anggota jaringan al-Qaidah Filipina tewas setelah diserbu pasukan marinir di pesisir pantai pulau Laminusa, bagian selatan propinsi Sulu, Filipina. Namun dalam serbuan yang berlangsung kemarin, marinir gagal menangkap tersangka teroris asal Malaysia yang telah lama diincar Amerika Serikat.

    Serbuan itu, seperti diberitakan hari ini, Senin (8/3), berhasil berkat dukungan data intelijen dari seorang anggota yang tertangkap lebih dulu dan pantauan tentara Amerika. Serangan ini sekaligus merupakan rangkaian serangan offensif yang dilancarkan pemerintah Filipina terhadap kelompok Abu Sayyaf dalam beberapa pekan ini. Termasuk serangan yang menewaskan seorang komandan tinggi Abu Sayyaf bulan lalu.

    Menurut panglima militer regional Rustico Guerrero, dari semua korban, dua di antaranya perempuan.

    Adapun teroris asal Malaysia yang sudah lama menjadi target, Zulkifli bin Hir yang juga dikenal sebagai marwan, berhasil melarikan diri bersama komandan Abu Sayyaf Abu Benhur. Keduanya diyakini kabur bersama anggota militan lainnya.

    “Mereka mungkin melarikan diri, tapi kami akan memburunya,” kata Brigadir Jenderal Guerrero. Dalam serangan itu, marinir berhasil menyita 15 senjata serbu yang ditinggalkan militan di sebuah gubuk.

    Sebelumnya Amerika menawarkan 5 juta dolar bagi siapa saja yang berhasil menangkap Marwan, seorang insinyur Malaysia yang dilatih Amerika. Dia dituduh oleh Manila terlibat dalam sejumlah serangan bom mematikan di Filipina itu.

    STRAITS TIMES | SUNARIAH


     



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.