Demokrasi Ditengah Kerasnya Pemilu Parlemen Irak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemilu di Irak. AP/Paul Sancya

    Pemilu di Irak. AP/Paul Sancya

    TEMPO Interaktif, Jakarta -Sejak 2003, pemilihan umum parlemen Irak yang kedua dinodai berbagai penyerangan yang memakan korban tewas hingga 35 orang. Dua gedung di Bagdad hancur, dan sejumlah ledakan mortir terjadi di beberapa kota besar serta wilayah lainnya di Irak.

    Meski demikian, menurut Perdana Menteri Irak Nouri Maliki, jumlah pemilih yang menggunakan haknya meningkat tajam, dan itu membanggakan dari segi demokratisasi. Bahkan Presiden Amerika Serikat Barak Hussein Obama memberi ucapan selamat atas tingginya partisipasi pemilih tersebut.

    "Hari ini, meski menghadapi banyak aksi kekerasan, masyarakat Irak telah melakukan langkah maju ditengah runtuhnya gedung-gedung di negaranya," ujar Obama kemarin (7/3). 

    Di wilayah barat provinsi Anbar misalnya, terdapat desa kecil di dekat kota Ramadi dengan jumlah partisipasi pemilih hingga 400 orang. Mereka pada pagi hari telah bersiap memberikan suaranya ke tempat pemungutan suara.

    Pergelaran pemungutan suara disana barat pesta. Perbincangan ringan, gelak tawa, bahkan canda anak kecil terdengar riuh disela pemungutan suara. Pada intinya, Obama senang bahwa tak ada aksi intimidasi dalam pergelaran tersebut. 

    Begitu pula di kota suci Najaf. Disana, suasana gembira mewarnai pergelaran pemungutan suara. Salah seorang siswa mata pelajaran bahasa Inggris di kota itu, Zaid Mirza mengaku senang dengan keadaan tersebut. "Ini adalah wajah baru perubahan," ungkapnya.

    BBC | ANGIOLA HARRY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.