Gelombang Sepuluh Meter Hantam Kapal Pesiar Terekam Kamera

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Barcelona - Sebuah rekaman video dramatis memperlihatkan gelombang besar setinggi lebih dari sepuluh meter menabrak sisi sebuah kapal pesiar di Mediterania.

     

    Rekaman video amatir itu menunjukkan kapal pesiar mewah itu terguncang-guncang sebelum gelombang rakasa menghajar sisi kapal. Pecahan kaca-kaca, puing-puing dan banjir air laut masuk ke ruang tunggu di Louis Majesty di kapal itu.

    Gelombang besar ini menewaskan dua penumpang, 14 orang luka dan memaksa kapal merapat di Barcelona untuk perbaikan. Sebagian besar wisatawan di kapal yang menampung 1.300 penumpang itu telah meminta untuk mengakhiri liburan pelayaran awal dan kembali ke negara asal mereka setelah tragedi itu.

    Seorang penumpang wanita Jerman menyatakan takjub dan kaget. "Ini adalah gelombang rakasa ... semua jendela hancur. Semuanya terjadi begitu cepat."

    Gambar yang direkam oleh seorang penumpang berteriak-teriak menunjukkan orang-orang yang melarikan diri. Air menerobos masuk melalui jendela dan kemudian menyapu ke ruang tunggu, menabrak perabotan. "Kami tidak tahu apa yang terjadi, jika ada yang mati atau terluka. Kami hanya akan kembali ke Barcelona," kata seorang penumpang Italia.

    Pihak rumah sakit di Barcelona Vall d'Hebron mengatakan, salah satu penumpang wanita berusia 64-tahun dalam kondisi serius. Sedang dari media Spanyol, melaporkan seorang wanita patah kakinya dalam kecelakaan itu.

    Juru bicara Louis Cruise, Michalis Maratheftis mengatakan tidak akan ada penyelidikan. "Ini adalah alami, fenomena yang tak terduga karena kita berbicara tentang tiga gelombang besar, lebih tinggi dari delapan meter, memukul kapal," katanya. "Ini bukan sebuah insiden yang kami bisa cegah, sehingga tidak akan ada penyelidikan."


    SKYNEWS| NUR HARYANTO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.