Tanah Longsor di Uganda, 85 Tewas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mencari korban tanah longsor di Bududa, Uganda (4/3).  AP/Stephen Wandera

    Warga mencari korban tanah longsor di Bududa, Uganda (4/3). AP/Stephen Wandera

    TEMPO Interaktif, Sejumlah tentara dan warga desa di sebelah timur Uganda sibuk menyelamatkan korban akibat tanah longsor yang menghantam tiga desa, 85 orang dinyatakan tewas.

    Tim penyelamat berusaha menembus kota Bubuda yang terisolasi dari jalan karena tertutup tanah menggunakan peralatan tangan untuk menyingkirkan lumpur dan gundukan tanah setelah kawasan tersebut ditimpa longsor, Senin malam waktu setempat.

    Presiden Uganda Yoweri Museveni mengunjungi daerah bencana dengan Helikopter, Rabu. Melalui pengeras suara dari helikiopter, Presiden memerintahkan warga desa agar menyelamatkan diri ke daerah aman dari bukit yang terkena longsor. Beberapa helikopter militer nampak menyelamatkan sejumlah warga desa korban bencana ke area berjarak 20 kilometer

    Pada kesempatan itu, Museveni mengatakan para warga yang tinggal tak jauh dari River Manafa diminta segera meninggalkan kawasan tersebut. Selain itu, dia menyalahkan para petani karena menggerus tanah sehingga air bah mudah naik ke daratan.

    Sementara itu, pejabat Palang Merah Uganda mengatakan kepada kantor berita AP, sedikitnya empat orang, Rabu, bisa diselamatkan. Tetapi sekitar 250 orang diperkirakan hilang. "Kami berharap bisa menemukan mereka, tapi rasanya sulit. Karena kami menggunakan alat seadanya sehingga sulit menemukan tubuh mereka yang terkubur lumpur," kata Kevin Nabutuwa.

    Malcom Webb, jurnalis Uganda, mengatakan kepada Al Jazeera ribuan orang turut membantu mencari korban yang terkubur lumpur. "Di sana ada sekitar 200 tentara dan puluhan tenda staf Palang Merah Uganda untuk membantu korban bencana." Dia menambahkan, "Tetapi hingga kini para relawan dan warga setempat masih terus menggali lumpur dengan peralatan tongkat, cangkul, dan sekop.

    Webb menjelaskan, peralatan berat tak mungkin masuk kawasan yang hanya bisa dijangkau dengan jalankaki selama dua jam dari jalan aspal terdekat karena hampir seluruh jalan tertutup tanah tebal.

    Peristiwa longsor terjadi, Senin malam, setelah hujan lebat selama tujuh jam di desa Nametsi dekat perbatasan Kenya, mengubur puluhan rumah, masyarakat yang terlalap tidur, dan binatang ternak. Menurut pejabat pemerintah setempat, desa tersebut dihuni 3000 warga.

    Uganda dan Kenya memiliki curah hujan cukup tinggi selama dua bulan. Sehingga negeri ini kerap dilanda banjir. Hujan lebat pernah terjadi di Uganda pada 2007. Akibat kejadian itu, memaksa 2000 orang mengungsi dan 50 ribu orang terkena dampak sosial. Kejadian ini menurut pejabat setempat merupakan musik hujan terburuk selama 35 tahun.

    AL JAZEERA | CHOIRUL




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.