Begini Cara Mossad Dapat Paspor Asli Jerman untuk Misi ke Dubai  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto paspor Michael Bodenheimer seperti yang dilansir polisi Dubai. Bodenheimer ternyata memiliki paspor asli Jerman. Yang palsu adalah data-data yang diberikan orang asal Israel itu untuk mendapat paspor Jerman. (Foto: Kepolisian Dubai)

    Foto paspor Michael Bodenheimer seperti yang dilansir polisi Dubai. Bodenheimer ternyata memiliki paspor asli Jerman. Yang palsu adalah data-data yang diberikan orang asal Israel itu untuk mendapat paspor Jerman. (Foto: Kepolisian Dubai)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Israel berulang-ulang menyatakan tidak ada bukti yang menyatakan bahwa pembunuh Mahmoud al-Mabhouh di Dubai adalah pihaknya. Tapi penelusuran majalah bergengsi Jerman, Der Spiegel, menunjukkan bahwa salah satu pembunuh terkait intelijen Israel.

    Salah satu anggota tim pembunuh al-Mabhouh, menurut polisi Dubai, bernama Michael Bodenheimer dengan paspor Jerman. Paspor itu ternyata asli diterbitkan Jerman pada pertengahan tahun lalu. Bodenheimer semula warga Israel. Ia baru tahun lalu menjadi warga Jerman setelah menyatakan diri bahwa orang tuanya asli Jerman.

    Bodenheimer datang ke kantor catatan sipil Koln pada pertengahan 2009 dengan buru-buru. Saat itu ia mengatakan bernama Michael Bodenheimer dan meminta dibuatkan KTP serta paspor.

    Orang ini mengaku sebagai warga Israel tapi sejak pertengahan Juni pindah ke Jerman. Ia pun memperlihatkan paspor Israel yang diterbitkan di Tel Aviv pada November 2008.

    Ia meminta paspor Jerman karena dalam konstitusi negara Eropa itu dinyatakan bahwa bekas warga Jerman, beserta keturunannya, berhak atas kewarganegaraan Jerman.

    Sebagai bukti bahwa orang tuanya Jerman, Bodenheimer membawa surat nikah orang tuanya. Menurut Bodenheimer, orang tuanya pergi dari Jerman karena takut dengan NAZI.

    Pada 18 Juni, KTP dan paspor Jerman itu kelar. Paspor itu yang digunakan Bodenheimer masuk Dubai dan setelah pembunuhan lenyap dengan menumpang pesawat terbang ke Hong Kong.

    Nah, menurut penelusuran der Spiegel, ternyata latar belakang ia mendapatkan paspor Jerman itu sangat mencurigakan. Saat meminta paspor, Bodenheimer menyebut alamatnya di sebuah apartemen di kawasan miskin Eigelstein Strasse, Koln.

    Di kawasan miskin ini, orang datang dan pindah terlalu sering. Sangat sempurna jika ingin tinggal di sini tapi tidak ada orang yang memperhatikan. Yang jelas, nama Bodenheimer tidak ada di deretan kotak pos apartemen. Warung pizza di bawah apartemen tidak mengenal namanya. Mungkin saja, Bodenheimer sama sekali tidak tinggal di sini.

    Saat meminta paspor Jerman itu, Bodenheimer menyatakan lahir pada 15 Juli 1967 di desa Liman dekat perbatasan Lebanon. Desa ini kecil, hanya berpenduduk sekitar 60 keluarga.

    Apakah benar ada keluarga Bodenheimer di desa kecil itu? Dengar ucapan salah satu penduduk desa, Baruch van Tijn, yang lahir dan tinggal di desa itu sampai pensiun. "Saya lahir di sini," kata van Tijn. "tapi saya tidak pernah mendengar nama Bodenheimer." Ia juga tidak mendengar ada salah satu penduduk desa yang pindah ke Jerman.

    Jadi, oke, Bodenheimer dipastikan tidak lahir di Liman seperti pernyataan saat meminta paspor Jerman.

    Selanjutkan data yang ia berikan menyatakan tempat tinggal terakhir sebelum ke Israel adalah kota Herzliya. Ini kota satelit Tel Aviv. Herzliya itu kawasan elit, tempat orang kaya dan diplomat tinggal. Alamat yang diberikan Bodenheimer adalah Jalan Yad Harutzim nomor 7.

    Alamat itu adalah sebuah bangunan bertingkat empat moderen. Di bagian bawah menjadi sebuah toko alat dapur modern. Apakah benar Bodenheimer, yang diyakini polisi Dubai bahwa ia 99 persen anggota Mossad, pernah tinggal di sana?

    Nah, di meja penerima tamu tertera 19 nama orang atau perusahaan yang tercatat di sana. Salah satunya Michael Budenheimer (Budenheimer atau Bodenheimer, dalam huruf Ibrahi yang ditulis Israel, adalah sama).

    Petugas keamanan mengatakan ia tidak tahu apakah ada orang yang bernama itu. Perusahaan yang menggunakan nama Michael Budenheimer, katanya, sudah pindah setengah tahun lalu. "Selalu berubah," katanya.

    Nah, nama perusahaan paling atas yang menyewakan gedung itu bernama "Top Office". Der Spiegel melacak di Internet. Top Office menyatakan menawarkan layanan perkantoran instan, termasuk kantor virtual. Jika kita ingin tampak memiliki perusahaan, ungkap Top Office, dalam 24 jam mereka bisa menyiapkan semua termasuk sekretaris yang menjawab telepon dan meja penerima tamu yang siap menerima paket.

    Wartawan Spiegel menelpun kantor Top Office. Seorang perempuan, yang mengaku bernama Iris, menerima telepon itu.

    Wartawan bertanya, "Nama lengkap?"

    "Tidak penting"

    "Anda tahu pria atau perusahaan bernama Michael Budenheimer?"

    "Ia mungkin pernah menjadi klien kami."

    "Anda tidak ingin memastikan siapa dia?" tanya wartawan lagi.

    "Mengapa?"

    "Karena namanya terkait insiden di Dubai dan pria dengan nama yang sama itu memberi alamat Anda sebagai tempat tinggal terakhirnya."

    "Kami sudah pindah enam bulan silam," kata si perempuan.

    "Anda ingin menyelidiki?"

    "Terimakasih telah menelpun. Selamat siang."

    Dua hari kemudian, nama Michael Budenheimer dan Top Office sudah dilepas dari dinding lobi gedung itu. Petugas keamanan tidak bisa menjelaskan siapa yang melepas nama itu.

    Diduga alamat itu palsu, untuk penyamaran agar Bodenheimer gampang mendapatkan paspor Jerman tahun lalu. Saat Bodenheimer meminta paspor Jerman, mungkin saja ada orang Kedutaan Besar Jerman di Israel melakukan pengecekan alamat. Dengan melihat nama Bodenheimer di dinding gedung itu, staf kedutaan mungkin sudah puas bahwa nama itu benar, bukan fiktif.

    Dan, mungkin sekali, Mossad lupa melepas papan nama di gedung itu sehingga Der Spiegel sempat mengeceknya.

    Patut diingat juga, alamat ini hanya berjarak sekitar satu kilometer dari kantor pusat Mossad.

    NURKHOIRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.