Soal Kepulauan Falkland, Amerika Latin Dukung Argentina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Argentina, Cristina Fernandez (kanan) diiringi Presiden Chili, Michelle Bachelet (kiri) saat pertemuan di Punta Arenas, Chili, (5/12). Kedua presiden ini memperingati 30 tahun kesepakatan sebagai dua negara yang menghindari perang. AP Photo/

    Presiden Argentina, Cristina Fernandez (kanan) diiringi Presiden Chili, Michelle Bachelet (kiri) saat pertemuan di Punta Arenas, Chili, (5/12). Kedua presiden ini memperingati 30 tahun kesepakatan sebagai dua negara yang menghindari perang. AP Photo/

    TEMPO Interaktif, Playa de Carmen - Negara-negara Amerika Latin dan Karibia, Senin, menyatakan mendukung klaim Argentina soal hak melakukan pengeboran minyak atas wilayah kepulauan di Atlantik yang selama ini dikuasi oleh Inggris.

    Pada pertemuan Rio Group di Meksiko diikuti 32 negara itu, Argentina mengutip pernyataan Presiden Meksiko Felipe Calderon, "Seluruh kepala negara yang hadir di sini memberikan dukungan atas hak Argentina terhadap wilayah yang saat ini dikuasai oleh Inggris." Namun Calderon tidak secara langsung menyebut masalah ini.

    Inggris dan Argentina cukup lama terlibat dalam perebutan kedaulatan Kepulauan Falkland, dalam bahasa Amerika Latin dikenal sebagai Las Malvinas. Bahkan kedua negara pernah terlibat perang terbuka 1982.

    Selama ini isu soal Kepulauan Falkland nyaris tak terdengar, tetapi sejak tersiar kabar ada rencana perusahaan minyal asal Inggris akan melakukan pengeboran minyak di sana, maka hawa panas permusuhan memuncak lagi.

    Perusahaan minyak Petroleum PLC, Senin, menyatakan akan memulai pengeboran minyak di area 100 kilometer sebelah utara Kepulauan Falkland mendapatkan tentangan dari Argentina. Sebab wilayah di selatan Atlantik itu diklaim milik Argentina dengan sebutan Las Malvinas.

    Sengketa atas Falkland sesungguhnya telah terjadi sejak abad 19, saat kepulauan tersebut dikangkangi oleh Inggris. Merasa memiliki hak, Argentina melakukan invasi ke kepulauan tersebut April-Juni 1982 sebelum Inggris mengambil kembali wilayah itu dengan serbuan militer.

    Untuk meredakan permusuhan, kedua negara sepakat memperbaiki hubungan diplomatik pada 1990 dan sepakat untuk tak memperpanjang masalah kepulauan tersebut. Tetapi kemarahan rakyat Argentina menyeruak kembali karena mereka khawatir kehilangan kekayaan atas minyak dan mineral yang terkandung di kedalaman laut di Kepulauan itu.

    Presiden Argentina Cristina Fernandez menolak atas rencana penempatan kapal-kapal Inggris di sana. "Kami tidak percaya dengan cara-cara seperti itu," ujarnya kepada para wartawan.

    AP | CHOIRUL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.