Serangan Udara NATO di Afganistan Membunuh 21 Penduduk Sipil  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP Photo

    AP Photo

    TEMPO Interaktif, Kabul - Setelah memakan korban warga sipil di Marjah akibat serangan membabi buta, kini serbuan udara NATO di selatan Afganistan terulang lagi membunuh sedikitnya 21 penduduk sipil. Insiden ini menambah jumlah korban sipil yang menjadi masalah sensitif di negerinya. Hal itu dikatakan Menteri Dalam Negeri Afganistan, Senin waktu setempat.

    Dalam sebuah pernyataan, NATO membenarkan sejumlah pesawat tempurnya dibantu pasukan patroli Afganistan, Ahad, melakukan pemboman di sebelah selatan Provinsi Uruzgan. Namun menolak kalau serangan tersebut melukai kaum perempuan dan anak-anak. NATO tak menyebutkan, bagaimana orang-orang sipil tersebut tewas. Untuk menyelidiki masalah tersebut, pemerintah Afganistan dan NATO membentuk tim investigasi. 

    Menurut juru bicara Menteri Dalam Negeri Zemeri Bashary, sejumlah pesawat tempur NATO, Senin pagi, menghantam tiga minibus yang sedang melakukan perjalanan di jalan utama tak jauh dari perbatasan Uruzgan dengan Provinsi Day Kundi. Dalam kendaraan tersebut terdapat 42 penumpang, "Semuanya sipil," ujar Bashary.

    Sejumlah anggota tim investigasi Afgnanistan, tambah Bashary, kini berada di tempat kejadian perkara. Mereka mengumpulkan 21 tubuh korban dan mencari bagian badan dua orang yang hilang. "14 lainnya terluka," tambahnya.

    "Kami sangat berduka atas hilangnya nyawa orang-orang tak berdosa," kata Komanda NATO Jenderal Stanley McChrystal. "Saya telah memberikan arahan yang jelas kepada seluruh pasukan bahwa keberadaan kita di sini adalah untuk melindungi orang-orang Afghanistan. Namun secara tidak sengaja membunuh atau melukai warga sipil, hal ini akan menggerogoti kepercayaan dan keyakinan mereka atas misi yang kita jalankan. Kami terpaksa harus bekerja keras meraih kepercayaan itu." Untuk itu, menurut pernyataan NATO, Jenderal McChrystal meminta maaf kepada Presiden Hamid Karzai atas insiden Ahad.

    Sebelumnya, Sabtu pekan lalu, Presiden Karzai menegur pasukan NATO karena tidak cukup bukti melindungi warga sipil. Pada pidato pembukaan sidang Parlemen Afganistan, Karzai meminta pasukan NATO bertindak ekstra hati-hati agar tidak jatuh korban sejak serbuan secara masif di selatan Marjah, kawasan yang dikuasai oleh Taliban. "Kami ingin tidak ada lagi korban sipil." ujarnya.

    AP | CHOIRUL



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.