Pratiwi Sudharmono Pertanyakan Kesiapan Lapisan Keramik Pesawat Ulang Alik Columbia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Mantan calon astronot putri Indonesia Dr. Pratiwi Sudharmono mempertanyakan kesiapan lapisan keramik pada pesawat ulang alik Columbia, yang meledak Sabtu (1/2) ketika kembali ke Bumi. Ini karena lapisan keramik itu berfungsi untuk mengatasi panas yang timbul akibat gesekan badan pesawat dengan atmosfer ketika memasuki orbit Bumi. Fungsi lapisan keramik ya hanya antisipasi panas ketika masuk orbit Bumi. Sementara usia pesawat sudah dipakai sejak tahun 1980an, kata Pratiwi Sudharmono kepada Tempo News Room melalui saluran telepon, Minggu (2/2). Pratiwi, yang pernah belajar di NASA Amerika, mengatakan bahwa dalam penerbangan pesawat ulang alik ada dua saat yang paling kritis, yaitu saat menuju luar angkasa, dan ketika pesawat kembali ke Bumi. Untuk menghadapi saat-saat yang kritis ini, lanjut dia, para astronot mendapatkan serangkaian pelatihan khusus. Tapi nggak ada persiapan untuk antisipasi ledakan semacam itu (Columbia) karena itu diluar kemampuan manusia, kata dia. Para astronot, lanjut dia, adalah orang yang terpilih secara ketat. Salah satu persyaratan untuk lolos adalah kemampuan untuk menghadapi tekanan yang sangat berat. Ada tes psikotes yang menyaring orang yang bisa ambil keputusan pada saat sangat darurat, kata dia. Namun, untuk kasus Columbia, lanjut dia hal itu hampir mustahil diantisipasi oleh para awak karena penyebab ledakan berasal dari luar. Kalo untuk antisipasi ledakan nggak ada, ujar perempuan berumur 51 tahun ini. Untuk itu, para astronot adalah orang-orang yang sudah memahami betul resiko profesi yang mereka jalani, hingga resiko terburuk seperti dalam kasus meledaknya Columbia. Dalam masa persiapannya, para astronot mendapatkan penjelasan mengenai semua hal mengenai pesawat dan misi yang mereka emban, Kita dikasih tahu semua mengenai struktur pesawat dan kemungkinan yang bisa terjadi, kata dia. Ruang dalam pesawat sendiri, tambah dia, bukanlah ruangan yang nyaman dan aman. Nggak ada tempat untuk lari, nggak ada, kata dia. Dalam kecepatan yang mencapai 20 ribu kilometer per jam, kata dia, para astronot berada ditempat duduknya masing-masing ketika memasuki bumi. Mereka juga telah mengenakan baju khusus, yang belum ada pada zaman astronot tahun 1980an. Namun ketika musibah terjadi seperti kasus Columbia, lanjut dia, mustahil para awak dapat menyelamatkan diri. Nggak mungkin pakai kursi pelontar dalam kecepatan seperti itu, kata dia. Budi Riza Tempo News Room

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.