Janda, Pacar si Janda, Wasiat Palsu, dan Warisan Rp 120 Triliun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP Photo/Kin Cheung

    AP Photo/Kin Cheung

    Tony ChanTEMPO Interaktif, Jakarta - Warisannya memang sangat besar, nilainya sekarang sekitar US$13 miliar (Rp 120 triliun). Sejak ia resmi dinyatakan meninggal pada 1999--setelah sembilan tahun hilang diculik--warisan taipan properti Teddy Wang dua kali menjadi rebutan di pengadilan dan dua kali melibatkan surat wasiat (yang diragukan) palsu.

    Kasus terakhir baru berakhir pekan ini. Tony Chan, ahli fengshui dari Hongkong yang belasan tahun menjadi pacar janda Teddy Wang, kalah di pengadilan dari Yayasan Amal Chinachem yang dipimpin ipar Teddy Wang.

    Tidak hanya kalah, Chan dituduh memalsukan surat wasiat janda Teddy, Nina Wang yang meninggal pada 2007, sehingga ia ditangkap.  "Ia diperkirakan terkait dengan kasus pemalsuan," kata seorang juru bicara polisi. 

    Kasus yang menyita perhatian Hong Kong ini mirip dengan kejadian sebelumnya, sesaat setelah Teddy Wang dinyatakan resmi meninggal pada 1999.

    Kematiannya butuh pernyataan resmi karena sejak 1990 Teddy Wang hilang setelah diculik. Tebusan sudah dibayar oleh Nina Wang tapi Teddy tetap tidak kembali. Bahkan tubuhnya juga tidak ditemukan.

    Sebelum penculikan 1990, Teddy pernah diculik pada 1983 dan dibebaskan dengan tebusan. Teddy sendiri memang memiliki banyak musuh karena dalam mengumpulkan uang dan membuatnya kaya raya lewat industri kimia dan properti, ia tidak ragu main kasar.

    Bahkan, saat ia diculik, sampai ada yang berkata agar polisi tidak berkonsentrasi mencari siapa yang ingin agar Teddy mati karena akan sulit. "Lebih mudah mencari siapa yang tidak ingin Teddy mati," kata salah satu orang.

    Yang jelas, Teddy hilang dan kemudian tidak jelas status hukumnya. Yang membutuhkan pernyataan resmi kematian sebenarnya bukan Nina Wang tapi ayah Teddy. Persoalannya sesederhana ini: setelah Teddy Wang hilang, bisnisnya dikendalikan oleh Nina sendiri.

    Nina memimpin Chinachem tanpa perlu perubahan data perusahaan dan meributkan siapa kepemilikan karena status suaminya sekedar berhalangan, tidak ada di tempat, bukan meninggal.

    Tapi ayah Teddy ingin status diperjelas karena urusan warisan. Jika status meninggal, maka urusan warisan mesti dibicarakan, tidak bisa dikuasai Nina Wang begitu saja seperti saat itu. Maka mulailah pertempuran di pengadilan antara Nina dengan mertuanya.

    Di pengadilan muncul beberapa versi warisan. Paling tua di awal 1960-an, berisi wasiat bahwa hartanya dibagi dua antara istrinya, Nina Wang, dengan ayahnya. Tapi wasiat ini sudah diganti dengan yang lebih muda dan itu yang diributkan.

    Menurut ayahnya, wasiat yang dipakai adalah dari  akhir 1960-an yang memberi seluruh harta pada dirinya. Nina Wang tidak mendapat warisan sedikitpun. Ini dibuat setelah Nina Wang diketahui berselingkuh.

    Nina Wang, yang marah, saat itu balik menyatakan bahwa mertuanya itu suka mengkonsumsi narkoba dan memiliki cewek simpanan.

    Nah, menurut Nina, ia memiliki surat wasiat  yang dibuat beberapa saat sebelumnya Teddy hilang diculik. Surat wasiat itu menyatakan seluruh harta warisan diberikan kepada Nina.

    Pengadilan awalnya memenangkan ayah Teddy. Tapi di Mahkamah Agung, keputusan menyatakan harga dimiliki penuh oleh Nina Wang. Keputusan itu diberikan pada 2005.

    Hanya dua tahun setelah keputusan diberikan, Nina Wang meninggal. Nah, sekarang, siapa yang memiliki harta itu?

    Di kamar Nina Wang ditemukan surat wasiat yang menyatakan bahwa harta diberikan kepada ahli fengsui langganan Nina Wang, Tony Chan. Keributan muncul karena  Yayasan Amal Chinachem, yang dipimpin adik Nina, juga menyatakan berhak atas warisan itu.

    Pengadilan kembali digelar untuk menentukan siapa yang berhak.

    Dalam sidang pengadilan, Tony Chan, yang memiliki istri dan sejumlah anak itu, menyatakan bahwa ia memang berselingkuh dengan Nina Wang. Di pengadilan ia mengatakan mulai berselingkuh dengan Nina Wang begitu istrinya hamil anak keempatnya.

    "Kami sudah bersama saat itu. Ia sudah memanggil saya sebagai suami," katanya di pengadilan.Tidak hanya itu, Chan mengatakan ia juga tidur di apartemen Nina Wang.

    Tony Chan sendiri, sebelum menjadi ahli fengshui dan kenal dengan Nina Wang, pernah berganti-ganti pekerjaan. Mulai dari bartender, pelayan restoran, wiraniaga mesin, peneliti pasar, sampai bisnis ekspor suku cadang komputer.

    Tapi keberuntungannya datang saat ia menjadi konsultan fengshui. Ia pernah menganjurkan salah satu klien untuk membakar uang betulan agar bisa beruntung.

    Meski demikian Chan mengakui bahwa teknik membakar uang itu bukan berdasarkan teknik fengshui asli. Ia mengatakan ide itu datang dari ayahnya yang sekarang sudah meninggal.

    Menurut Chan, ia mulai dekat dengan Nina setelah suaminya diculik. Konon, Chan menyatakan kepada Nina bahwa ia juga percaya bahwa Teddy Chan belum meninggal.

    Tapi apakah Nina kemudian mewasiatkan agar warisan diberikan kepada Tony?

    Nah, menurut pengadilan, surat wasiat itu palsu. Jadi, warisan jatuh ke yayasan amal dan Tony dipenjara.

    Kita tunggu saja apakah nanti masih ada babak rebutan warisan kembali.

    NURKHOIRI/TELEGRAPH/THE STANDARD


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.