NATO Dikecam Telah Tewaskan Penduduk Sipil

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP

    AP

    TEMPO Interaktif , Kunduz - Amerika mengecam ledakan truk tanker bahan bakar yang dibajak oleh Taliban di Afganistan utara pada hari Jumat. Pasalnya, NATO yang meluncurkan tembakan itu dan menewaskan 90 orang, termasuk lusinan pejuang Taliban dan warga sipil.

    trukBanyaknya korban akibat warga sekitar berkumpul untuk mendapatkan bahan bakar dari dua truk itu, itu papar pejabat Afganistan. Para pejabat NATO awalnya bersikeras bahwa tidak ada warga sipil di daerah itu ketika serangan terjadi sekitar pukul 2.30 waktu setempat.

    Namun, kepala aliansi Anders Fogh Rasmussen kemudian mengakui beberapa warga sipil telah meninggal. Serangan di Provinsi Kunduz utara kemungkinan akan meningkatkan kemarahan rakyat Afganistan atas jatuhnya korban sipil. Padahal komandan NATO Jenderal Stanley McChrystal telah menyatakan bahwa serangan udara sangat beresiko.

    Kekerasan telah meningkat di sebagian besar wilayah Afganistan sejak Presiden Barack Obama memerintahkan 21.000 pasukan Amerika berangkat ke Afganistan tahun ini. Langkah ini upaya mengalihkan fokus pimpinan perang melawan ekstremisme Islam dari Irak. Lima puluh satu tentara Amerika tewas di Afganistan pada bulan Agustus, bulan paling mematikan bagi pasukan Amerika di sana sejak invasi Amerika pada akhir 2001.

    Kunduz, merupakan daerah bekas basis Taliban. Dulunya daerah yang damai, sampai serangan pemberontak mulai naik awal tahun ini --kemungkinan karena daerah tersebut terletak di rute penyelundupan dari Tajikistan. Sebagian besar pertempuran di Afganistan musim panas ini berada di selatan dan timur, di mana pasukan Amerika dan Inggris beroperasi. Sedangkan Kunduz merupakan wilayah tanggung jawab Jerman.

    Tembakan udara terjadi sehari setelah Menteri Pertahanan Robert Gates memberi isyarat untuk pertama kalinya bahwa ia mungkin bersedia untuk mengirim lebih banyak pasukan - meskipun oposisi publik di Amerika Serikat bermunculan karena masalah perang ini.

    Ada 4.050 tentara Jerman di Afghanistan, dan jajak pendapat menunjukkan mayoritas Jerman menentang misi. Komandan Jerman yang memerintahkan serangan udara setelah kendaraan bahan bakar itu dibajak di dekat pangkalan mereka. Para pejabat mengatakan sebuah pesawat pengintai tak berawak dikirim ke lokasi sebelum serangan itu dan meyakinkan tidak ada warga sipil di daerah itu.

    Zabiullah Mujahid jurubicara Taliban mengatakan truk menuju dari Tajikistan untuk memasok pasukan NATO di Kabul. Ketika para pembajak mencoba untuk mengusir truk melintasi Sungai Kunduz, kendaraan menjadi terjebak dalam lumpur dan pemberontak membuka katup untuk membebaskan bahan bakar dan meringankan beban, katanya.

    Warga desa menyerbu truk-truk itu untuk mengumpulkan bahan bakar meskipun peringatan bahwa mereka mungkin akan ditembak dari udara, ungkap Mujahid. Dia juga mengklaim tidak ada pejuang Taliban tewas dalam serangan itu.

    Abdul Moman Omar Khel, anggota dewan provinsi Kunduz dan yang berasal dari desa tempat kejadian, mengatakan sekitar 500 orang dari masyarakat di sekitarnya menyerbu truk-truk setelah Taliban mengundang mereka untuk membantu mendapatkan bahan bakar.

    "Taliban memanggil warga desa sekitar, 'Ayo ambil bahan bakar gratis, '" katanya. "Orang-orang sangat lapar dan miskin."

    Dia mengatakan lima orang tewas dari satu keluarga, dan seorang pria yang ia tahu bernama Haji Gul Bhuddin kehilangan tiga putra.

    Gubernur Kunduz Mohammad Omar mengatakan 90 orang tewas, termasuk seorang komandan Taliban lokal dan empat pejuang Chechnya.

    Direktur rumah sakit Kunduz, Humanyun Khmosh, mengatakan belasan orang, termasuk 10 tahun anak laki-laki, sedang dirawat karena luka bakar. Banyak dari mayat-mayat itu terbakar dan warga desa mengubur beberapa dari mereka dalam kuburan massal.

    Presiden Afganistan Hamid Karzai telah mengkritik tajam perintah penembakan itu dan menuduh NATO menggunakan kekuatan yang berlebihan dalam perang melawan Taliban. "Target warga sipil tidak dapat diterima bagi kami," katanya.

    Mei lalu, pesawat tempur Amerika menyerang sasaran-sasaran militer di propinsi Farah barat, dan menewaskan sekitar 60-65 pemberontak. Amerika mengatakan 20-30 warga sipil juga tewas dalam serangan tersebut. Data berbeda dilansir Pemerintah Afganistan, yang mengatakan 140 warga sipil tewas.

    Di Kabul, wakil kepala misi PBB, Peter Galbraith, Jumat (4/9) mengatakan ia "sangat prihatin" oleh laporan mengenai korban sipil di Kunduz. "Langkah-langkah harus diambil untuk memeriksa apa yang terjadi dan mengapa serangan udara dilakukan dalam keadaan di mana sulit untuk menentukan dengan pasti bahwa masyarakat sipil tidak hadir," katanya, seraya menambahkan bahwa tim PBB akan dikirim ke Kunduz untuk menyelidiki.

    AP| NUR HARYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.