Badai Morakot Mengancam Posisi Presiden Taiwan Ma Ying-Jeo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/HO

    REUTERS/HO

    TEMPO Interaktif, Cishan - Presiden Taiwan Ma Ying-jeou, dan pemerintahannya sedang di bawah tekanan untuk menyelamatkan rakyatnya yang terkena badai Morakot. Sampai Jum'at ini, diperkirakan lebih dari 500 orang telah meninggal dalam banjir dan tanah longsor.


    morakotKorban dan partai oposisi mengatakan upaya untuk menyelamatkan orang-orang terlantar di kota dan desa sangat lambat. Beberapa desa terlihat rusak dan hancur dalam minggu ini, penduduknya berteriak-teriak menyebut nama presiden: Ma.

    Ma memberikan perkiraan korban tewas, melompat dari angka sebelumnya yang hanya lebih dari 100 orang, dalam pertemuan keamanan nasional. Pejabat mengatakan sekitar 300 orang mungkin telah meninggal dalam tanah longsor saat terjadi longsor di desa Hsiao Lin.

    Peningkatan tekanan kepada Ma, yang telah meningkatkan hubungan dengan Beijing sejak menjabat lebih dari satu tahun lalu, juga bisa menurunkan dukungan Partai Nasionalis (KMT) dalam Pemilihan Desember.

    "Sebagai salah satu korban aku katakan ikut pemilu untuk anda (Ma), tetapi sekarang saya tidak dapat menemui anda'," kata Lin Chong-pin, profesor di Universitas Tamkang di Taipei. "Jadi kepuasan kami drop dengan kinerja anda.”


    Morakot telah menyebabkan sekitar 30 juta dolar Taiwan atau sekitar Rp 9 Triliun, untuk kerugian di bidang pertanian dan rekontruksi infrastruktur bisa mencapai 120 miliar dolar Taiwan. Dana ini sama nilainya saat pemerintah mengeluarkannya setelah gempa 1999 yang menewaskan 2.400 orang.


    REUTERS| NUR HARYANTO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.