Hossein Mousavi: Ahmadinejad Berubah Jadi Arogan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Ben Curtis

    AP/Ben Curtis

    MousaviTEMPO Interaktif, Teheran: Pengamat Barat menyebutnya “Ahmadinejad tanpa amarah”. Pendukungnya menjulukinya “Obama dari Iran”. Dialah Mir Hossein Mousavi, Perdana Menteri Iran di masa perang Iran-Irak, yang berlaga dalam pemilihan umum Iran pekan lalu.  Mousavi disebut  salah satu kandidat reformis yang disebut-sebut bisa menggoyang dominasi Ahmadinejad.

    Dukungan terhadap laki-laki kelahiran Khameneh, Azerbaijan Timur, Iran, 68 tahun silam ini mengalir antara lain karena ia dinilai mampu mengusung agenda perbaikan ekonomi, pemberantasan korupsi, serta reformasi politik dan sosial, termasuk memberikan porsi yang lebih besar bagi keterlibatan perempuan dalam berbagai bidang. Apalagi, semasa menjabat perdana menteri pada periode 1980-1988, Mousavi dikenal sebagai tokoh jujur, sederhana, dan prorakyat.

    Kamis pekan lalu, sehari sebelum pemilu, wartawan Tempo Angela Dewi mewawancarai pria yang berprofesi sebagai arsitek dan pelukis ini lewat saluran telepon internasional. Ia menjawab sejumlah pertanyaan, termasuk alasannya menantang Ahmadinejad, sikapnya terhadap Amerika, serta pengaruh kedekatannya dengan Khomeini.

    Kalangan reformis menyebut Anda “Obama dari Iran”, dan Anda memanfaatkan isu perubahan ala Obama dalam kampanye.
    Ya (tertawa pelan)…. Apa salahnya terinspirasi oleh perubahan yang menuju ke kebaikan bagi semua? Saya mengusung slogan: satu pemilu untuk seluruh rakyat Iran. Perubahan menuju perbaikan, dari mana pun datangnya gagasan itu, adalah hal positif.

    Termasuk soal mengerahkan istri Anda sebagai juru kampanye andal?
    Dia memang lebih jago dalam membius massa daripada saya. Isu perempuan yang kami kedepankan harus diikuti contoh nyata. Saya ingin menekankan bahwa keberhasilan saya di dunia politik sejalan dengan kehidupan pribadi saya. Istri saya tahu itu.

    Anda sudah absen selama hampir 20 tahun dari dunia politik. Mengapa kini kembali lagi?
    Mantan presiden Khatami, yang juga sahabat baik saya, menjadi penyokong saya untuk kembali ke dunia yang membesarkan saya ini. Dia bilang inilah saatnya Iran perlu perubahan. Iran perlu politik yang dibangun untuk menyejahterakan rakyat, bukan politik yang membuat Iran menjadi negara yang dimusuhi dunia, melarat, terkurung, dan tersiksa. Sudah lama rakyat Iran menunggu kembali ke masa kejayaannya.


    Menurut Anda, Ahmadinejad telah gagal. Bukankah dia didukung kalangan konservatif yang notabene kaya raya dan ditopang ekonomi yang kuat?

    Ketika kalangan konservatif naik memimpin negeri ini, banyak orang percaya Iran kembali memiliki harga diri, karena pada saat itu musuh bersama yang kami hadapi adalah pihak Barat yang menjadikan Iran sebagai kekuatan buruk yang merusak dunia. Kami memang bangkit dan menikmati masa keemasan, tapi lama-kelamaan pemerintah berubah menjadi pusat seluruh arogansi, tipu muslihat, dan praktek ketidakadilan. Kaum eksekutif diwakili orang-orang korup, pertumbuhan ekonomi melambat, dan bertambah parah dengan krisis ekonomi. Bagaimana mungkin seorang presiden seperti Ahmadinejad bisa berbohong kepada masyarakat soal kondisi ekonomi? Presiden yang bicara dua dikali dua adalah lima.

    Jika Anda menang, apa yang akan Anda benahi pertama kali?
    Yang jelas, ekonomi menjadi titik perhatian saya. Ada 45 juta pemilih yang menyerahkan nasibnya kepada pemerintah mendatang. Kita tak bisa main-main dengan nasib buruh, rakyat miskin yang dirugikan dengan isolasi ekonomi dunia Barat, dan kalangan pekerja yang hidupnya tak kunjung sejahtera.

    Soal hubungan dengan Amerika?
    Dengan Barack Obama sebagai presiden, saya melihat ada harapan. Tapi tentu saja dengan prinsip yang jelas, yaitu jika apa yang ia katakan sesuai dengan apa yang ia lakukan. Tak ada masalah dengan keinginan dan tekad baik untuk duduk berunding. Kami percaya selalu ada jalan menuju perbaikan.

    Soal Israel?
    Untuk soal itu, saya tak mau berdebat. Sebagai muslim, saya sudah menekankan, kami tak bisa menerima berdirinya negara Israel di atas penderitaan jutaan warga Palestina. Mereka tak mendirikan negara, mereka mencaplok.

    Tapi Anda pernah berbicara soal simpati terhadap holocaust?
    Itu lain soal. Pemusnahan rakyat sipil tak berdosa, siapa pun pelakunya, tak bisa dibenarkan.

    Soal nuklir yang jadi ganjalan?
    Begini saja, mari kita lihat sama-sama dengan jernih. Pengembangbiakan senjata dan teknologi nuklir itu dua hal berbeda. Jangan mencampuradukkan keduanya. Siapa pun yang bisa berpikir tanpa bias kepentingan politik pasti bisa melihat nuklir untuk kemajuan teknologi itu bukan omong kosong. Amerika dan Barat juga tahu itu.


    Para pengkritik Anda bilang bahwa Anda konservatif berkedok reformis karena dulu menjadi pendukung Khomeini. Bagaimana Anda melihatnya?

    Mereka boleh saja bilang begitu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya kembali karena sedang berlangsung sesuatu yang buruk, yang akan menghancurkan rakyat Iran. Jadi, bukan masalah bagi saya jika ada yang membawa-bawa soal kedekatan masa lalu saya dengan rezim Khomeini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.