Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Singapura Pertimbangkan Hukum Cambuk untuk Pria Lansia, Terutama Predator Anak

Reporter

image-gnews
Iklan

TEMPO.CO, JAKARTA--Presiden Singapura Halimah Yacob meminta agar aturan yang mengecualikan pria di atas 50 tahun dari hukum cambuk segera dicabut.

Baca juga: Siksa PRT asal Myanmar Hingga Tewas, Wanita Singapura Dihukum 14 Tahun Penjara

Seperti dilansir Channel NewsAsia pada bulan lalu, presiden perempuan itu menegaskan dirinya berharap agar pria lansia dikecualikan dari aturan yang telah berlaku selama beberapa dekade, terutama bagi pelaku perkosaan dan pemerkosa anak-anak.

Sarannya mendapat reaksi beragam, mulai dari presiden Law Society of Singapore yang setuju dengannya, hingga penolakan Association of Women for Action and Research (AWARE) yang menentang hukuman fisik.

Dalam sebuah postingan Facebook, Halimah mengungkapkan kekecewaannya pada serentetan kasus pemerkosaan anak-anak yang “sangat memuakkan” baru-baru ini di rumah mereka sendiri. Dia mengatakan itu "ironis" bahwa pelaku bisa lolos dari rasa sakit yang disebabkan oleh hukuman cambuk.

“Beberapa pelaku melakukan pemerkosaan saat mereka berusia di bawah 50 tahun, tetapi kejahatan mereka baru dilaporkan setelah mereka berusia 50 tahun,” kata Halimah.

Jika seorang penjahat tidak dapat dicambuk karena usianya, pengadilan dapat mengenakan hukuman penjara tambahan hingga 12 bulan sebagai pengganti hukuman cambuk.

CNA melihat mengapa undang-undang tersebut diperkenalkan dan bagaimana undang-undang tersebut dapat diubah jika peninjauan dilakukan.

Mengapa batas usia hukuman cambuk ditetapkan pada pria usia 50 tahun? Pengacara dan ahli di Singapura mengatakan batas usia hukuman cambuk kemungkinan diperkenalkan selama era kolonial di akhir 1800-an ketika harapan hidup mendekati 50 tahun - jauh lebih pendek daripada di zaman modern.

Undang-undang Singapura tidak secara khusus memberikan alasan untuk batas usia tersebut. Harapan hidup rata-rata saat lahir untuk penduduk Singapura adalah 83,5 tahun pada tahun lalu, menurut Departemen Statistik Singapura.

Adrian Wee dari Characterist LLC mencatat bahwa batas usia diabadikan dalam KUHAP, yang diwarisi Singapura dari Inggris.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Batas usia kemungkinan besar diterapkan karena "prinsip umumnya adalah bahwa kita tidak memukuli orang tua dan lemah", yang akan kejam dan menyebabkan "jumlah penderitaan yang tidak proporsional", katanya.

Pengacara kriminal Josephus Tan dari Invictus Law Corporation menambahkan bahwa usia 50 tahun mungkin dianggap hampir tua pada saat itu.

"Bagaimanapun, ini tidak terjadi sekarang di mana harapan hidup rata-rata jauh lebih lama," katanya. "Selain itu, usia 50 tahun dalam konteks sekarang tidak lagi dianggap tua dan banyak orang di usia ini masih sehat secara fisik dan menjalani gaya hidup aktif."

Tan juga merujuk pada Bagian 331 KUHAP, yang menyatakan bahwa hukuman cambuk hanya dapat dilakukan hanya jika petugas medis hadir dan menyatakan bahwa pelaku cukup sehat untuk dicambuk.

"Lagipula, hukuman cambuk yudisial (tidak seperti hukuman fisik yang biasa dilakukan di rumah atau sekolah) adalah proses yang menyakitkan dan sangat invasif," tambahnya.

Dosen hukum Alexander Woon mengatakan bahwa meskipun “tidak sepenuhnya jelas” mengapa batas usia tersebut diperkenalkan.

Hal itu tampaknya sebagai bagian dari ketentuan hukum yang melarang hukuman cambuk bagi pelanggar tertentu: Wanita, laki-laki berusia di atas 50 tahun pada saat dicambuk, terpidana mati yang hukumannya belum diringankan.

Woon, mantan jaksa yang sekarang mengajar di Singapore University of Social Sciences (SUSS), menambahkan: “Orang mungkin menduga bahwa pengecualian ini mencerminkan moralitas yang berlaku saat itu, karena tidak ada hubungan umum lainnya antara ketiga kategori orang ini.”

Baca juga: TKI Korban Salah Vonis Pengadilan Malaysia, Terlanjur Dihukum Cambuk

CHANNEL NEWSASIA

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Gardens by The Bay Singapura Ini Dinobatkan sebagai Taman Terpopuler di Instagram

1 hari lalu

Gardens by the Bay.
Gardens by The Bay Singapura Ini Dinobatkan sebagai Taman Terpopuler di Instagram

Gardens By The Bay di Singapura bukan yang paling indah, tapi menjadi taman bunga yang paling banyak difoto di Instagram.


8 Negara Paling Aman di Dunia, Didominasi Negara di Eropa

2 hari lalu

Negara paling aman di dunia, Islandia. Foto: Canva
8 Negara Paling Aman di Dunia, Didominasi Negara di Eropa

Berdasarkan laporan Global Peace Index, berikut ini deretan negara paling aman di dunia. Umumnya didominasi oleh negara-negara di Eropa.


Singapura Punya Taman Neraka tentang Kehidupan Setelah Mati, Yuk Intip Isinya

3 hari lalu

Turis berfoto di sebelah patung singa Merlion di kawasan pusat bisnis Singapura 6 Februari 2015. [REUTERS / Edgar Su]
Singapura Punya Taman Neraka tentang Kehidupan Setelah Mati, Yuk Intip Isinya

Taman Neraka di Singapura berisi pemandangan mengerikan tentang kehidupan pendosa setelah mati.


Mengenal JJ Lin, Penyanyi Singapura yang akan Konser di Jakarta

3 hari lalu

JJ Lin. Foto: Instagram/@jjlin
Mengenal JJ Lin, Penyanyi Singapura yang akan Konser di Jakarta

Penyanyi JJ Lin akan konser di Jakarta pada Sabtu, 24 Agustus 2024


Daftar Paspor Terkuat di Asia Tenggara, Indonesia Peringkat ke-6

3 hari lalu

Paspor adalah salah satu dokumen penting bagi warga negara yang akan masuk ke negara lain. Berikut ini daftar paspor terkuat di Asia Tenggara.  Foto: Canva
Daftar Paspor Terkuat di Asia Tenggara, Indonesia Peringkat ke-6

Paspor adalah salah satu dokumen penting bagi warga negara yang akan masuk ke negara lain. Berikut ini daftar paspor terkuat di Asia Tenggara.


Lembaga Antirasuah Seperti KPK di Beberapa Negara, Kerja Keras Berantas Korupsi

3 hari lalu

Ilustrasi KPK. TEMPO/Imam Sukamto
Lembaga Antirasuah Seperti KPK di Beberapa Negara, Kerja Keras Berantas Korupsi

Selain Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Indonesia, negara-negara lain juga memiliki lembaga penanganan korupsi.


Bos Sriwijaya Air Hendry Lie Tak Kunjung Ditahan, Kejagung Klaim Punya Alasan Kuat

4 hari lalu

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung RI Harli Siregar memberikan keterangan saat konferensi pers pengembangan kasus korupsi Timah yang merugikan negara keuangan negara sebesar 300 triliun di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Kamis, 13 Juni 2024. Kejakssaan Negeri Jakarta Selatan menerima pelimpahan tahap 2 perkara dugan korupsi pengelolahan tata niaga timah yang melibatkan 10 tersangka dan sejumlah barnag bukti. TEMPO/ Febri Angga Palguna
Bos Sriwijaya Air Hendry Lie Tak Kunjung Ditahan, Kejagung Klaim Punya Alasan Kuat

Hendry Lie diketahui telah mangkir dua kali dari panggilan penyidik Jampidsus Kejagung.


7 Pengalaman Baru yang Bisa Coba saat Berlibur ke Singapura

8 hari lalu

Surf Arena di Trifecta Singapura (trifectasingapore)
7 Pengalaman Baru yang Bisa Coba saat Berlibur ke Singapura

Dari Trifecta Singapura hingga Minion Land, wisatawan bisa segera merasakan pengalaman baru saat berlibur ke Singapura.


Kerap Mangkir dari Panggilan Kejagung, Tersangka Korupsi Timah Hendry Lie Diduga di Singapura

8 hari lalu

Hendry Lie. (Dok. PT. Tinindo Inter Nusa (TIN))
Kerap Mangkir dari Panggilan Kejagung, Tersangka Korupsi Timah Hendry Lie Diduga di Singapura

Bos Sriwijaya Air, Hendry Lie, dikabarkan tengah berada di Singapura dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Mount Elizabeth.


Singapura Siap Akui Negara Palestina, Syaratnya Harus Menerima Keberadaan Israel

10 hari lalu

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Israel, 19 Maret 2024. (Foto: Kementerian Luar Negeri)
Singapura Siap Akui Negara Palestina, Syaratnya Harus Menerima Keberadaan Israel

Singapura siap untuk mengakui Palestina sebagai negara jika memiliki pemerintahan efektif yang menolak terorisme dan menerima hak keberadaan Israel