Xi Jinping Beri Sinyal Tetap Dekat dengan Kim Jong Un

Reporter

Editor

Sapto Yunus

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyambut Presiden Cina Xi Jinping yang tiba di Bandara Internasional Pyongyang, Korea Utara, 21 Juni 2019. Lawatan Xi Jinping ini merupakan yang pertama kali dilakukan oleh pemimpin Cina ke Korea Utara dalam 14 tahun terakhir, dan merupakan yang pertama kali juga dilakukan oleh Xi sejak ia berkuasa tahun 2012. KCNA via REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden China Xi Jinping dilaporkan bersedia bekerja sama dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam menciptakan perdamaian dunia. Beijing diklaim tetap dekat dengan Pyongyang di tengah ketegangan di semenanjung Korea akibat uji coba rudal balistik antarbenua belum lama ini.

Baca: Retno Marsudi: Indonesia Ingin Membuat ASEAN Tetap Relevan

Kantor Berita Pemerintah Korea Utara KCNA, seperti dilansir Reuters pada Sabtu 26 November 2022, menyebutkan Xi mengatakan kepada Kim melalui pesan bahwa Beijing siap bekerja sama dengan Korea Utara untuk "perdamaian, stabilitas, pembangunan, dan kemakmuran kawasan dan dunia".

Xi disebut bersedia bekerja sama dengan Pyongyang karena "perubahan di dunia, waktu, dan sejarah terjadi dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya". KCNA menyatakan pesan dari Xi itu sebagai tanggapan atas ucapan selamat dari Kim setelah Kongres Partai Komunis China sekitar bulan lalu.

Pesan dari Xi muncul beberapa hari setelah Korea Utara menembakkan rudal balistik antarbenua (ICBM) dalam salah satu uji cobanya yang paling kuat. Pyongyang menyatakan akan menghadapi ancaman nuklir Amerika dengan nuklirnya sendiri.

Korea Utara telah melakukan peluncuran rudal yang memecahkan rekor dalam beberapa pekan terakhir dan kekhawatiran berkembang bahwa mereka sedang membangun uji coba nuklir ketujuh, yang pertama sejak 2017.

Beberapa hari sebelum peluncuran ICBM Korea Utara, Xi bertemu di sela-sela KTT G20 di Bali dengan Presiden Amerika Joe Biden. Saat rapat dengan Xi, Biden menyuarakan keyakinan bahwa Beijing tidak ingin melihat eskalasi lebih lanjut oleh Pyongyang.

Biden ingin China menggunakan pengaruhnya untuk membantu mengendalikan Korea Utara.

Peluncuran rudal pada 18 November 2022 diprediksi merupakan ICBM terbaru Pyongyang dengan jangkauan potensial untuk mencapai daratan Amerika Serikat. Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan terbuka mengenai peluncuran tersebut, dengan Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan India di antara 14 negara untuk mengutuk keras tindakan Pyongyang.

Seorang diplomat Barat mengatakan bahwa China dan Rusia telah memilih untuk tidak mencantumkan nama mereka dalam pernyataan hari Senin. Awal bulan ini, Amerika Serikat menuduh Beijing dan Moskow melindungi Pyongyang dari hukuman lebih lanjut.

Pada Mei lalu, China dan Rusia memveto upaya yang dipimpin Amerika untuk memperketat sanksi terhadap Korea Utara sebagai tanggapan atas peluncuran sebelumnya.

Pyongyang sudah berada di bawah berbagai sanksi internasional atas program rudal nuklir dan balistiknya. China menyumbang lebih dari 90 persen perdagangan bilateral negara miskin itu.

Baca: Indonesia Disarankan Gandeng India hingga Turki untuk Mengakhiri Perang di Ukraina

REUTERS | CNA






Negara Baltik dan Polandia Minta Atlet Rusia dan Belarusia Dilarang Tampil di Olimpiade 2024

4 jam lalu

Negara Baltik dan Polandia Minta Atlet Rusia dan Belarusia Dilarang Tampil di Olimpiade 2024

Latvia dan Ukraina mengancam memboikot Olimpiade 2024 jika atlet Rusia dan Belarusia tampil sementara perang berlanjut di Ukraina.


Duta Besar Rusia Heran Washington Tak Mau Gunakan Jalur Diplomatik untuk Dialog

7 jam lalu

Duta Besar Rusia Heran Washington Tak Mau Gunakan Jalur Diplomatik untuk Dialog

Duta Besar Rusia untuk Amerika dibuat bingung dengan sikap Washington karena memilih menyampaikan sebuah pesan untuk Rusia, tapi lewat Mesir.


Sergei Lavrov Komentari Pengiriman Bantuan Senjata ke Ukraina

7 jam lalu

Sergei Lavrov Komentari Pengiriman Bantuan Senjata ke Ukraina

Sergei Lavrov melihat Ukraina harus memenuhi keinginan negara-negara Barat yang berjanji akan memberikan Kyiv senjata-senjata jarak jauh


Austria Usir Empat Diplomat Rusia, Diduga Terlibat Spionase

9 jam lalu

Austria Usir Empat Diplomat Rusia, Diduga Terlibat Spionase

Austria pada Kamis 2 Februari 2023 mengusir empat diplomat Rusia karena melanggar perjanjian internasional


AS Unjuk Kekuatan, Korea Utara Ancam Jadikan Semenanjung Zona Perang Besar

16 jam lalu

AS Unjuk Kekuatan, Korea Utara Ancam Jadikan Semenanjung Zona Perang Besar

Korea Utara ancam ubah Semenanjung Korea menjadi "zona persenjataan perang besar dan zona perang yang lebih kritis" setelah AS gelar latihan perang


Israel Pertimbangkan Kirim Iron Dome ke Ukraina

18 jam lalu

Israel Pertimbangkan Kirim Iron Dome ke Ukraina

Israel mempertimbangkan mengirim sistem pertahanan udara ke Ukraina, termasuk Iron Dome yang selama ini diandalkan menangkis serangan roket Hamas


Zelensky Akui Rusia Catat Kemajuan dalam Pertempuran di Ukraina Timur

18 jam lalu

Zelensky Akui Rusia Catat Kemajuan dalam Pertempuran di Ukraina Timur

Zelensky mengakui situasi di garis depan di timur Ukraina menjadi lebih sulit setelah pasukan Rusia meningkatkan serangan dalam beberapa hari terakhir


Amerika Serikat Akan Setop Bantuan Militer Rusia ke Myanmar

18 jam lalu

Amerika Serikat Akan Setop Bantuan Militer Rusia ke Myanmar

AS mengintip peluang untuk membatasi kerja sama militer Myanmar dan Rusia. Washington menegaskan dukungan ke ASEAN.


Angka Aborsi di Rusia Turun

20 jam lalu

Angka Aborsi di Rusia Turun

Menteri Kesehatan Rusia mengumumkan angka aborsi di Rusia turun secara signifikan dalam satu dekade terakhir karena ada layanan konseling


Gara-gara Kerusuhan, Tambang Tembaga China di Peru Terancam Setop Produksi

1 hari lalu

Gara-gara Kerusuhan, Tambang Tembaga China di Peru Terancam Setop Produksi

Tambang tembaga Las Bambas milik China yang besar di Peru berpeluang menghentikan produksi pada minggu ini.