Indonesia Disarankan Gandeng India hingga Turki untuk Mengakhiri Perang di Ukraina

Reporter

Editor

Sapto Yunus

Presiden Joko Widodo berbincang dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin, Moskow, Rusia, 30 Juni 2022. Setelah mengunjungi Ukraina, kali ini Jokowi bertandang ke Rusia dalam upaya perdamaian kedua negara yang tengah berperang tersebut. Sputnik/Mikhail Klimentyev/Kremlin via REUTERS

TEMPO.CO, JakartaIndonesia dinilai tidak bisa menghentikan invasi Rusia ke Ukraina secara mandiri. Misi damai Jakarta untuk menjadi penghubung Moskow dan Kyiv disarankan harus melibatkan India hingga Turki.

Baca: Retno Marsudi: Indonesia Ingin Membuat ASEAN Tetap Relevan

Pengamat Internasional Universitas Airlangga Radityo Dharmaputra mengatakan kerja sama di antara Indonesia dan negara dengan kekuatan menengah untuk menyediakan meja perundingan bagi Rusia dan Ukraina cukup terbuka. Sebab, Indonesia dan India, misalnya, mendapat giliran jadi presidensi G20 secara berurutan sampai tahun depan.

"Jadi selama ini Turki jalan sendiri di satu isu, Uni Emirat Arab jalan sendiri, tapi isu lain. Indonesia jalan sendiri berusaha jadi jembatan antara Kyiv dan Moskow, kenapa tidak bersama-sama?" kata Radityo dalam Conference of Indonesian Foreign Policy think tank FPCI di Jakarta, Sabtu, 26 November 2022.

Agresi Rusia ke Ukraina dimulai sejak 24 Februari 2022. Barat mengecam Moskow dengan sejumlah paket sanksi ekonomi dan isolasi di panggung internasional.

Gempuran pasukan Rusia masih berlangsung. Perkembangan terkini beberapa wilayah Ukraina, termasuk Kyiv, kesulitan mendapat akses listrik karena pusat pasokan dibombardir Rusia.

Rusia menyebut invasi ke Ukraina sebagai operasi militer khusus untuk membebaskan penduduk di Donbas. Kremlin kerap membantah menargetkan warga dan infrastruktur sipil.

Presiden Joko Widodo mengunjungi Kyiv dan Moskow pada Juni 2022 dengan misi damainya untuk menjembatani kedua belah pihak. Walau tak menyebut secara eksplisit kata Rusia, Jokowi beberapa kali menyerukan perang segara dihentikan, termasuk saat KTT G20 di Bali pekan lalu.

Anggota Komisi I DPR RI Christina Aryani, yang juga menjadi pembicara di konferensi FPCI, mengatakan tidak ada yang tahu kapan invasi Rusia akan berakhir. Namun efek ekonomi dari perang yang sudah berdampak secara global mengharuskan Indonesia ikut berperan sebagai penengah.

Sementara jurnalis senior Bambang Harymurti menyoroti secara khusus ancaman dari perang nuklir sebagai hasil invasi Rusia. Dia menyebut Indonesia punya tanggung jawab moral menyelesaikan masalah kemanan ini karena Ukraina menjadi negara pertama yang mengusulkan agar isu kemerdekaan Indonesia dibahas dalam Dewan Keamanan PBB.

Radityo menyatakan, sebelum Ukraina dan Rusia duduk satu meja, agresi yang berlangsung harus dihentikan terlebih dahulu. Selain Ukraina dan Rusia, untuk menyelesaikan masalah keamanan di wilayah Eropa timur ini penting juga untuk melibatkan negara-negara pecahan Uni Soviet lainnya.

"Nah ini tantangan, mau berperan (menjembatani Rusia-Ukraina), atau menyelesaikan urusan sendiri yang sifatnya domestik?" ujar Radityo.

Baca: Kemlu RI Pastikan Tidak Ada WNI Tewas dalam Banjir Bandang di Jeddah Arab Saudi

DANIEL AHMAD






IMF Memproyeksikan GDP Rusia Tumbuh 0,3 Persen

8 jam lalu

IMF Memproyeksikan GDP Rusia Tumbuh 0,3 Persen

IMF memperkirakan GDP Rusia akan tumbuh sebanyak 0,3 persen pada tahun ini dan 2,1 persen pada 2024.


Misi Scholz Cari Dukungan untuk Ukraina ke Amerika Selatan Gagal

8 jam lalu

Misi Scholz Cari Dukungan untuk Ukraina ke Amerika Selatan Gagal

Misi Kanselir Jerman Olaf Scholz mencari dukungan untuk Ukraina ke Amerika Selatan tampaknya hanya bertepuk sebelah tangan.


Rusia Klaim Rebut Benteng Ukraina di Vuhledar

10 jam lalu

Rusia Klaim Rebut Benteng Ukraina di Vuhledar

Pasukan Rusia mengklaim menguasai sekitar 25 daerah di Wilayah Kharkiv, setelah menyerang dalam beberapa hari ini.


Sebelum Ada Pesawat, Bagaimana Jemaah Haji Indonesia Berangkat ke Tanah Suci?

12 jam lalu

Sebelum Ada Pesawat, Bagaimana Jemaah Haji Indonesia Berangkat ke Tanah Suci?

Jemaah haji Indonesia yang berangkat ke Tanah Suci sudah ada sejak abad 19 akhir. Mereka menggunakan kapal dagang.


NATO Terang-terangan Siap Perang dengan Rusia, Minta Korsel Bantu Ukraina

14 jam lalu

NATO Terang-terangan Siap Perang dengan Rusia, Minta Korsel Bantu Ukraina

NATO menyatakan siap melakukan konfrontasi langsung dengan Rusia di Ukraina.


Ditolak AS, Ukraina Minta Jet Tempur dari Prancis dan Polandia

15 jam lalu

Ditolak AS, Ukraina Minta Jet Tempur dari Prancis dan Polandia

Prancis dan Polandia tampaknya bersedia untuk menerima permintaan jet tempur dari Ukraina.


Perusahaan Gautam Adani, Adani Group, Diterpa Masalah hingga Merugi US$ 65 Miliar

15 jam lalu

Perusahaan Gautam Adani, Adani Group, Diterpa Masalah hingga Merugi US$ 65 Miliar

Adani Group sedang menjadi sorotan karena dituduh melakukan penipuan akuntansi. Perusahaan itu dimiliki oleh orang terkaya di Asia, Gautam Adani.


Rusia Peringatkan Dubes Baru AS soal Konsekuensi Kebijakan Konfrontatif

15 jam lalu

Rusia Peringatkan Dubes Baru AS soal Konsekuensi Kebijakan Konfrontatif

Lynne Tracy adalah wanita pertama yang menduduki jabatan Duta Besar AS untuk Rusia.


Perusahaan Australia Tawarkan Pembiayaan Motor Listrik Terjangkau di Indonesia

16 jam lalu

Perusahaan Australia Tawarkan Pembiayaan Motor Listrik Terjangkau di Indonesia

Perusahaan fintech Australia SkyCredit Group dilaporkan ingin masuk segmen pembiayaan motor listrik di Indonesia.


Politisi Prancis Sebut Zelensky Gila Minta Rudal hingga Jet Tempur Barat

19 jam lalu

Politisi Prancis Sebut Zelensky Gila Minta Rudal hingga Jet Tempur Barat

Zelensky meminta bantuan jet tempur dari Barat untuk melawan Rusia. Permintaan ini ditertawakan oleh seorang politisi Prancis.