Hadapi China, Militer AS Siap Kembali ke Teluk Subic Filipina setelah 30 Tahun

Reporter

Pangkalan angkatan laut baru milik AS yang dibangun di Subic Bay, Filipina. Kyodo

TEMPO.CO, Jakarta - Militer Amerika Serikat (AS) kemungkinan akan kembali ke pangkalan di Teluk Subic, Filipina. Langkah ini karena kekhawatiran AS atas meningkatnya kehadiran kekuatan maritim China, kata seorang pejabat tinggi badan lokal yang mengawasi zona pelabuhan bebas itu seperti dilansir Kyodo, Kamis.

Baca juga: Kamala Harris: Amerika Serikat Siap Bela Filipina di Laut Cina Selatan

Militer AS akan kembali ke Teluk Subic setelah 30 tahun meninggalkan daerah yang pernah menjadi pangkalan militer terbesar mereka di Asia. Bekas Pangkalan Angkatan Laut AS di Teluk Subic, yang menghadap Laut Cina Selatan, telah menjadi pelabuhan bebas yang ramai yang mempekerjakan sekitar 150.000 penduduk lokal dan dikelola oleh Otoritas Metropolitan Teluk Subic (SBMA).

Manila dan Washington telah bernegosiasi untuk menyiapkan lima lokasi lagi di negara Asia itu untuk membangun fasilitas militer AS dan menyiapkan senjata di bawah Perjanjian Peningkatan Kerja Sama Pertahanan (EDCA).

Ketua SBMA Rolen Paulino pada Rabu mengatakan bahwa dia akan "sangat terkejut" jika Teluk Subic tidak menjadi suatu lokasi dari EDCA itu saat "selama perang, dan pada waktu yang sangat penting".

Pernyataan itu disampaikan Paulino sehari sebelum peringatan 30 tahun keberangkatan Angkatan Laut AS dari pelabuhan yang telah dikuasainya selama hampir 94 tahun.

Serangkaian acara diadakan pada Kamis di pelabuhan untuk menandai HUT ke-30 Pendirian SBMA. Termasuk tampilan publik pesawat sipil dan helikopter Angkatan Laut Filipina di bandara Subic yang sekarang sedang diubah fungsinya untuk pengawasan dan pelatihan penerbangan.

Ditandatangani pada 2014, EDCA kemungkinan akan berlanjut melampaui periode 10 tahunnya, seperti yang ditunjukkan oleh minat baru Amerika Serikat dalam membangun pangkalan baru di Filipina dan pendanaan baru untuk meningkatkan situs-situs EDCA yang ada.

Paulino mengatakan ketegangan di Selat Taiwan dan meningkatnya permusuhan antara Amerika Serikat dan China menjadi perhatian. Paulino, mantan walikota Olongapo yang berdekatan dengan Subic, lebih suka pemerintah Filipina mempertahankan aliansi pertahanan dengan Amerika Serikat.

Dia menambahkan bahwa sebagian besar penduduk Olongapo bersifat "pro-Amerika" mengingat mereka telah hidup berdampingan dengan tentara AS dalam waktu yang sangat lama.

Pada 9 November lalu, Duta Besar AS untuk Filipina Mary Kay Carlson mengunjungi Teluk Subic dan galangan kapal yang diakuisisi oleh perusahaan swasta AS Cerberus Capital Management LP pada tahun ini. Angkatan Laut Filipina juga mulai menduduki sebagian galangan kapal sebagai pangkalan angkatan laut barunya.

Paulino yakin kunjungan Carlson memperkuat pentingnya Teluk Subic bagi Amerika Serikat. Seorang pejabat senior Filipina mengatakan dua perusahaan China ingin mengambil alih galangan kapal itu, tetapi AS telah turun tangan.

Filipina dan China memiliki klaim yang tumpang tindih di Laut Cina Selatan, yang merupakan jalur pelayaran yang vital dan kaya mineral yang dilalui perdagangan senilai US$3 triliun setiap tahunnya.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., Manila pada Kamis menulis catatan verbal ke China untuk mencari "klarifikasi" tentang pertemuan 20 November antara Angkatan Laut Filipina dan Penjaga Pantai China di dekat pulau Thitu yang diduduki Filipina. Thitu adalah sebuah wilayah perairan maritim yang diperebutkan.

Pihak berwenang Filipina mengatakan penjaga pantai China "dengan paksa" mengambil puing-puing yang menyerupai roket China yang diluncurkan pada Oktober.

Sebuah perahu karet milik Penjaga Pantai China mendekati sebuah kapal angkatan laut Filipina yang menarik puing-puing ke pulau itu dan dua kali berusaha memblokir jalan kapal. Sebelum akhirnya, awak kapal China memotong tali penarik puing dan mengambil objek yang diduga roket China.

Baca juga: AS Peringatkan China Tak Ganggu Filipina di Laut Cina Selatan

KYODO






AS dan Korea Selatan Latihan, Korea Utara Tembakkan 130 Peluru Artileri

13 jam lalu

AS dan Korea Selatan Latihan, Korea Utara Tembakkan 130 Peluru Artileri

Korea Utara menembakkan lebih dari 130 peluru artileri untuk merespons latihan militer Amerika Serikat dan Korea Selatan.


China Longgarkan Aturan Covid, di Shanghai Tes Corona Dihapus

19 jam lalu

China Longgarkan Aturan Covid, di Shanghai Tes Corona Dihapus

China mulai melonggarkan aturan soal Corona, namun kebijakan zero-Covid belum akan diambil.


AS: China Tetap Gunakan Vaksin Sendiri meski Tak Efektif Lawan Omicron

1 hari lalu

AS: China Tetap Gunakan Vaksin Sendiri meski Tak Efektif Lawan Omicron

Pemimpin China Xi Jinping menolak menggunakan vaksin Barat meskipun kasus Covid-19 sedang naik dan produk dalam negeri kurang efektif melawan Omicron


3 Rekor Tercipta Usai Belanda Singkirkan AS di Piala Dunia 2022

2 hari lalu

3 Rekor Tercipta Usai Belanda Singkirkan AS di Piala Dunia 2022

Berikut redaksi Tempo.co merangkum 3 rekor di balik kemenangan Belanda atas Amerika Serikat pada babak 16 besar Piala Dunia 2022:


Hasil Pertandingan Piala Dunia 2022: Belanda vs AS: Tim Oranye Lolos

2 hari lalu

Hasil Pertandingan Piala Dunia 2022: Belanda vs AS: Tim Oranye Lolos

Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2022 antara Belanda vs Amerika Serikat telah berakhir pada Sabtu malam WIB, 3 Desember 2022.


AS Masukkan China, Iran, dan Rusia sebagai Pelanggar Kebebasan Beragama

2 hari lalu

AS Masukkan China, Iran, dan Rusia sebagai Pelanggar Kebebasan Beragama

Menlu AS Antony Blinken mengatakan Amerika memberikan perhatian khusus kepada China, Iran, dan Rusia, di bawah Undang-undang Kebebasan Beragama.


China Longgarkan Pembatasan Covid setelah Warga Demo

3 hari lalu

China Longgarkan Pembatasan Covid setelah Warga Demo

Pembatasan Covid-19 di sejumlah lokasi di China mulai dilonggarkan menyusul demo besar-besaran di sejumlah kota.


Korban Penembakan SD Texas Trauma, Gugat Kolektif Otoritas AS Rp416 Triliun

3 hari lalu

Korban Penembakan SD Texas Trauma, Gugat Kolektif Otoritas AS Rp416 Triliun

Korban penembakan di sekolah dasar Texas mencari ganti rugi atas trauma yang dialami akibat serangan yang menewaskan 19 anak dan 2 guru


NATO Ingatkan Jangan Ada Ketergantungan Ekonomi pada China

3 hari lalu

NATO Ingatkan Jangan Ada Ketergantungan Ekonomi pada China

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg memperingatkan konsekuensi keamanan saat terlibat dengan kekuatan otoriter seperti China.


Sergei Lavrov: NATO Biang Kerok Ketegangan di Laut Cina Selatan

4 hari lalu

Sergei Lavrov: NATO Biang Kerok Ketegangan di Laut Cina Selatan

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menuduh NATO mengobarkan ketegangan di wilayah yang dekat dengan China.