Berselisih Soal Minyak, Pangeran: Arab Saudi dan Amerika Sekutu Solid

Presiden AS Joe Biden berbincang dengan Raja Salman bin Abdulaziz saat mengunjungi Al Salman Palace, Jeddah, Arab Saudi, 15 Juli 2022. Joe Biden akan mendorong produksi minyak yang lebih besar dari negara-negara OPEC, ketika ia bertemu dengan para pemimpin Teluk di Arab Saudi pekan ini. Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Energi Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, mengomentari hubungan negaranya dengan Amerika Serikat yang berselisih karena tidak sepakat mengenai pasokan minyak. Dia menyebut pihaknya lebih dewasa dalam menghadapi masalah ini.

Baca: Top 3 Dunia: Bom Kotor Rusia, Investasi Saudi, Jet Tempur Sukhoi Jatuh

Keputusan oleh kelompok produsen minyak OPEC+ yang dipimpin oleh Arab Saudi bulan ini untuk memangkas target produksi minyak memicu perang kata-kata antara Gedung Putih dan Riyadh. 

Hubungan erat Saudi-AS telah tegang oleh sikap pemerintahan Presiden Joe Biden atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada 2018 dan perang Yaman. Hubungan Riyadh yang berkembang dengan China dan Rusia juga memicu perhatian AS.

"Saya pikir kami karena Arab Saudi memutuskan untuk menjadi orang yang lebih dewasa dan membiarkan dadu jatuh. Kami terus mendengar Anda 'bersama kami atau melawan kami', apakah ada ruang untuk 'kami bersama rakyat Arab Saudi'?" kata Pangeran Abdulaziz di forum Future Investment Initiative (FII), dikutip dari Reuters, Rabu, 26 Oktober 2022.

Menteri Investasi Saudi Khalid al-Falih mengatakan sebelumnya bahwa Riyadh dan Washington akan mengatasi pertengkaran "tidak beralasan" mereka. Dia menyoroti hubungan perusahaan dan institusional yang sudah berlangsung lama.

"Jika Anda melihat hubungan dengan sisi masyarakat, sisi perusahaan, sistem pendidikan, Anda melihat institusi kami bekerja sama, kami sangat dekat dan kami akan mengatasi pertengkaran baru-baru ini yang menurut saya tidak beralasan," katanya.

Khalid mencatat Arab Saudi dan Amerika Serikat adalah "sekutu yang solid" dalam jangka panjang. Dia melihat punya hubungan "sangat kuat" dengan mitra Asia termasuk China, yang merupakan importir terbesar hidrokarbon Saudi.

Pemotongan OPEC+ telah menimbulkan kekhawatiran di Washington tentang kemungkinan harga bensin yang lebih tinggi menjelang pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat pada November. Demokrat berusaha mempertahankan kendali mereka atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat.

Biden berjanji bahwa "akan ada konsekuensi" untuk hubungan Amerika Serikat dengan Arab Saudi setelah langkah OPEC+ itu.

Putri Reema binti Bandar Al Saud, duta besar kerajaan untuk Washington, mengatakan dalam sebuah wawancara CNN bahwa Arab Saudi tidak berpihak pada Rusia dan terlibat dengan "semua orang di seluruh dunia".

"Tidak apa-apa jika tidak setuju. Kami pernah tidak setuju di masa lalu, dan kami pernah setuju di masa lalu, tetapi yang penting adalah mengakui nilai dari hubungan ini," katanya.

Reema menambahkan, banyak orang berbicara mengenai mereformasi atau meninjau hubungan kedua negara. Menurutnya itu adalah "hal yang positif" karena Arab Saudi "bukan kerajaan seperti lima tahun yang lalu." 

Baca juga: 25 Fakta Negara Arab Saudi, dari Balapan Unta sampai Gedung Tertinggi di Dunia

REUTERS






Raja Salman dan Pangeran MBS Memuji Terpilihnya Arab Saudi sebagai Tuan Rumah Piala Asia 2027

5 jam lalu

Raja Salman dan Pangeran MBS Memuji Terpilihnya Arab Saudi sebagai Tuan Rumah Piala Asia 2027

Raja Salman bertekad memberikan pengalaman sepak bola yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Khawatir Ancaman Cina, Filipina Berikan AS Akses Lebih Luas ke Pangkalan Militernya

8 jam lalu

Khawatir Ancaman Cina, Filipina Berikan AS Akses Lebih Luas ke Pangkalan Militernya

Cina menegaskan akses AS yang lebih luas ke pangkalan militer Filipina dapat mengganggu stabilitas regional dan meningkatkan ketegangan.


Picu Kebutaan dan Kematian, Obat Tetes Mata India Dilarang di Amerika Serikat

11 jam lalu

Picu Kebutaan dan Kematian, Obat Tetes Mata India Dilarang di Amerika Serikat

CDC Amerika Serikat menyebut obat buat India ini menyebabkan setidaknya 55 kasus kehilangan penglihatan permanen, rawat inap, dan satu kematian.


Cristiano Ronaldo Menjual Jet Pribadi untuk Membeli yang Lebih Besar

13 jam lalu

Cristiano Ronaldo Menjual Jet Pribadi untuk Membeli yang Lebih Besar

Gulfstream G200 custom milik Ronaldo hanya ada 250 unit di dunia.


AS Unjuk Kekuatan, Korea Utara Ancam Jadikan Semenanjung Zona Perang Besar

16 jam lalu

AS Unjuk Kekuatan, Korea Utara Ancam Jadikan Semenanjung Zona Perang Besar

Korea Utara ancam ubah Semenanjung Korea menjadi "zona persenjataan perang besar dan zona perang yang lebih kritis" setelah AS gelar latihan perang


Amerika Serikat Akan Setop Bantuan Militer Rusia ke Myanmar

18 jam lalu

Amerika Serikat Akan Setop Bantuan Militer Rusia ke Myanmar

AS mengintip peluang untuk membatasi kerja sama militer Myanmar dan Rusia. Washington menegaskan dukungan ke ASEAN.


Arab Saudi Resmi Terpilih Menjadi Tuan Rumah Piala Asia 2027

22 jam lalu

Arab Saudi Resmi Terpilih Menjadi Tuan Rumah Piala Asia 2027

Arab Saudi resmi terpilih menjadi tuan rumah Piala Asia 2027 dalam Kongres AFC pekan ini.


Amerika Serikat Tuding Rusia Langgar Perjanjian Kontrol Senjata Nuklir

1 hari lalu

Amerika Serikat Tuding Rusia Langgar Perjanjian Kontrol Senjata Nuklir

Amerika Serikat dan Rusia masih menyumbang sekitar 90 persen dari hulu ledak nuklir dunia.


Cerita 2 TKW Korban Wowon Serial Killer di Posko Cianjur, Rugi Rp 100 Juta dan Rp 288 Juta

1 hari lalu

Cerita 2 TKW Korban Wowon Serial Killer di Posko Cianjur, Rugi Rp 100 Juta dan Rp 288 Juta

Wowon Erawan alias Aki atau Wowon serial killer, 60 tahun, tersangka kasus pembunuhan berantai ternyata sering menebar teror kepada korbannya.


Survei: Warga Amerika Kecewa AS Jor-joran Bantu Ukraina

1 hari lalu

Survei: Warga Amerika Kecewa AS Jor-joran Bantu Ukraina

Sejumlah warga AS menyatakan kecewa pemerintahannya memberi banyak bantuan ke Ukraina untuk perang dengan Rusia.