WNI yang Masih Bertahan di Ukraina dalam Kondisi Aman

Reporter

Kantor Kementerian Luar Negeri RI di Jln. Pejambon, Jakarta. Sumber: Suci Sekar/Tempo

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Luar Negeri RI mengkonfirmasi tidak ada WNI yang terdampak pencaplokan empat wilayah Ukraina oleh Rusia. Aneksasi oleh Rusia baru-baru ini semakin meningkatkan ketegangan dalam perang Ukraina, yang sudah berlangsung selama hampir 8 bulan itu.

 
Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri RI Judha Nugraha menyebut saat ini terdapat 34 WNI yang memilih untuk tetap tinggal di Ukraina. Mereka tidak ikut saat dievakuasi ke Indonesia pada awal Maret lalu atau tak lama setelah invasi Rusia ke Ukraina dilancarkan.
 
"Alhamdulillah saat ini kondisi mereka masih aman, dan KBRI Kyiv stand by jika memang memerlukan bantuan," kata Judha saat jumpa pers virtual, Jumat, 7 Oktober 2022.
 
Judha menyatakan di antara puluhan WNI itu ada yang masih tinggal di wilayah konflik, tanpa menyebutkan detail lokasi tempat tinggal mereka. Namun dia menyebut WNI yang masih berada di Ukraina sebagian besar adalah WNI perempuan yang menikah dengan warga Ukraina, termasuk staf KBRI Kyiv.
 
KBRI Kyiv masih beroperasi penuh di Ukraina dan terus memonitor kondisi para WNI dengan terhubung melalui sarana komunikasi. Pada Maret 2022 lalu, Pemerintah Indonesia telah mengevakuasi total 133 WNI dari Ukraina.
 
Deklarasi pencaplokan empat wilayah Ukraina oleh Rusia pekan lalu memanaskan ketegangan dua negara yang sama-sama bekas Uni Soviet itu. Tak lama setelahnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengumumkan pengajuan jalur cepat keanggotaan blok militer Barat, NATO.

Presiden Rusia Vladimir Putin meresmikan aneksasi empat wilayah Ukraina pada Rabu, 5 Oktober 2022. Penandatanganan oleh Putin dua hari lalu merupakan tahap akhir dari proses legislatif; dua kamar parlemen Rusia yang telah meratifikasi rencana tersebut.

Reuters mewartakan, Putin mengesahkan undang-undang yang memungkinkan pencaplokan empat wilayah Ukraina - Donetsk dan Luhansk di timur serta Zaporizhzhia dan Kherson di selatan, memiliki dasar hukum untuk bergabung dengan Rusia.

Aneksasi itu ditolak mentah-mentah oleh Ukraina dan negara-negara Barat, yang menilainya sebagai tindakan ilegal. Amerika Serikat, Inggris dan Kanada pun mengumumkan sanksi baru ke Rusia.

Tensi perang Ukraina meninggi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa waktu lalu mengumumkan mobilisasi militer parsial untuk mendongkrak perang Ukraina. Warga Rusia banyak yang protes dan kabur dari tanah airnya karena menolak wajib militer.

Pertempuran di timur dan selatan wilayah Ukraina kini tengah berlangsung. Moskow dan Kyiv juga saling mengklaim pembangit listrik tenaga nuklir atau PLTN Zaporizhzhia, di salah satu wilayah yang dicaplok oleh Rusia

 
REUTERS

Baca juga: Rusia Tangkap Kepala PLTN Zaporizhzhia

Ikuti berita terkini dari Tempo.co di Google News, klik di sini.






AS Masukkan China, Iran, dan Rusia sebagai Pelanggar Kebebasan Beragama

14 menit lalu

AS Masukkan China, Iran, dan Rusia sebagai Pelanggar Kebebasan Beragama

Menlu AS Antony Blinken mengatakan Amerika memberikan perhatian khusus kepada China, Iran, dan Rusia, di bawah Undang-undang Kebebasan Beragama.


Sanna Marin Sebut Perang Ukraina Menunjukkan Eropa Terlalu Bergantung ke Amerika Serikat

8 jam lalu

Sanna Marin Sebut Perang Ukraina Menunjukkan Eropa Terlalu Bergantung ke Amerika Serikat

Perdana Menteri Finlandia Sanna Marin menyatakan, Invasi Rusia ke Ukraina telah menunjukkan Eropa terlalu bergantung pada Amerika Serikat untuk masalah keamanannya sendiri.


Myanmar Tak Diundang Lagi ke Bali Democracy Forum

19 jam lalu

Myanmar Tak Diundang Lagi ke Bali Democracy Forum

Kementerian Luar Negeri RI dengan tanpa menyebutkan alasannya, memastikan Myanmar tidak diundang ke Bali Democracy Forum pekan depan.


Swiss Bekukan Aset Rusia Senilai Rp 122 Triliun

22 jam lalu

Swiss Bekukan Aset Rusia Senilai Rp 122 Triliun

Di antara aset yang dibekukan itu adalah 15 unit properti milik lembaga dan individu asal Rusia yang masuk daftar sanksi


Sejumlah Pendeta di Ukraina Disidang karena Dianggap Dukung Rusia

23 jam lalu

Sejumlah Pendeta di Ukraina Disidang karena Dianggap Dukung Rusia

Sejumlah pendeta Kristen orthodox dari Kyiv Pechersk Lavra dibawa ke meja hijau atas tuduhan telah mengglorifikasi Rusia


Jerman Kirim 7 Tank Tua Gepard ke Ukraina

23 jam lalu

Jerman Kirim 7 Tank Tua Gepard ke Ukraina

Jerman mengirimkan 7 tank tua Gepard ke Ukraina musim semi ini, menambah 30 tank pertahanan udara yang sudah digunakan untuk melawan Rusia


Komisi Eropa Tak Mau Minta Maaf karena Ungkap Jumlah Korban Tewas di Perang Ukraina

1 hari lalu

Komisi Eropa Tak Mau Minta Maaf karena Ungkap Jumlah Korban Tewas di Perang Ukraina

Komisi Eropa merasa tidak perlu meminta maaf ke Ukraina terkait ucapan Ursula Von Der Leyen, yang mengklaim militer Ukraina kehilangan 100 ribu jiwa


2.000 Pejuang Dilaporkan Tewas Melawan Junta Myanmar

1 hari lalu

2.000 Pejuang Dilaporkan Tewas Melawan Junta Myanmar

NUG sebagai pemerintah sipil Myanmar yang diakui dunia, juga mendesak sekutu untuk memberikan bantuan militer seperti halnya Ukraina


Serbia Menunjuk Tokoh Pro-Rusia Menjadi Kepala Badan Intelijen

1 hari lalu

Serbia Menunjuk Tokoh Pro-Rusia Menjadi Kepala Badan Intelijen

Serbia menunjuk Aleksandar Vulin, mantan mendagri pro-Rusia sebagai kepala badan intelijen


Zelensky: Lebih dari 1.300 Tahanan Ukraina Dibebaskan sejak Dimulainya Perang

1 hari lalu

Zelensky: Lebih dari 1.300 Tahanan Ukraina Dibebaskan sejak Dimulainya Perang

Zelensky berbicara setelah pertukaran tahanan baru dengan pasukan Rusia dan pro-Rusia.