Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Miliarder Ini Sumbangkan Pendapatan Perusahaan Demi Atasi Perubahan Iklim

image-gnews
Kondisi Gletser Pers di dekat Gunung Piz Palue dan Piz Bernina, dekat resor Alpen Pontresina, Swiss, 22 Juli 2022. Sebagian besar gletser gunung dunia menyusut karena perubahan iklim. REUTERS/Arnd Wiegmann
Kondisi Gletser Pers di dekat Gunung Piz Palue dan Piz Bernina, dekat resor Alpen Pontresina, Swiss, 22 Juli 2022. Sebagian besar gletser gunung dunia menyusut karena perubahan iklim. REUTERS/Arnd Wiegmann
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Seorang miliarder asal California, Amerika Serikat, menyumbangkan perusahaannya untuk memerangi perubahan iklim dunia. Miliarder tersebut adalah Yvon Chouinard, pendiri perusahaan Patagonia yang berdiri hampir 50 tahun. Patagonia adalah perusahaan swasta yang berbasis di California, Amerika Serikat. Perusahaan ini menjual pakaian dan perlengkapan outdoor. 

Dalam siaran persnya, Rabu, 14 September 2022, Patagonia menyatakan pengumuman ini akan segera berlaku. Chouinard dan keluarganya akan mentransfer seluruh kepemilikan saham mereka menjadi dua entitas yang baru dibuat. Entitas tersebut akan memastikan bahwa nilai-nilai perusahaan akan terus dijunjung tinggi dan keuntungan Patagonia digunakan untuk memerangi perubahan iklim.

"Jika kami memiliki harapan untuk planet yang berkembang 50 tahun dari sekarang, menuntut kita semua melakukan semua yang kita bisa dengan sumber daya yang dimiliki," kata Chouinard dalam sebuah pernyataan, Rabu. "Alih-alih mengekstraksi nilai dari alam dan mengubahnya menjadi kekayaan, kami menggunakan kekayaan yang diciptakan Patagonia untuk melindungi sumbernya."

Bagian terbesar perusahaan yaitu sekitar 98 persen dari saham Patagonia, sekarang akan berada di bawah Holdfast Collective. Nirlaba ini akan memastikan bahwa keuntungan tahunan perusahaan, sekitar US$ 100 juta per tahun, akan digunakan untuk melindungi alam dan keanekaragaman hayati, mendukung komunitas yang berkembang dan memerangi krisis lingkungan.

Sisa saham perusahaan akan mendanai Patagonia Purpose Trust yang baru dibuat. "Dua tahun lalu, keluarga Chouinard menantang beberapa dari kami untuk mengembangkan struktur baru dengan dua tujuan utama," kata CEO Patagonia Ryan Gellert dalam siaran persnya. 

"Mereka ingin kami melindungi tujuan bisnis dan mengeluarkan lebih banyak dana untuk memerangi krisis lingkungan. Kami percaya struktur baru ini memberikan keduanya dan kami berharap ini akan menginspirasi cara baru melakukan bisnis yang menempatkan manusia dan planet pertama," ujarnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Patagonia telah lama dikenal sebagai perusahaan konservasionis. Perusahaan ini telah menyuarakan isu-isu hangat di luar bisnis perusahaan selama bertahun-tahun. Aktivisme perusahaan Patagonia adalah bagian besar dari identitas mereknya.

Pada 2017, perusahaan itu menggugat Presiden Donald Trump atas langkah pemerintahannya secara dramatis mengecilkan dua monumen nasional di Utah.  Perusahaan tersebut muncul sebagai salah satu penentang korporat paling vokal terhadap kebijakan lingkungan Trump.

Baca: Bahas Topik Remaja dan Perubahan Iklim, UI Menang Presentasi Terbaik di Korea Selatan

CNN 

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


AS Terapkan Larangan Visa bagi Pemukim Yahudi yang Lakukan Kekerasan di Tepi Barat

13 jam lalu

Tentara perbatasan Israel memukul demonstran Palestina saat melakukan unjuk rasa di Tepi Barat, 17 Oktober 2019. Unjuk rasa ini merupakan protes terhadap permukiman Yahudi di Tepi Barat. REUTERS/Mohamad Torokman
AS Terapkan Larangan Visa bagi Pemukim Yahudi yang Lakukan Kekerasan di Tepi Barat

Amerika Serikat mulai memberlakukan larangan visa bagi orang-orang yang terlibat dalam tindak kekerasan di Tepi Barat.


Biden Tak Yakin akan Maju Pilpres jika Trump Tidak Jadi Maju Pilpres 2024

14 jam lalu

Presiden AS Joe Biden menyajikan makanan untuk anggota militer dan keluarga mereka selama acara
Biden Tak Yakin akan Maju Pilpres jika Trump Tidak Jadi Maju Pilpres 2024

Joe Biden mengatakan dirinya tak yakin akan maju sebagai kandidat Pilpres AS 2024 jika Trump tidak mencalonkan diri saat itu.


Menghapus Bahan Bakar Fosil Masuk Draf Kesepakatan Akhir KTT Iklim COP28 Dubai

16 jam lalu

Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Raja Charles dari Inggris, dan para pejabat berpose untuk foto keluarga selama Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP28) di Dubai, Uni Arab Emirates, 1 Desember 2023. REUTERS/Amr Alfik
Menghapus Bahan Bakar Fosil Masuk Draf Kesepakatan Akhir KTT Iklim COP28 Dubai

Penghapusan bahan bakar fosil merupakan salah satu opsi yang tercantum dalam tabel COP28.


Ukraina Khawatir Kalah Perang jika Kongres AS Tolak Beri Bantuan Militer

17 jam lalu

Prajurit Ukraina mengambil bagian dalam latihan anti-sabotase, di tengah serangan Rusia ke Ukraina, di wilayah Chernihiv, Ukraina 5 Desember 2023. REUTERS/Valentyn Ogirenko
Ukraina Khawatir Kalah Perang jika Kongres AS Tolak Beri Bantuan Militer

Ukraina khawatir penundaan bantuan Amerika Serikat untuk Kyiv, yang saat ini sedang dibahas di Kongres, akan membuat mereka kalah dari Rusia.


Keffiyeh Laris Manis di AS, Meski Pemakainya Terancam Pelecehan

17 jam lalu

Seorang anggota keamanan mengambil keffiyeh Palestina dari seorang demonstran pro-Palestina saat penyalaan ke-91 Pohon Natal Rockefeller Center di New York City, AS, 29 November 2023
Keffiyeh Laris Manis di AS, Meski Pemakainya Terancam Pelecehan

Semakin banyak orang Amerika Serikat mengenakan keffiyeh, syal bermotif khas yang sangat erat kaitannya dengan warga Palestina.


Setelah 200 Tahun Perusahaan Senjata Api Remington Tutup Maret 2024, Ini profilnya

18 jam lalu

Senjata Remington. shutterstock.com
Setelah 200 Tahun Perusahaan Senjata Api Remington Tutup Maret 2024, Ini profilnya

Perusahaan senjata api Remington di Amerika Serikat telah berusia 200 tahun, mengumumkan akan tutup Maret 2024. Begini profil pabrikan senpi ini.


AS Kewalahan Hentikan Amuk Israel

18 jam lalu

Tentara Israel di dekat perbatasan Israel dengan Gaza, di Israel selatan, 4 Desember 2023. REUTERS/Amir Cohen
AS Kewalahan Hentikan Amuk Israel

Pemerintah AS mulai kewalahan menghentikan amuk Israel di Gaza, sementara menghentikan pasokan senjata bisa membuat musuh Israel lainnya bangkit.


Ganjar Usulkan Isu Perubahan Iklim Masuk Kurikulum Pendidikan, Ini Alasannya

18 jam lalu

Calon presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo didampingi Wakil Ketua Umum Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar Pranowo, TGB Zainul Majdi (kedua kiri) dan Ketua DPD PDIP NTB Rachmat Hidayat (kedua kanan) berolahraga di Car Free Day Jalan Udayana Mataram, NTB, Minggu, 3 Desember 2023. Pada rangkaian kampanyenya di NTB, Ganjar Pranowo dijadwalkan menghadiri pertemuan dengan Tim Pemenangan Daerah (TPD) dan mengunjungi Ponpes Qomarul Huda Bagu. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
Ganjar Usulkan Isu Perubahan Iklim Masuk Kurikulum Pendidikan, Ini Alasannya

Ganjar Pranowo mengusulkan agar isu perubahan iklim dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan.


10 Orang Terkaya di Indonesia Terbaru Desember 2023, Prajogo Pangestu Masih Peringkat Satu

19 jam lalu

Prajogo Pangestu. ANTARA
10 Orang Terkaya di Indonesia Terbaru Desember 2023, Prajogo Pangestu Masih Peringkat Satu

Daftar orang terkaya di Indonesia pada Desember 2023, Prajogo Pangestu masih yang pertama


Disebut AS Ancaman Terbesar, Cina Minta Tak Dianggap Musuh

22 jam lalu

Disebut AS Ancaman Terbesar, Cina Minta Tak Dianggap Musuh

Cina bereaksi keras terhadap pernyataan Menteri Perdagangan AS yang menyebut negara ini sebagai ancaman terbesar.