Salman Rushdie: Geger Buku, Fatwa Khomeini hingga Penusukan

Rushdie dipilih sebagai Distinguished Writer in Residence di Arthur L. Carter Journalism Institute of New York University, tepatnya pada tahun 2015. Pria kelahiran 1947 itu juga sempat mengajar di Universitas Emory dan terpilih dalam American Academy of Arts and Letters. Pada tahun 2012, ia menerbitkan buku Joseph Anton: A Memoir, kisah hidupnya usai kontroversi buku The Satanic Verses. Carsten Bundgaard/Ritzau Scanpix/via REUTERS

TEMPO.CO, New York City -Novelis Salman Rushdie tengah ramai diberitakan banyak media di seluruh dunia.

Hal itu ditengarai pasca aksi penusukan yang menimpanya oleh seorang pria kala hendak mengisi sebuah acara sastra di New York pada Jumat, 12 Agustus 2022 waktu setempat.

Novel The Satanic Verses

Sebelum perkara penusukan kemarin, Salman Rushdie sejatinya telah sering menerima ancaman semenjak menelurkan buku The Satanic Verses atau diterjemahkan Ayat-ayat Setan.

Hal itu disebabkan oleh banyaknya kecaman terhadap karya yang terbit pada 1988 tersebut karena dianggap menghina Islam dan Nabi Muhammad oleh sejumlah ulama.

Penerbit pertama The Satanic Verses, Viking Penguin, ditekan untuk menyetop distribusi novel. Pelarangan buku ini menyebar ke sejumah negara, terutama yang sebagian besar berpenduduk muslim seperti Bangladesh, Sudan, Sri Lanka, hingga Indonesia. 

Unjuk rasa anti-Rushdie pun menjalar ke berbagai penjuru, salah satunya terjadi di Inggris.

Melansir The Guardian, pada 2 Desember 1988, ribuan muslim di Bolton menggelar demonstrasi menentang The Satanic Verses. Aksi itu dilakukan dengan longmarch dari Masjid Zakariyya Jame ke pusat kota lalu dilanjut aksi pembakaran buku tersebut.

Mengutip The Independent, aksi serupa lainnya juga dilakukan sekelompok Muslim yang mengambil salinan novel The Satanic Verses lalu membakarnya di depan Balai Kota Bradford pada 14 January 1989.

Efek Fatwa Khomeini

Jessica Jacobson dalam bukunya 'Islam in transitions' menyebut pemimpin tertinggi Iran kala itu, Ayatollah Ruhollah Khomeini bahkan sampai menetapkan fatwa hukuman mati kepada pria bernama lengkap Sir Ahmed Salman Rushdie itu pada 14 Februari 1989. Pada 1998 atau satu dasawarsa sejak fatwa dikeluarkan, pemerintah Iran sempat menyatakan tidak lagi mendukung pembunuhan Rushdie.

Meski demikian, Ali Khamenei, suksesor Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada 2019 menegaskan bahwa fatwa tersebut masih berlaku. Ia bahkan bersikeras bahwa fatwa terhadap Salman Rushdie "kokoh dan tidak dapat dibatalkan". 

Keluarnya fatwa itu membuat Salman Rushdie mesti mendapatkan perlindungan dari pemerintah Inggris.

Selama lebih dari tiga dekade lamanya, yang semenjak fatwa untuk menghabisi dirinya  ia mesti menggunakan nama palsu, hengkang dari tanah kelahiran, dan memerlukan penjagaan aparat ketika menghadiri acara di luar rumah. Kontroversi Salman Rushdie ini bahkan sempat membuat hubungan diplomatik Inggris dan Iran kandas pada 7 Maret 1989.

HATTA MUARABAGJA

Baca juga: Salman Rushdie Ditusuk di New York, Ini Fakta-faktanya






Startup Chip PXW di Cina Dicurigai Kepanjangan Tangan Huawei

1 jam lalu

Startup Chip PXW di Cina Dicurigai Kepanjangan Tangan Huawei

Disebutkan, fasilitas manufaktur PXW berada di sekitar kantor pusat Huawei dan telah terpantau lewat citra satelit maupun catatan publik.


Pemimpin Tertinggi Iran Salahkan Barat atas Protes Mahsa Amini

5 jam lalu

Pemimpin Tertinggi Iran Salahkan Barat atas Protes Mahsa Amini

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyalahkan negara-negara Barat atas demonstrasi besar-besaran buntut kematian Mahsa Amini


Penulis Prancis, Annie Ernaux Memenangkan Hadiah Nobel Sastra 2022

8 jam lalu

Penulis Prancis, Annie Ernaux Memenangkan Hadiah Nobel Sastra 2022

Annie Ernaux merupakan perempuan ke-17 di antara 119 peraih Nobel Sastra asal Prancis pertama sejak Patrick Modiano pada 2014.


WNI di Iran Diminta Tak Ikut Unjuk Rasa Kematian Mahsa Amini

10 jam lalu

WNI di Iran Diminta Tak Ikut Unjuk Rasa Kematian Mahsa Amini

Orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat di seluruh Iran telah bergabung dalam protes kematian Amini, WNI diminta tak ikut-ikutan.


Biden Longgarkan Hukuman Kepemilikan Ganja, Ampuni Pelanggaran Sederhana

11 jam lalu

Biden Longgarkan Hukuman Kepemilikan Ganja, Ampuni Pelanggaran Sederhana

Biden akan mengampuni terpidana ganja yang ditahan. Mereka yang dijerat kasus kepemilikan ganja dalam jumlah kecil akan dibebaskan.


Penusukan di Las Vegas Strip, 2 Tewas dan 6 Terluka

12 jam lalu

Penusukan di Las Vegas Strip, 2 Tewas dan 6 Terluka

Seorang pria menikam delapan orang dengan pisau panjang di depan kasino di Las Vegas, AS, menyebabkan dua orang tewas


Yohannes Abraham Ditunjuk Jadi Duta Besar Amerika untuk ASEAN

19 jam lalu

Yohannes Abraham Ditunjuk Jadi Duta Besar Amerika untuk ASEAN

Duta Besar Amerika Serikat yang baru untuk ASEAN menyerahkan surat kepercayaannya kepada Sekjen ASEAN Dato Lim Jock Hoi


Dari Berbahan Kayu hingga Bertenaga Nuklir, Inilah Sejarah Penemuan Kapal Selam

1 hari lalu

Dari Berbahan Kayu hingga Bertenaga Nuklir, Inilah Sejarah Penemuan Kapal Selam

Tak banyak yang tahu bahwa kapal selam pada awalnya dirancang berbahan kayu dan bergerak dengan dikayuh oleh manusia.


Penculikan Misterius, Keluarga di California Ditemukan Tewas Termasuk Bayi 8 Bulan

1 hari lalu

Penculikan Misterius, Keluarga di California Ditemukan Tewas Termasuk Bayi 8 Bulan

Penculikan misterius terjadi pada korban yang merupakan satu keluarga. Keempat korban ditemukan tewas termasuk bayi yang masih berusia 8 bulan.


Taiwan Tak Mau Gantungkan Pertahanan ke Pihak Lain

1 hari lalu

Taiwan Tak Mau Gantungkan Pertahanan ke Pihak Lain

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menyatakan tidak akan menggantungkan nasib pertahanan wilayahnya kepada pihak lain.