TEMPO.CO, Jakarta - Terdakwa penyerang Salman Rushdie, Hadi Matar, mengaku tidak bersalah atas tuduhan percobaan pembunuhan dan penyerangan terhadap penulis novel The Satanic Verses atau Ayat-Ayat Setan, yang dinilai menghina Islam.
Pernyataan tidak bersalah itu dikemukakan Hadi Matar dalam pengadilan pada Sabtu, 13 Agustus 2022, kata pengacara yang ditunjuk pengadilan, Nathaniel Barone, seperti dikutip Reuters.
Sementara Rushdie tetap dirawat di rumah sakit dengan luka serius sehari setelah dia berulang kali ditikam pada penampilan publik di negara bagian New York, Jumat.
Rushdie, 75 tahun, akan memberikan kuliah tentang kebebasan artistik di Chautauqua Institution di barat New York ketika Matar menyerbu panggung dan menikam penulis kelahiran India, yang telah hidup dengan hadiah di kepalanya sejak novelnya "The Satanic Verses" 1988 mendorong Iran untuk mendesak umat Islam membunuhnya.
Matar, 24 tahun, berasal dari Fairview, New Jersey. Berdasarkan unggahan di akun media sosialnya, dia tampak bersimpati pada gerakan Syiah dan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran, meskipun tidak ada hubungan pasti yang ditemukan, menurut NBC New York.
IRGC adalah faksi kuat yang mengendalikan kerajaan bisnis serta pasukan elit bersenjata dan intelijen yang dituduh Washington melakukan kampanye ekstremisme global.
Diminta untuk mengomentari kasus ini, pengacara Matar, Barone, menolak berkomentar banyak, "Kami masih dalam tahap awal dan, terus terang, dalam kasus seperti ini, saya pikir hal yang penting untuk diingat adalah orang harus tetap berpikiran terbuka. Mereka perlu untuk melihat semuanya. Mereka tidak bisa hanya berasumsi sesuatu terjadi karena mengapa mereka berpikir sesuatu terjadi," katanya.
Sidang pendahuluan dalam kasus ini dijadwalkan pada hari Jumat pekan depan, katanya.
Matar lahir di California dan baru-baru ini pindah ke New Jersey, kata laporan NBC New York. Dia memiliki SIM palsu. Dia ditangkap di tempat kejadian oleh seorang polisi negara bagian setelah ditahukan oleh peserta diskusi.
Saksi mata mengatakan, dia tidak berbicara saat dia menyerang penulis. Rushdie ditikam 10 kali, kata jaksa selama dakwaan Matar, menurut Times.
Serangan direncanakan
Menurut jaksa, serangan itu direncanakan karena Matar melakukan perjalanan dengan bus ke Lembaga Chautauqua, tempat pendidikan sekitar 19 km dari tepi Danau Erie, dan membeli tiket yang memungkinkan dia untuk berbicara dengan Rushdie, demikian Times melaporkan.
Para peserta mengatakan tidak ada pemeriksaan keamanan saat peserta masuk ruangan, sehingga memungkikan Matar membawa senjata.
Penyelidik FBI memeriksa alamat terakhir Matar di Fairview, sebuah wilayah Bergen County tepat di seberang Sungai Hudson, pada Jumat malam.
Tidak ada kehadiran polisi yang terlihat pada hari Sabtu di rumah itu, sebuah rumah bata berlantai dua di lingkungan yang sebagian besar berbahasa Spanyol. Seorang wanita yang memasuki rumah menolak untuk berbicara kepada wartawan yang berkumpul di luar.
Rushdie, yang lahir dalam keluarga Muslim Kashmir di Bombay, sekarang Mumbai, sebelum pindah ke Inggris, telah lama menghadapi ancaman pembunuhan untuk "The Satanic Verses," yang dipandang oleh beberapa Muslim mengandung bagian-bagian yang menghujat. Buku itu dilarang di banyak negara dengan populasi Muslim yang besar.
Pada 1989, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin tertinggi Iran saat itu, mengeluarkan fatwa menyerukan umat Islam untuk membunuh penulis dan siapa pun yang terlibat dalam penerbitan buku tersebut karena penistaan. Hitoshi Igarashi, penerjemah novel itu dalam bahasa Jepang, ditikam sampai mati pada tahun 1991 dalam sebuah kasus yang masih belum terpecahkan.
Belum ada reaksi resmi pemerintah di Iran terhadap serangan terhadap Rushdie, tetapi beberapa surat kabar garis keras Iran memuji penyerangnya.
Organisasi Iran, beberapa terkait dengan pemerintah, telah mengumpulkan hadiah jutaan dolar untuk kepala Rushdie. Pengganti Khomeini sebagai pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, pada 2019 mengatakan bahwa fatwa itu "tidak dapat dibatalkan."
Ali Tehfe, walikota Yaroun di Lebanon selatan, mengatakan Matar adalah putra seorang pria dari kota itu. Orang tua tersangka beremigrasi ke Amerika Serikat dan dia lahir dan besar di sana, tambah walikota.
Ditanya apakah Matar atau orang tuanya berafiliasi dengan atau mendukung kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon, Tehfe mengatakan dia "tidak memiliki informasi sama sekali" tentang pandangan politik mereka.
Seorang pejabat Hizbullah mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok itu tidak memiliki informasi tambahan tentang serangan terhadap penulis Ayat-Ayat Setan itu.
Reuters