25 Tahun Malala Yousafzai: Hak Perempuan, Taliban dan Nobel Perdamaian

Malala Yousafzai, penerima Nobel perdamaian, saat pertemuan dengan remaja perempuan Complexo da Penha yang bekerja pada organisasi sepak bola Street Child United di Pantai Copacabana, Rio de Janeiro, Brasil, 11 Juli 2018. REUTERS/Ricardo Moraes

TEMPO.CO, Jakarta - Hari ini, tepat pada 12 Juli 1997 silam, merupakan kelahiran Malala Yousafzai, seorang aktivis muda yang vokal menyuarakan perjuangan dan hak-hak perempuan. Malala Yousafzai lahir di Kota Mingora, sebuah kota terbesar di Lembah Swat, Pakistan dari pasangan Ziauddin dan Tor Pekai Yousafzai. Nama Malala Yousafzai semakin dikenal ketika wanita ini menjadi peraih nobel untuk perdamaian dunia termuda.

Malala Yousafzai, Taliban dan Nobel Perdamaian

Malala Yousafzai merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ketika berusia sepuluh tahun, Malala Youfsafzai harus merasakan kekejaman Pasukan Taliban yang merampas haknya dan anak-anak perempuan untuk menempuh pendidikan. Bahkan, pada 2008, Pasukan Taliban menghancurkan sekitar 400 sekolah di Lembah Swat. 

Hal itulah yang menjadi Malala Yousafzai untuk melawan Taliban dengan mengkritiknya. Bersama dengan ayahnya, Malala Yousafzai pemberontakan terhadap Pasukan Taliban melalui pidato yang disampaikannya pada 2008 lalu, berjudul ‘Berani-beraninya Taliban mengambil hak dasar saya untuk menerima pendidikan’ 

Pada awal 2009, Malala mulai membuat blog secara anonim di situs berbahasa Urdu dari British Broadcasting Corporation (BBC). Malala Yousafzai menulis tentang kekejaman yang dirasakannya di bawah pemerintahan Taliban. Malala Yousafzai juga menuangkan keingananya untuk pergi sekolah dan mempertanyakan motif Pasukan Taliban atas tindakan kejinya itu. Malala menggunakan media untuk melakukan kampanye publiknya tentang hak-hak bagi anak perempuan Pakistan untukl bersekolah.  

Namanya semakin dikenal di seluruh Pakistan karena aktif menyuarakan tentang peberian akses pendidikan berkualitas gratis kepada gadis-gadis Pakistan. Aktivismenya menghasilkan nominasi untuk Hadiah Perdamaian Anak Internasional pada 2011. Pada tahun yang sama, dia dianugerahi Hadiah Perdamaian Pemuda Nasional Pakistan.

Akan tetapi, pada 9 Oktober 2012, Malala Yousafzai yang berusia 15 tahun ditembak oleh Taliban. Saat itu, Malala Yousafzai sedang perjalanan pulang dari sekolah bersama kawan-kawannya. Seorang pria bertopeng dan bersenjata menembakkan peluru ke kepalanya  hingga menyebabkannya koma.

Dikabarkan dari laman nobelprize.org, Malala Yousafzai mengalami pembengkakkan otak. Selama sepuluh hari, Malala Yousafzai mengalami koma setelah memeroleh perawatan intensif di Inggris. 
Pada 2013, Yousafzai dapat kembali bersekolah tetapi bukan di negara asalnya, melainkan di Inggris. Melansir malala.org, setelah sembilan bulan pasca peristiwa penembakan oleh kelompok Taliban, Malala Yousafzai berkesempatan memberikan pidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika usianya 16 tahun. 

Pada 2014, melalui Malala Fund, organisasi yang dirikan bersama ayahnya, Malala Yousafzai melakukan perjalanan ke Yordania untuk bertemu dengan pengungsi Suriah, Kenya, dan Nigeria memberikan dukukan kepada gadis-gadis korban penculikan kelompok teroris yang membatasi anak-anak perempuan untuk bersekolah. Pada tahun yang sama Malala dinobatkan sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian pada 2014. 

NAOMY A. NUGRAHENI 

Baca: Intip Aktivitas Terbaru Aktivis Perempuan Malala Yousafzai

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.






Inggris Belum Berencana Kurangi Penggunaan Energi

4 jam lalu

Inggris Belum Berencana Kurangi Penggunaan Energi

Inggris tidak meminta masyarakatnya untuk menggunakan lebih sedikit energi karena yakin bahwa mereka memiliki pasokan yang sangat kuat dan beragam.


Bahlil Singgung Krisis Ekonomi di Inggris dan Lonjakan Inflasi di AS: Jika Tidak Waspada ...

2 hari lalu

Bahlil Singgung Krisis Ekonomi di Inggris dan Lonjakan Inflasi di AS: Jika Tidak Waspada ...

Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyatakan krisis di Inggris adalah contoh potensi musibah ekonomi secara global.


Tuduh Barat Dalangi Demo, Iran Kembali Panggil Dubes Inggris

2 hari lalu

Tuduh Barat Dalangi Demo, Iran Kembali Panggil Dubes Inggris

Iran memanggil duta besar Inggris untuk kedua kalinya sejak protes nasional meletus bulan lalu, karena menilai Barat memprovokasi demo


4 Oktober Hari Hewan Sedunia, Sejak Kapan?

3 hari lalu

4 Oktober Hari Hewan Sedunia, Sejak Kapan?

4 Oktober diperingati sebagai Hari Hewan Sedunia, untuk mencintai, menghargai, dan menghormati seluruh spesies hewan. Begini asal usulnya.


Inggris Dukung Indonesia Kecam Pencaplokan Ukraina oleh Rusia

3 hari lalu

Inggris Dukung Indonesia Kecam Pencaplokan Ukraina oleh Rusia

Inggris menyambut baik pernyataan penolakan Indonesia tentang referendum palsu Rusia dan pencaplokan secara ilegal wilayah kedaulatan Ukraina.


Inggris Janji Akan Terus Dukung Ukraina

3 hari lalu

Inggris Janji Akan Terus Dukung Ukraina

Inggris memiliki ketahanan strategis untuk mendukung Ukraina sampai perang dengan Rusia dimenangkan


Banjir Pakistan Picu Wabah, Rumah Sakit Kewalahan

4 hari lalu

Banjir Pakistan Picu Wabah, Rumah Sakit Kewalahan

Rumah sakit di Sehwan kewalahan akibat wabah yang dipicu oleh banjir Pakistan


Korban Tewas Bom Sekolah Afghanistan Naik Menjadi 43 Orang, Mayoritas Siswa Perempuan

4 hari lalu

Korban Tewas Bom Sekolah Afghanistan Naik Menjadi 43 Orang, Mayoritas Siswa Perempuan

Jumlah korban tewas akibat serangan bom bunuh diri di sebuah sekolah di ibu kota Afghanistan pekan lalu telah meningkat menjadi sedikitnya 43 orang


Wabah Sifilis Hantui Eropa, Bintang Film Dewasa Inggris Takut Syuting

4 hari lalu

Wabah Sifilis Hantui Eropa, Bintang Film Dewasa Inggris Takut Syuting

Eropa dihantui wabah sifilis sehingga membuat bintang film dewasa berhenti bekerja. Mereka menuntut dibentuknya serikat pekerja bintang film panas. .


Raja Charles III Disebut Tak Akan Hadiri Pertemuan United Nations COP27

5 hari lalu

Raja Charles III Disebut Tak Akan Hadiri Pertemuan United Nations COP27

Sumber di Kerajaan Inggris menyebut Raja Charles III bakal absen dari United Nations COP27 summit, namun hal ini belum dikonfirmasi Kerajaan.