Pasca-Pakta Keamanan dengan China, Menlu Kepulauan Solomon Bertemu Australia

Reporter:
Editor:

Sita Planasari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Perdana Menteri Kepulauan Solomon Manasseh Sogavare dan PM Cina Li Keqiang menghadiri upacara penandatanganan di Aula Besar Rakyat di Beijing,, 9 Oktober 2019. REUTERS/Thomas Peter/File Photo

    Perdana Menteri Kepulauan Solomon Manasseh Sogavare dan PM Cina Li Keqiang menghadiri upacara penandatanganan di Aula Besar Rakyat di Beijing,, 9 Oktober 2019. REUTERS/Thomas Peter/File Photo

    TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne mengatakan bertemu rekannya dari Kepulauan Solomon Jeremiah Manele untuk pertama kalinya, sejak pemerintah Solomon menandatangani pakta keamanan yang kontroversial dengan China.

    Seperti dilansir Reuters Sabtu 7 Mei 2022, Payne mengatakan bahwa pertemuan terjadi pada Jumat ketika dia transit melalui Australia. Dia mengulangi keprihatinan mendalam pemerintah Australia tentang perjanjian keamanan dengan China, termasuk kurangnya transparansi.

    "Namun, kami sepakat bahwa Australia tetap menjadi mitra keamanan pilihan Kepulauan Solomon," katanya.

    Australia, Amerika Serikat, dan Selandia Baru telah menyatakan keprihatinannya tentang pakta keamanan itu, karena khawatir akan meningkatnya militerisasi Pasifik dan tumbuhnya pengaruh China di wilayah yang secara tradisional berada di bawah kekuasaan mereka. Rincian pakta tersebut belum dirilis.

    Payne menambahkan dia kembali menyambut jaminan Perdana Menteri Manasseh Sogavare bahwa Kepulauan Solomon tidak akan digunakan untuk pangkalan militer asing. Australia juga akan bekerja secara konstruktif dan hormat dengan keluarga Pasifik mereka.

    Sebelumnya, Perdana Menteri Kepulauan Solomon Manasseh Sogavare menuduh Australia mengancam "dengan invasi". Dalam pidato berapi-api di parlemen Selasa lalu, Sogavare mengatakan negaranya diancam dengan invasi. Namun dia tidak menyebutkan nama negara mana pun atau memberikan bukti atas klaimnya.

    Dalam debat pemilu pada Kamis, oposisi Partai Buruh mengatakan bahwa hubungan dengan Kepulauan Solomon telah memburuk, dan bahwa Australia perlu berinvestasi lebih banyak dalam diplomasi Pasifik, tidak hanya membangun pengeluaran pertahanannya. "Mereka telah gagal dalam seni bernegara," kata juru bicara pertahanan Partai Buruh, Brendan O'Connor.

    Meskipun rincian pakta Kepulauan Solomon dengan China belum diungkapkan, Sogavare telah mengesampingkan pangkalan militer. Ia mengatakan kesepakatan itu mencakup kepolisian untuk melindungi proyek-proyek China karena kesepakatan dengan mitra tradisional Australia tidak memadai.

    Sogavare mengkritik Australia karena menyebut Pasifik sebagai "halaman belakang." Ia mengatakan ini adalah istilah yang menghina dalam budaya lokal, di mana halaman belakang digunakan untuk memelihara ayam, babi, dan sampah.

    Baca juga: Australia Was-was China Bakal Tempatkan Pasukan Militer di Kepulauan Solomon

    SUMBER: REUTERS


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Pemerintah Longgarkan Aturan Memakai Masker

    Jokowi mengizinkan masyarakat lepas masker di ruang terbuka setelah melihat kondisi pandemi Covid-19 yang memenuhi nilai-nilai tertentu.