UNICEF: Pandemi COVID-19 Picu Kehilangan Pendidikan yang Sulit Diatasi

Reporter:
Editor:

Sita Planasari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Siswa duduk di kursi dengan penghalang plastik mendengarkan penjelasan guru saat menghadiri kelas setelah dibuka kembali untuk pertama kalinya sejak pandemi COVID-19 di Pasay City, Metro Manila, Filipina, 6 Desember 2021. Anak-anak berusia antara 6-9 tahun di ibu kota Filipina, Manila, kembali ke sekolah untuk pertama kalinya setelah hampir dua tahun mengikuti kelas online. REUTERS/Lisa Marie David

    Siswa duduk di kursi dengan penghalang plastik mendengarkan penjelasan guru saat menghadiri kelas setelah dibuka kembali untuk pertama kalinya sejak pandemi COVID-19 di Pasay City, Metro Manila, Filipina, 6 Desember 2021. Anak-anak berusia antara 6-9 tahun di ibu kota Filipina, Manila, kembali ke sekolah untuk pertama kalinya setelah hampir dua tahun mengikuti kelas online. REUTERS/Lisa Marie David

    TEMPO.CO, Jakarta -Badan Dunia untuk Anak-anak (UNICEF) menyatakan penutupan sekolah karena pandemi COVID-19 telah menyebabkan kerugian yang hampir tidak dapat diatasi dalam pendidikan di kalangan anak-anak di seluruh dunia.

    UNICEF mengatakan lebih dari 616 juta siswa di seluruh dunia masih terkena dampak penutupan sekolah penuh atau sebagian.

    "Kami melihat skala kehilangan sekolah pada anak-anak yang hampir tidak dapat diatasi," kata kepala pendidikan UNICEF, Robert Jenkins, dalam sebuah pernyataan, hampir dua tahun setelah pandemi.

    “Dan membuka kembali sekolah saja tidak cukup", tambahnya. Jenkins menyerukan dukungan intensif untuk memulihkan pendidikan yang hilang.

    Di banyak negara, selain merampas kesempatan jutaan anak untuk memperoleh keterampilan dasar, penghentian pembelajaran tatap muka mempengaruhi kesehatan mental siswa, menempatkan mereka pada risiko pelecehan yang lebih besar di rumah dan mencegah anak-anak miskin memiliki akses ke sumber nutrisi di luar rumah.

    UNICEF melaporkan bahwa kehilangan pembelajaran akibat penutupan sekolah menyebabkan 70 persen anak berusia 10 tahun tidak dapat membaca atau memahami teks sederhana. Tingkat ini naik dari 53 persen sebelum pandemi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

    Di Etiopia, misalnya, anak-anak hanya belajar antara 30 hingga 40 persen matematika yang akan mereka pelajari jika itu adalah tahun ajaran normal di sekolah dasar.

    Negara-negara kaya juga terdampak. UNICEF mencontohkan di Amerika Serikat, di mana kehilangan pembelajaran telah diamati di beberapa negara bagian, termasuk Texas, California dan Maryland.

    Putus sekolah juga menjadi masalah. Di Afrika Selatan, antara 400 ribu- 500 ribu siswa dilaporkan putus sekolah sama sekali antara Maret 2020 dan Juli 2021.

    Selain meningkatnya tingkat kecemasan dan depresi di antara anak-anak dan remaja yang terkait pandemi, penutupan sekolah menurut UNICEF juga berarti lebih dari 370 juta anak di seluruh dunia tidak mendapatkan makanan di sekolah. 

    Baca juga:

    SUMBER: CHANNEL NEWSASIA

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Pemerintah Longgarkan Aturan Memakai Masker

    Jokowi mengizinkan masyarakat lepas masker di ruang terbuka setelah melihat kondisi pandemi Covid-19 yang memenuhi nilai-nilai tertentu.