Krisis Pangan, Korea Utara Perintahkan Warga Gunakan Tinja Jadi Kompos

Reporter:
Editor:

Sita Planasari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Sejumlah warga Korea Utara berjalan di lapangana Kim Il Sung, usai pulang kerja di Pyongyang, Korea Utara, 30 November 2015. AP/Wong Maye-E

    Sejumlah warga Korea Utara berjalan di lapangana Kim Il Sung, usai pulang kerja di Pyongyang, Korea Utara, 30 November 2015. AP/Wong Maye-E

    TEMPO.CO, Jakarta -Korea Utara meminta warganya untuk menggunakan kotoran mereka sendiri atau tinja untuk dijadikan kompos atau pupuk kandang. Kebijakan yang diungkapkan pada Kamis waktu setempat itu diambil karena negara itu menghadapi kekurangan pangan yang semakin parah.

    Sebelumnya, Korea Utara membeli pupuk pertanian dari Cina. Namun, seluruh perdagangan dengan Cina berhenti setelah Korea Utara menutup perbatasannya pada awal pandemi COVID-19.

    Media Korea Utara, Daily NK, melaporkan mengara itu mencanangkan tabungan tinja sebagai "perjuangan" pertama pada 2022. Media yang dikelola pemerintah itu juga mendorong warga untuk membuat pupuk "buatan sendiri", The Daily Beast melaporkan.

    Sebuah sumber di Provinsi Hamgyong Utara mengatakan kepada Daily NK bahwa penduduk mulai "memproduksi pupuk dari kotoran manusia" setelah pihak berwenang meluncurkan upaya 10 hari untuk meningkatkan produksi.

    Warga diminta untuk menghasilkan kuota 150 kilogram pupuk kandang, dengan orang-orang yang bekerja di pabrik-pabrik negara disuruh menyediakan 500 kilogram antara 4 Januari dan 14 Januari, Daily NK melaporkan.

    Dalam upaya untuk memberi insentif kepada orang-orang, Korea Utara juga telah memperkenalkan izin yang hanya akan diberikan kepada orang-orang yang mencapai kuota produksi pupuk kandang, lapor Daily NK. Izin itu memungkinkan orang berdagang tinja, kata outlet itu.

    "Karena keadaan darurat virus corona telah mempersulit produksi atau impor pupuk, tampaknya mereka telah meningkatkan jumlah yang kami tetapkan," kata sumber itu, menurut Daily NK.

    "Pada akhirnya, beban mengumpulkan pupuk yang diperlukan untuk pertanian semuanya jatuh di pundak orang biasa."

    Selain kekurangan pupuk kandang, Korea Utara juga berjuang untuk mendapatkan cukup makanan.

    Baca juga: Harga Minyak Goreng di Korea Utara Meroket Jadi Rp 717 Ribu per Liter

    SUMBER: THE DAILY BEAST

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    PTM 100 persen DKI Tetap Berjalan Meski Didesak Banyak Pihak

    Pemprov Ibu Kota tetap menerapkan PTM 100 persen meski banyak pihak mendesak untuk menghentikan kebijakan itu. Sejumlah evaluasi diberikan pihak DKI.