Konon 200.000 Wanita Jadi Jugun Ianfu di Perang Dunia II, Sebaran di Indonesia?

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Keluarga korban jugun ianfu berunjuk rasa menuntut kompensasi penuh dan permintaan maaf dari pemerintah Jepang di depan Kementerian Luar Negeri di Seoul, Korea Selatan, 28 Desember 2015. Menteri Luar Negeri Jepang, Fumio Kishida mengatakan bahwa Perdana Menteri Shinzo Abe menyatakan permintaan maaf sedalam-dalamnya. AP Photo/Ahn Young-joon

    Keluarga korban jugun ianfu berunjuk rasa menuntut kompensasi penuh dan permintaan maaf dari pemerintah Jepang di depan Kementerian Luar Negeri di Seoul, Korea Selatan, 28 Desember 2015. Menteri Luar Negeri Jepang, Fumio Kishida mengatakan bahwa Perdana Menteri Shinzo Abe menyatakan permintaan maaf sedalam-dalamnya. AP Photo/Ahn Young-joon

    TEMPO.CO, Jakarta -Masa Perang Dunia II menyisakan berbagai polemik dan tragedi.

    Kejahatan perang yang dilakukan oleh penguasa imperialis Jepang kepada wanita pada masa itu dikenal dengan Jugun Ianfu.

    Pada hari ini 13 Januari di tahun 1992, Jepang meminta maaf karena memaksa ribuan wanita Korea.

    Juru bicara pemerintah Jepang kala itu, Koichi Kato, mengatakan “Kami tidak dapat menyangkal bahwa mantan tentara Jepang memainkan peran” dalam penculikan dan menahan wanita yang dipaksa kemudian menjadi Jugun Ianfu atau “wanita penghibur”.

    Laporan BBC memperkirakan sekitar 200.000 perempuan yang menjadi korban. Sebagian besar berasal dari Korea dan Cina. Tapi hal serupa juga Jepang lakoni di negara jajahannya, seperti Indonesia, Myanmar, dan Filipina.

    Mengutip laman Asian Women’s Fund yang merupakan lembaga dengan tujuan berdirinya sebagai bentuk kepedulian, penyesalan dan permintaan maaf pemerintah Jepang, di Indonesia kamp yang menjadi tempat Jugun Ianfu, setidaknya ada di lima wilayah besar.

    Di Sumatera, Belawan tepatnya, dilaporkan terdapat dua orang wanita Indonesia dan enam asal Cina. Pada Agustus 1942, di Batavia tempat yang disebut stasiun kenyamanan ini didirikan, sudah enam jumlahnya. Disini terdapat tujuh orang wanita Korea ditahan.

    Di Semarang empat stasiun kenyamanan didirikan tahun 1944. Ada yang berada di dekat Stasiun Muntilan. Sedangkan di Surabaya ada tiga, di sebelah barat.

    Di Pulau Sulawesi menurut laporan yang disusun militer Jepang pada 1945 atas perintah pengadilan militer Belanda menjelaskan terdapat total 21 stasiun kenyamanan, tiga diantaranya di kota Makassar dengan masing terdapat sejumlah 20, 30, dan 40 orang perempuan. Lalu sisanya, menampung kurang dari 10 wanita, semuanya asli Indonesia.  

    Pada tahun 1993, Pengadilan Global PBB untuk Pelanggaran Hak Asasi Manusia Perempuan memperkirakan bahwa pada akhir Perang Dunia II, 90 persen dari Jugun Ianfu telah meninggal dunia.

    RAHMAT AMIN SIREGAR
    Baca juga : Punya Jaket Kulit? Ini Tips Merawatnya


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    PTM 100 persen DKI Tetap Berjalan Meski Didesak Banyak Pihak

    Pemprov Ibu Kota tetap menerapkan PTM 100 persen meski banyak pihak mendesak untuk menghentikan kebijakan itu. Sejumlah evaluasi diberikan pihak DKI.