Koridor Perjalanan Udara Indonesia-Malaysia Tunggu Penelitian Omicron

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Perdana Menteri Ismail Sabri Yaakob dan Presiden Jokowi bertemu di Istana Bogor, 10 November 2021. (Setpres)

    Perdana Menteri Ismail Sabri Yaakob dan Presiden Jokowi bertemu di Istana Bogor, 10 November 2021. (Setpres)

    TEMPO.CO, JakartaMenteri Kesehatan Malaysia Khairy Jamaluddin mengatakan pelaksanaan jalur atau koridor perjalanan udara bagi orang-orang yang sudah divaksin (Vaccinated Travel Lane/VTL) antara Malaysia dan Indonesia masih dalam tahap pembahasan.

    "VTL dengan Indonesia, Thailand dan Brunei masih dalam perbincangan dengan mempertimbangkan varian baru Covid-19," katanya pada Majelis Apresiasi Petugas Covid-19 Institut Kesehatan Negara di Kuala Lumpur, Senin, 29 November 2021.

    Pada 10 November 2021, Perdana Menteri Ismail Sabri dan Presiden Jokowi telah bersepakat agar Malaysia dan Indonesia dapat menerapkan satu koridor perjalanan antarnegara melalui VTL atau TCA (Travel Corridor Arrangement).

    Mulai  Senin (29/11) bandara internasional Kuala Lumpur (KLIA) mulai menerima kedatangan penumpang dari Singapura lewat program VTL by Air.

    Khairy mengatakan gelembung perjalanan dan aturan karantina bagi pelancong yang kembali dari negara yang dikategorikan sebagai berisiko akan dibahas dengan Dirjen Kesehatan.

    "Ada beberapa opsi yang akan dipertimbangkan untuk dapat kita perketat  lagi kawasan perbatasan kita," katanya.

    Terkait dengan kemunculan Omicron, Khairy mengatakan tes Covid-19 menggunakan RTK-Antigen dan RT-PCR bermanfaat untuk mendeteksi varian baru itu.

    "Tes RT-PCR semestinya bagus, tetapi dari segi efektifitas  Antigen kami masih mengkajinya, tetapi sejauh ini ia masih dapat mendeteksi varian Omicron ini," katanya.

    Pendapat tersebut, kata dia, disampaikan oleh pakar dari Institut Penelitian Pengobatan (IMR) namun kajian untuk mengetahui lebih jauh varian itu masih berlangsung.

    Khairy mengatakan kajian itu juga untuk meneliti efektifitas vaksin dan pihaknya akan mendapatkan laporan dari produsen apakah vaksin mereka masih efektif untuk melawan varian ini.

    "Kami lihat ada bahaya Omicron ini dan kami dapat laporan awal di Afrika Selatan juga negara yang vaksinasinya rendah, tetapi Omicron ini hanya menyebabkan gejala yang sederhana. Ada beberapa berita baik, tetapi kami perlu tunggu dan lihat," katanya.

    Khairy menegaskan terlalu awal untuk melaksanakan pembatasan menyusul kemunculan Omicron.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    PTM 100 persen DKI Tetap Berjalan Meski Didesak Banyak Pihak

    Pemprov Ibu Kota tetap menerapkan PTM 100 persen meski banyak pihak mendesak untuk menghentikan kebijakan itu. Sejumlah evaluasi diberikan pihak DKI.