Populasi Menua, Jepang Ingin Buka Pintu Lebar untuk Tenaga Kerja Asing

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Seorang pekerja menyemprotkan glasir ke toilet di pabrik toilet Toto di Kitakyushu, Jepang, 6 Februari 2020. Menjelang berlangsungnya Olimpiade 2020, Jepang memproduksi toilet duduk secara massal. REUTERS/Sakura Murakami

    Seorang pekerja menyemprotkan glasir ke toilet di pabrik toilet Toto di Kitakyushu, Jepang, 6 Februari 2020. Menjelang berlangsungnya Olimpiade 2020, Jepang memproduksi toilet duduk secara massal. REUTERS/Sakura Murakami

    TEMPO.CO, Jakarta - Jepang ingin mengizinkan tenaga kerja asing untuk mengisi lapangan pekerjaan kerah biru tertentu untuk tinggal tanpa batas mulai pada awal tahun fiskal 2022, kata seorang pejabat kementerian kehakiman pada Kamis. Ini adalah perubahan besar bagi Jepang yang dikenal sebagai negara yang tertutup bagi imigran.

    Di bawah undang-undang yang mulai berlaku pada 2019, kategori "pekerja terampil tertentu" di 14 sektor seperti pertanian, perawatan dan sanitasi, telah diberikan visa tetapi masa tinggal telah dibatasi hingga lima tahun dan tanpa anggota keluarga untuk pekerja di semua sektor kecuali sektor konstruksi dan galangan kapal. 

    Namun, perusahaan menganggap pembatasan tersebut menghambat penyerapan buruh migran sehingga mereka ragu-ragu untuk menyewa tenaga kerja asing, dan pemerintah telah berusaha untuk meringankan pembatasan tersebut di bidang lain.

    Jika revisi tersebut berlaku, para buruh migran, yang di antaranya banyak berasal dari Vietnam dan Cina, akan diizinkan untuk memperbarui visa mereka tanpa batas waktu dan membawa serta keluarga mereka.

    Perempuan lanjut usia berjalan di Akita, Prefektur Akita, di Jepang utara, 23 Juni 2018.[REUTERS/Kiyoshi Takenaka]

    Juru bicara pemerintah Hirokazu Matsuno menekankan, bagaimanapun, bahwa perubahan semacam itu tidak berarti tempat tinggal permanen otomatis, yang akan memerlukan proses aplikasi terpisah.

    Imigrasi telah lama menjadi tabu di Jepang karena negara itu menekankan homogenitas etnis, tetapi tekanan telah meningkat untuk membuka perbatasannya karena kekurangan tenaga kerja yang akut mengingat populasinya yang semakin berkurang dan menua.

    "Karena populasi yang menyusut menjadi masalah yang lebih serius dan jika Jepang ingin dilihat sebagai pilihan yang baik bagi pekerja luar negeri, perlu dikomunikasikan bahwa ia memiliki struktur yang tepat untuk menyambut mereka," kata Toshihiro Menju, direktur pelaksana think tank Japan Center for International Exchange, mengatakan kepada Reuters, 18 November 2021.

    Undang-undang 2019 dimaksudkan untuk menarik sekitar 345.000 "pekerja terampil tertentu" selama lima tahun, tetapi asupannya telah mencapai sekitar 3.000 per bulan sebelum pandemi Covid-19 menutup perbatasan, menurut data pemerintah.

    Pada akhir 2020, Jepang menampung 1,72 juta tenaga kerja asing, dari total populasi 125,8 juta dan hanya 2,5% dari populasi pekerjanya.

    Baca juga: Populasi Jepang Menyusut, Banyak Rumah Kosong Ditawarkan Gratis

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Prosedur dan Syarat Perjalanan selama PPKM Level 3 Nataru

    Pemerintah mengeluarkan syarat dan prosedur perjalanan selama PPKM saat Natal dan Tahun Baru. Perjalanan ke masuk dari luar negeri juga diperketat.