Namibia Hentikan Sementara Vaksin Virus Corona Sputnik V

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Botol vaksin virus corona Sputnik V Rusia di Beograd, Serbia, 6 Januari 2021. [REUTERS / Fedja Grulovic]

    Botol vaksin virus corona Sputnik V Rusia di Beograd, Serbia, 6 Januari 2021. [REUTERS / Fedja Grulovic]

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Kesehatan Namibia pada Sabtu, 23 Oktober 2021, akan menghentikan sementara penggunaan vaksin virus corona asal Rusia Sputnik V. Keputusan itu diambil oleh Badan Pengawas Obat di Namibia setelah Afrika Selatan mengutarakan waswas terhadap keamanan Sputnik V pada orang-orang yang positif HIV.

    Lembaga yang mengembangkan Sputnik V, Gamaleya Research Institute, mengatakan keputusan Pemerintah Namibia itu tidak berdasarkan bukti ilmu pengetahuan. Sputnik V masih menjadi salah satu vaksin virus corona paling aman dan paling efektif untuk melawan Covid-19, yang penggunaannya digunakan secara global.

    Seorang spesialis medis memegang botol vaksin Sputnik V untuk melawan virus corona di sebuah department store di Moskow, Rusia, 18 Januari 2021.[REUTERS / Shamil Zhumatov]

    Badan Pengawas Obat di Afrika Selatan (SAHPRA) memutuskan untuk tidak menyetujui penggunaan darurat vaksin virus corona Sputnik V saat ini. Sebab sejumlah studi menyarankan penggunaan Adenovirus Type 5 vector, yang ada di Sputnik V, menyebabkan kerentanan pada penderita HIV.

      

    Kementerian Kesehatan Namibia dalam pernyataan menyatakan keputusan untuk tidak melanjutkan sementara penggunaan vaksin virus corona asal Rusia tersebut adalah bagian dari kehati-hatian bahwa mereka yang mendapatkan imunisasi virus corona Sputnik V kemungkinan berisiko tinggi tertular HIV, dimana ini berdasarkan pertimbangan keputusan SAHPRA.

    Gamaleya Research Institute mengatakan mereka sudah melakukan lebih dari 250 uji klinis dan 75 publikasi internasional sudah mengkonfirmasi keamanan vaksin virus corona Sputnik V dan obat-obatan berdasarkan human adenovirus vectors.

      

    “Adenoviruses, termasuk ad-5, adalah salah satu penyebab paling sering flu ringan. Tidak ada bukti yang bisa meningkatkan risiko infeksi HIV dikalangan manusia setelah flu biasa. Spekulasi yang tidak akurat ini telah disangkal,” demikian keterangan Gamaleya Research Institute.  

      

    Baca juga: Rusia Uji Klinis Vaksin Covid-19 Versi Semprotan Hidung untuk Dewasa

       

    Sumber: Reuters

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.   


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sembilan Hakim MK Terbelah dalam Putusan Uji Materil UU Cipta Kerja

    Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan uji formil UU Cipta Kerja. Ada dissenting opinion.