Ribuan Tentara Berkumpul di Myanmar Utara, PBB Khawatir Kekejaman Massal

Reporter

Pengunjuk rasa menggunakan senjata rakitan selama protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar 3 April 2021. REUTERS/Stringer

TEMPO.CO, Jakarta - Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB menyatakan khawatir akan bencana hak asasi manusia yang lebih besar terjadi di Myanmar. PBB menerima laporan ribuan tentara berkumpul di utara Myanmar.

Pelapor Khusus PBB untuk Myanmar Tom Andrews mengatakan telah menerima informasi bahwa puluhan ribu tentara dan senjata berat sedang dipindahkan ke daerah bergolak di Myanmar utara dan barat laut.

Temuan itu menunjukkan bahwa pemerintah militer kemungkinan terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan dan perang. “Kita semua terutama orang-orang di Myanmar harus siap untuk kejahatan kekejaman massal yang lebih banyak lagi. Saya sangat berharap bahwa saya salah,” kata Andrews dalam laporannya Jumat lalu.

Lebih dari 1.100 warga sipil tewas dalam tindakan keras berdarah di Myanmar akibat perbedaan pendapat. Lebih dari dari 8.000 orang telah ditangkap sejak kudeta militer pada Februari lalu.

“Taktik ini digunakan oleh militer sebelum serangan genosida terhadap Rohingya di Negara Bagian Rakhine pada 2016 dan 2017,” ujar Andrews.

Pada 2017, sekitar 740.000 orang Rohingya melarikan diri dari negara bagian Rakhine Myanmar setelah pasukan keamanan melancarkan tindakan keras. PBB mengatakan tindakan tersebut kemungkinan sama dengan genosida.

Andrews mendesak negara-negara menolak mengucurkan uang terhadap militer Myanmar, senjata dan legitimasi yang diinginkan. Pembebasan tahanan yang dilakukan awal pekan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap Myanmar berhasil.

Pada Senin, kepala militer Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing mengumumkan pembebasan lebih dari 5.000 orang yang dipenjara karena memprotes kudeta. Langkah itu dilakukan hanya beberapa hari setelah Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) tak mengundang militer Myanmar dalam pertemuan.

Christine Schraner Burgener, utusan khusus PBB untuk Myanmar, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dia khawatir perang saudara akan pecah di sana. “Orang-orang sekarang dilengkapi dengan iPhone dan sumber informasi utama di Myanmar adalah Facebook dan Twitter,” katanya.

“Mereka bertekad tidak menyerah. Jika mereka tidak menyerah dan sangat marah, maka kekerasan akan menciptakan lebih banyak kekerasan," ujar Burgener. Dia mengatakan bisa terjadi konflik bersenjata internal yang besar di Myanmar.

Andrews mengatakan pasukan Myanmar telah menelantarkan seperempat juta orang. Banyak dari mereka yang ditahan disiksa, termasuk puluhan orang yang meninggal. Dia mengatakan telah menerima laporan bahwa anak-anak juga ikut disiksa.

Baca: 110 Warga Ditahan Lagi setelah Dibebaskan Junta Militer Myanmar

AL JAZEERA

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

 
 







7 Orang Meninggal di Haiti karena Kolera

3 jam lalu

7 Orang Meninggal di Haiti karena Kolera

Warga terkejut karena wabah kolera kembali ditemukan di Haiti.


Ukraina Klaim Merebut Kembali Kota Lyman

4 jam lalu

Ukraina Klaim Merebut Kembali Kota Lyman

Ukraina pada Minggu, 2 Oktober 2022, mengklaim sudah merebut kembali Kota Lyman dari tentara Rusia, yakni sebuah kota strategis untuk pengiriman.


Anies Baswedan Bicara Soal Ketidakadilan di Depan Para Petinggi Pemuda Pancasila

1 hari lalu

Anies Baswedan Bicara Soal Ketidakadilan di Depan Para Petinggi Pemuda Pancasila

Anies Baswedan bicara tentang kebijakan penghapusan pajak PBB agar warganya tak terusir dari Jakarta karena pajak yang tinggi.


Junta: Pemberontak Myanmar Tembak Penumpang Pesawat Saat Mendarat

2 hari lalu

Junta: Pemberontak Myanmar Tembak Penumpang Pesawat Saat Mendarat

Junta militer menyebut pemberontak Myanmar menembak seorang penumpang di wajahnya saat pesawat mendarat di negara itu.


PBB: Aneksasi Rusia terhadap Wilayah Ukraina Pantas Dikutuk

2 hari lalu

PBB: Aneksasi Rusia terhadap Wilayah Ukraina Pantas Dikutuk

Menurut Sekjen PBB Antonio Guterres, referendum dilakukan di bawah pendudukan Rusia dan di luar kerangka hukum dan konstitusional Ukraina.


Prancis Tutup Masjid, Tuding Imam Radikal

3 hari lalu

Prancis Tutup Masjid, Tuding Imam Radikal

Pemerintah Prancis mengumumkan akan menutup masjid karena menganggap imamnya radikal,


Aung San Suu Kyi dan Penasihat asal Australia Dihukum 3 Tahun

3 hari lalu

Aung San Suu Kyi dan Penasihat asal Australia Dihukum 3 Tahun

Pengadilan Myanmar menghukum pemimpin terguling Aung San Suu Kyi dan mantan penasihat ekonominya, Sean Turnell dari Australia, 3 tahun penjara


Ratu Kecantikan Myanmar Akhirnya Mendarat di Kanada, Berbulan-bulan Tinggal di Bandara Thailand

4 hari lalu

Ratu Kecantikan Myanmar Akhirnya Mendarat di Kanada, Berbulan-bulan Tinggal di Bandara Thailand

Ratu Kecantikan Myanmar menuai perhatian publik atas komentar pedasnya terhadap junta militer. Dia akhirnya mendapat suaka dari Kanada.


Korea Selatan Tak Mau Ikut Campur Urusan Taiwan

5 hari lalu

Korea Selatan Tak Mau Ikut Campur Urusan Taiwan

Korea Selatan tak mau mencampuri urusan Amerika Serikat yang membela Taiwan dari Cina.


Sempat Terlunta-lunta di Thailand, Ratu Kecantikan Myanmar Dapat Suaka di Kanada

5 hari lalu

Sempat Terlunta-lunta di Thailand, Ratu Kecantikan Myanmar Dapat Suaka di Kanada

Mantan ratu kecantikan Myanmar itu telah terlunta-lunta sejak 21 September di Thailand.