Joe Biden Tegaskan Amerika Serikat Akan Bela Taiwan Jika Diserang

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Presiden AS Joe Biden memberikan sambutan saat ia mengunjungi lokasi terdampak Badai Ida di LaPlace, Louisiana, AS 3 September 2021. REUTERS/Jonathan Ernst

    Presiden AS Joe Biden memberikan sambutan saat ia mengunjungi lokasi terdampak Badai Ida di LaPlace, Louisiana, AS 3 September 2021. REUTERS/Jonathan Ernst

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joe Biden pada Rabu menegaskan kembali komitmen Amerika Serikat untuk membela Taiwan dan mempertahankan pulau itu jika diserang.

    Taiwan, pulau yang diklaim Cina sebagai bagian dari kedaulatannya, telah menjadi titik panas dalam perang dingin Amerika Serikat dan Cina. Namun, pernyataan Joe Biden pada Kamis kemarin tidak mengatakan ada perubahan dalam kebijakan terhadap pulau itu.

    "Ya, kami memiliki komitmen untuk melakukan itu," kata Biden di acara Townhall CNN, ketika ditanya apakah Amerika Serikat akan datang untuk membela Taiwan, dikutip dari Reuters, 22 Oktober 2021.

    Meski Amerika Serikat diwajibkan oleh hukum untuk memberi Taiwan sarana untuk membela diri, Gedung Putih telah lama menerapkan kebijakan "ambiguitas strategis" tentang apakah akan campur tangan secara militer untuk melindungi Taiwan jika diserang Cina.

    Pada bulan Agustus, seorang pejabat pemerintahan Biden mengatakan kebijakan AS di Taiwan tidak berubah setelah presiden mengklaim Amerika Serikat akan mempertahankan pulau itu jika diserang.

    Seorang juru bicara Gedung Putih mengatakan Joe Biden di Townhall tidak mengumumkan perubahan apa pun dalam kebijakan AS dan tidak ada perubahan dalam kebijakan AS.

    "Hubungan pertahanan AS dengan Taiwan dipandu oleh Undang-Undang Hubungan Taiwan. Kami akan menjunjung tinggi komitmen kami di bawah Undang-undang tersebut, kami akan terus mendukung pertahanan diri Taiwan, dan kami akan terus menentang setiap perubahan sepihak terhadap status quo," katanya.

    Cina tetap menyatakan ketidaksenangannya. Juru bicara kementerian luar negeri Cina mengatakan AS tidak memiliki ruang untuk konsesi kepentingan apapun di Taiwan.

    Cina mendesak Amerika Serikat untuk tidak mengirim sinyal yang salah kepada pasukan Taiwan, untuk menghindari kerusakan serius pada hubungan Cina-AS dan perdamaian serta stabilitas di Selat Taiwan, kata juru bicara Kemenlu Cina Wang Wenbin di Beijing.

    Kantor kepresidenan Taiwan mengatakan posisinya tetap sama, yaitu tidak akan menyerah pada tekanan atau bertindak gegabah ketika mendapat dukungan.

    Taiwan akan menunjukkan tekad yang kuat untuk membela diri, kata juru bicara kantor kepresidenan Taiwan Xavier Chang, menambahkan bahwa tindakan nyata pemerintahan Joe Biden yang berkelanjutan menunjukkan dukungan "kokoh" untuk Taiwan.

    Presiden Taiwan Tsai Ing-wen melambai saat perayaan hari nasional di Taipei, Taiwan, 10 Oktober 2021. [REUTERS/Ann Wang]

    Joe Biden mengatakan orang tidak perlu khawatir tentang kekuatan militer AS karena Cina, Rusia, dan seluruh dunia tahu bahwa AS adalah militer paling kuat dalam sejarah dunia.

    "Yang harus Anda khawatirkan adalah apakah mereka akan terlibat dalam kegiatan yang akan menempatkan mereka pada posisi di mana mereka mungkin membuat kesalahan serius," kata Joe Biden.

    "Saya tidak ingin perang dingin dengan Cina. Saya hanya ingin Cina mengerti bahwa kita tidak akan mundur, bahwa kita tidak akan mengubah pandangan kita."

    Pada hari Kamis, Duta Besar Cina untuk PBB Zhang Jun mengatakan mereka sedang mencari upaya "penyatuan kembali secara damai" dengan Taiwan dan menanggapi "upaya separatis" oleh Partai Progresif Demokratik yang berkuasa di Taiwan.

    "Kami bukan pembuat onar. Sebaliknya, beberapa negara - khususnya AS - mengambil tindakan berbahaya, membawa situasi di Selat Taiwan ke arah yang berbahaya," katanya.

    "Saya pikir pada saat ini yang harus kita panggil adalah Amerika Serikat untuk menghentikan praktik semacam itu. Menyeret Taiwan ke dalam perang jelas bukan kepentingan siapa pun. Saya tidak melihat bahwa Amerika Serikat akan mendapatkan apa pun dari itu," tambahnya.

    Ketegangan militer antara Taiwan dan Cina adalah yang terburuk dalam lebih dari 40 tahun, kata Menteri Pertahanan Taiwan Chiu Kuo-cheng mengatakan bulan ini, menambahkan bahwa Cina akan mampu melakukan invasi skala penuh pada tahun 2025.

    Taiwan mengatakan mereka adalah negara merdeka dan akan mempertahankan kebebasan dan demokrasinya.

    Cina mengatakan Taiwan adalah masalah paling sensitif dan penting dalam hubungannya dengan Amerika Serikat dan telah mengecam apa yang disebutnya "kolusi" antara Washington dan Taipei.

    Baca juga: Menhan: Taiwan Tak Akan Memulai Perang, tapi Siap Melawan

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sembilan Hakim MK Terbelah dalam Putusan Uji Materil UU Cipta Kerja

    Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan uji formil UU Cipta Kerja. Ada dissenting opinion.