Malaysia Pernah Usulkan Jembatan Malaka-Dumai, tapi Ditolak SBY

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Jembatan Malaka hasil lukisan artis (The Star)

    Jembatan Malaka hasil lukisan artis (The Star)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Malaysia selain mengusulkan pembangunan terowongan yang menghubungkan Malaka dengan Sumatera, juga pernah mengusulkan pembangunan jembatan dari Malaka ke Dumai, Riau.

    Namun usulan itu ditolak oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ketika berbicara di depan masyarakat Indonesia di Berlin, 5 Maret 2013, ia mengatakan empat tahun lalu, Malaysia mengusulkan pembangunan jembatan yang menghubungkan Dumai ke Semenanjung Malaysia.

    “Saya tolak. Saya tahu, kalau jembatan Sumatera-Malaysia yang dibangun, kekayaan Sumatera akan habis tersedot ke Asia. Saya prioritaskan pembangunan jembatan di dalam negeri, yakni menyambungkan lebih dulu Sumatera dan Jawa agar kedua wilayah bisa saling mendukung dan bergerak maju lebih cepat,” katanya seperti dikutip harian Suara Pembaruan. 

    SBY saat itu berencana membangun jembatan Selat Sunda yang menghubungkan Jawa dan Sumatera.

    Jembatan Selat Malaka ini dirancang dengan panjang 49 km dari  Telok Gong, dekat Masjid Tanah, negara bagian Malaka di Semenanjung Malaysia, ke Pulau Rupat dan dilanjutkan ke Dumai, Riau.

    Biaya yang dianggarkan 12,5 milliar dolar AS atau setara Rp 171 triliun. Menurut Ketua Straits of Malacca Partners, Tan Sri Ibrahim Zain, Bank Export-Import Cina bersedia mendanai 85 persen dari total biaya.

    Ketua Menteri Malaka Datuk Seri Mohd Ali Rustam mengatakan, Malaka memiliki populasi 800.000 dan 40.000 kendaraan termasuk bus dan truk yang memasuki negara bagian setiap hari. "Kami juga menerima 7,2 juta turis tahun lalu,” katanya seperti dikutip The Star, 19 Agustus 2009. 

    “Di Sumatera, yang jembatannya terhubung melalui Dumai, ada 70 juta orang dan 10% orang kaya. Mereka punya uang dan datang ke Malaka untuk wisata kesehatan."

    “Mereka sangat ingin datang ke Malaysia dan Thailand untuk liburan mereka,” katanya dalam sambutannya setelah menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh pengembang proyek, Straits of Malacca Partners Sdn Bhd.

    Gagasan Terowongan Malaka

    Penolakan dari pemerintah Indonesia atas gagasan pembangunan Jembatan Selat Malaka melahirkan usulan baru: Terowongan Selat Malaka.

    “Proyek ini lebih hemat biaya dan layak dengan biaya sekitar RM15 miliar (Rp 51 triliun) dibandingkan dengan jembatan Dumai-Malaka yang diperkirakan RM44,3 miliar,'' kata dekan Aliansi Riset Konstruksi Universitas Teknologi Malaysia, Prof Dr Muhd Zaimi Abd Majid seperti dikutip The Star, 21 Januari 2014.

    Dikenal sebagai Johor-Riau Link, terowongan bawah laut 17,5 km itu akan menghubungkan Pulau Karimum di Riau ke Kukup, Pontian, dekat terminal feri yang ada di kabupaten Pontian, Johor, Malaysia.

    UTM dan Pemkab Pelalawan waktu itu sempat menandatangani nota kesepahaman melakukan studi kelayakan proyek.

    Lama tak terdengar kelanjutannya, rencana pembangunan terowongan ini disinggung oleh Senator Muhammad Zahid Md Arip dari Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) saat dengar pendapat dengan Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia, Kamarudin Jaffar,  Kamis, 21 Oktober 2021.

    Baca juga: Rencana Terowongan Malaysia-Indonesia Disinggung Senat 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Prosedur dan Syarat Perjalanan selama PPKM Level 3 Nataru

    Pemerintah mengeluarkan syarat dan prosedur perjalanan selama PPKM saat Natal dan Tahun Baru. Perjalanan ke masuk dari luar negeri juga diperketat.