Profil Colin Powell, Menteri Luar Negeri Kulit Hitam Pertama Amerika

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Colin Powell meninggal pada Senin, 18 Oktober 2021. Sumber: Reuters

    Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Colin Powell meninggal pada Senin, 18 Oktober 2021. Sumber: Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Colin Powell meninggal pada Senin, 18 Oktober 2021, diusia 84 tahun. Powell, yang berpangkat jenderal, adalah mantan Menteri Luar Negeri kulit hitam Amerika Serikat pertama.

    Kabar duka ini pertama kali disampaikan oleh keluarganya di Facebook. Dia menderita multiple myeloma, sakit kanker sel plasma yang menekan respons imun tubuh, penyakit Parkinson serta komplikasi Covid-19. 

    Peggy Cifrino, kepala staf lama Powell menjelaskan Powell sudah mendapat suntik dua dosis vaksin virus corona. Kendati begitu, kekebalan tubuhnya rendah sehingga memiliki risiko lebih besar tertular Covid-19.

    Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Colin Powell meninggal pada Senin, 18 Oktober 2021. Sumber: Reuters

    Powell yang punya nama lengkap Colin Luther Powell lahir 5 April 1937, di Harlem, New York, Amerika Serikat. Dia adalah imigran dari Jamaika.

    Setelah dibesarkan di Bronx Selatan, Powell bersekolah di City College of New York. Di sana, dia berpartisipasi dalam ROTC, yang memberinya kesempatan untuk memimpin tim latihan presisi dan mencapai peringkat teratas yang ditawarkan oleh korps, yakni kolonel taruna.

    Powell mengawali karirnya sebagai tentara. Dia pernah bertugas dalam perang Vietnam, lalu menjadi Penasihat Keamanan Nasional kulit hitam pertama pada akhir kepresidenan Ronald Reagan. 

    Powell juga pernah menjadi Ketua Kepala Staf Gabungan Afrika-Amerika termuda dan pertama di bawah pemerintahan Presiden George HW. 

    Popularitas melonjak setelah koalisi pimpinan Amerika Serika menang dalam Perang Teluk. Untuk sementara waktu pada pertengahan 90-an, dia dianggap sebagai pesaing utama untuk menjadi presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat.

    Sayang, reputasinya ternoda ketika dia dipercaya duduk sebagai Menteri luar Negeri kulit hitam pertama, pada era pemerintahan George W. Bush. Ketika itu, Powell mendorong intelijen yang salah ke PBB untuk mengadvokasi Perang Irak. Powell kemudian menyebut tindakannya ini sebagai noda dalam catatannya. 

    Masa jabatan Powell dalam pemerintahan Bush ditandai dengan keterlibatannya dalam beberapa aksi militer Amerika Serikat, dimana yang paling menonjol yakni pada akhir abad ke-20. Militer Amerika Serikat juga melakukan operasi Panama 1989, Perang Teluk 1991 dan intervensi kemanusiaan Amerika Serikat di Somalia

    Meskipun Powell awalnya enggan mengerahkan pasukan Amerika Serikat ketika Irak menginvasi Kuwait pada 1990, namun dia menjadi salah satu juru bicara pemerintah yang paling dipercaya ketika serangan terhadap tentara Saddam Hussein akhirnya datang. 

    Pada Februari 2003, Powell menyampaikan pidato di hadapan negara anggota PBB. Ketika itu, dia menyajikan bukti yang menurut intelijen Amerika Serikat membuktikan Irak telah menyembunyikan senjata pemusnah massal. 

    Yang terjadi kemudian, tim pengawas tidak menemukan senjata yang dimaksud itu di Irak. Dua tahun setelah pidato Powell di PBB tersebut, sebuah laporan pemerintah Amerika Serikat mengatakan intelijen sudah salah besar dengan penilaiannya soal kemampuan senjata pemusnah massal di Irak sebelum invasi militer Amerika Serikat dilakukan. 

    Akan tetapi kerusakan sudah kadung terjadi di Irak, negara 1001 malam yang digempur Amerika Serikat hanya dalam tempo enam minggu setelah pidato Powell tersebut.

    "Kesaksian Powell di PBB mengakibatkan kematian puluhan ribu orang Irak. Darah ini ada di tangannya,” kata Muayad al-Jashami, seorang warga Irak, 37 tahun yang bekerja di sebuah LSM.

    Meskipun dia tidak menderita kerugian langsung, al-Jashami mengatakan dia mengalami stres dan serangan panik sebagai akibat dari perang, yang sampai sekarang coba dia atasi. Al-Jashami juga harus hidup berpindah, dan merasakan pengeboman selama bertahun-tahun di negara itu.

    Aqeel al-Rubai, 42 tahun, yang memiliki toko pakaian dan kosmetik di Baghdad, mengatakan dia tidak peduli jika Powell menyesali informasi keliru, perihal senjata pemusnah massal. Al-Rubai kehilangan sepupunya dan ayahnya  setelah invasi militer Amerika Serikat.

    “Apa gunanya penyesalan itu bagi kami? Seluruh wilayah Irak hancur, dan kami terus membayar harganya. Semoga Tuhan mengasihi dia (Powell)," kata al-Rubai. 

    Afifa Rizkia Amani | aljazeera CNN

    Baca juga: Kematian Colin Powell dan Cemooh Kelompok Antivaksin, Ini Jawab CDC Amerika

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Semeru: Fakta dan Data...

    Semeru mengalami peningkatan aktivitas vulkanis pada 4 Desember 2021. Erupsi Semeru kali ini diduga akibat curah hujan tinggi dan sejumlah faktor.