G20 Sepakat Bantu Rakyat Afghanistan, Tapi Tak Mau Akui Taliban

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Afghanistan berkumpul di luar kantor penerbitan paspor setelah pejabat Taliban mengumumkan mereka akan mulai mengeluarkan paspor lagi kepada warganya, di Kabul, Afghanistan, 6 Oktober 2021. Sejak Taliban mengambil alih kekuasaan, pembuatan paspor bagi warga sempat tertunda selama hampir dua bulan. REUTERS/Jorge Silva

    Warga Afghanistan berkumpul di luar kantor penerbitan paspor setelah pejabat Taliban mengumumkan mereka akan mulai mengeluarkan paspor lagi kepada warganya, di Kabul, Afghanistan, 6 Oktober 2021. Sejak Taliban mengambil alih kekuasaan, pembuatan paspor bagi warga sempat tertunda selama hampir dua bulan. REUTERS/Jorge Silva

    TEMPO.CO, Jakarta - Negara-negara G20 sepakat bekerja sama menghindari bencana kemanusiaan di Afghanistan, meski harus berkoordinasi dengan Taliban, menurut Perdana Menteri Italia Mario Draghi.

    Uni Eropa menjanjikan bantuan satu miliar euro atau setara US$ 1,2 miliar yang akan digunakan untuk kebutuhan kemanusiaan yang mendesak. Dana itu juga untuk membantu negara-negara tetangga yang menampung warga Afghanistan yang telah melarikan diri sejak Taliban menguasai negara itu pada 15 Agustus.

    “Pada dasarnya ada konvergensi pandangan tentang perlunya menangani keadaan darurat kemanusiaan,” kata Draghi kepada wartawan di akhir konferensi video khusus.

    Presiden Amerika Serikat Joe Biden, Perdana Menteri India Narendra Modi dan banyak pemimpin Eropa bergabung dalam KTT virtual, yang berlangsung saat Taliban mengadakan pembicaraan tatap muka pertama dengan delegasi AS-Uni Eropa di Qatar. Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin memilih untuk mengirim perwakilannya.

    Draghi mengatakan ketidakhadiran kedua pemimpin itu tidak mengurangi pentingnya pertemuan yang diselenggarakan oleh Italia, ketua G20 saat ini.

    “Ini adalah respons multilateral pertama terhadap krisis Afghanistan, multilateralisme akan kembali meski dengan susah payah," kata Draghi.

    Para peserta G20 sepakat perlunya meringankan krisis di Afghanistan. Aset negara telah dibekukan, bank kehabisan uang, pegawai negeri belum dibayar, dan harga pangan melonjak. Jutaan orang berisiko mengalami kelaparan parah saat musim dingin yang kian mendekat.

    "Menyaksikan 40 juta orang berada dalam kekacauan, tidak boleh dibiarkan oleh komunitas internasional," kata Kanselir Jerman Angela Merkel kepada wartawan.

    Uni Eropa menyatakan dana itu akan masuk ke organisasi internasional dibandingkan ke Taliban. Hingga kini Taliban belum diakui sebagai penguasa baru Afghanistan.

    Bantuan dari G20 akan disalurkan melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun ada juga bantuan langsung dari negara ke negara.

    Draghi menekankan bahwa berkoordinasi dengan Taliban tidak berarti mengakui pemerintahan mereka. Taliban juga akan dinilai berdasarkan perbuatan bukan kata-kata mereka. "Jika mereka tidak ingin kami masuk, maka kami tidak akan masuk."

    Dalam pernyataan bersama setelah pertemuan itu, para pemimpin G20 juga meminta Taliban menangani kelompok garis keras yang beroperasi di luar negeri. Program kemanusiaan di masa depan harus berfokus pada perempuan dan anak perempuan.

    Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam KTT itu bahwa Taliban belum menyampaikan apa yang diharapkan.“Kami belum melihat inklusivitas yang diperlukan dalam masalah bantuan kemanusiaan, keamanan dan pencegahan Afghanistan menjadi basis organisasi teror dan pencegahan ekstremisme.” ujarnya.

    Menjelang pertemuan itu, China menyerukan agar sanksi ekonomi terhadap Afghanistan dicabut dan miliaran dolar aset internasional Afghanistan dicairkan dan diserahkan kembali ke Kabul. Namun AS dan Inggris, dua negara yang banyak menahan aset Afghanistan menolak mencairkannya.

    Baca: Blok Keamanan Pimpinan Rusia Akan Gelar Latihan Militer Dekat Afghanistan

    AFIFA RIZKIA AMANI | DEWI | AL JAZEERA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Peringkat Pertama Covid-19 Recovery Index Asia Tenggara: Begini Kondis

    Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dalam Covid-19 Recovery Index yang dirilis media Jepang. Ada hal yang masih jadi perhatian.