Dikenal Tidak Religius, Berikut Gambaran Kebebasan Beragama di Cina

Reporter:
Editor:

Nurhadi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang etnis muslim Uighur berjalan di depan layar bergambarkan Presiden Cina Xi Jinping di Kashgar, Xinjiang Uighur , 6 September 2018. Program Pair Up and Become Family  untuk mengubah cara hidup dan kepercayaan etnis Uighur yang beragama Islam yang dianggap Cina berpotensi ekstrimis.  REUTERS/Thomas Peter

    Seorang etnis muslim Uighur berjalan di depan layar bergambarkan Presiden Cina Xi Jinping di Kashgar, Xinjiang Uighur , 6 September 2018. Program Pair Up and Become Family untuk mengubah cara hidup dan kepercayaan etnis Uighur yang beragama Islam yang dianggap Cina berpotensi ekstrimis. REUTERS/Thomas Peter

    TEMPO.CO, Jakarta - Cina merupakan salah satu negara adidaya yang ada di Benua Asia. Secara sekilas, keberadaan Cina mampu mendobrak dominasi negara-negara barat di berbagai bidang, terutama ekonomi. Dilansir dari scmp.com, hingga saat ini, Cina masih tercatat sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, tepat di bawah Amerika Serikat.

    Selain perekonomian, agama juga menjadi sorotan di Cina. Dilansir dari hrw.org, Pemerintah Cina tercatat melakukan beberapa bentuk represi terhadap kebebasan beragama di negaranya. Bentuk represi tersebut meliputi pemenjaraan umat beragama dan kekerasan fisik terhadap penganut agama tertentu. Kini, praktik-praktik represi terhadap kebebasan agama tersebut mulai berkurang. 

    Upaya represi terhadap kebebasan beragama di Cina kini telah berubah menjadi kebijakan-kebijakan yang terlihat lebih halus. Melalui berbagai aturan administrasi dan regulasi, Pemerintah Cina mengharuskan kepada penduduk untuk mendaftarkan kepercayaannya kepada negara.

    Hal tersebut memungkinkan Pemerintah Cina untuk memonitor kepercayaan penduduknya. Kepercayaan yang berada di luar lima kepercayaan resmi pemerintah, yakni Buddhism, Daoism, Islam, Katolik, dan Protestan, berpotensi direpresi.

    Kebebasan beragama di Cina menjadi semakin terancam ketika partai politik penguasa di Cina ternyata memiliki serangkaian peraturan yang tidak pro terhadap kebebasan beragama. Dilansir dari theasiadialogue.com, Partai Komunis Cina secara resmi merupakan partai sekuler yang melarang penganut agama untuk menjadi anggotanya. Akibatnya, sebagaimana dilansir foreignpolicy.com, Partai Komunis Cina mengontrol kebebasan agama di Cina.

    Upaya untuk mengontrol kebebasan beragama Cina juga tertuang dalam konstitusi Cina. Dilansir dari businessinsider.com, konstitusi Cina memberikan kebebasan bagi para penduduk Cina untuk melakukan aktivitas religius normal.

    Praktik religius normal yang dimaksud adalah serangkaian acara-acara keagamaan yang disetujui pelaksanaannya oleh pemerintah. Dilansir dari theasiadialogue.com, aturan dalam konstitusi Cina tersebut menganggap agama sebagai aktivitas ritual semata, tanpa mengakuinya sebagai aktivitas transenden yang menghubungkan manusia dengan Tuhan.

    BANGKIT ADHI WIGUNA

    Baca juga: Alasan Pemerintah Cina Mau Batasi Pengaruh Islam


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Peringkat Pertama Covid-19 Recovery Index Asia Tenggara: Begini Kondis

    Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dalam Covid-19 Recovery Index yang dirilis media Jepang. Ada hal yang masih jadi perhatian.