Thailand Akan Hapus Wajib Karantina Pelancong yang Sudah Divaksin Mulai November

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Seorang pria berjalan di pantai Karon saat Phuket bersiap-siap untuk dibuka untuk turis asing mulai 1 Juli yang mengizinkan orang asing yang divaksinasi penuh untuk mengunjungi pulau resor tanpa karantina, Phuket, Thailand 29 Juni 2021. Berdasarkan keterangan resmi dari Tourism Authority of Thailand (TAT), wisatawan yang diizinkan masuk ke Phuket hanya mereka yang berasal dari negara dan wilayah yang telah disetujui oleh Badan Penanggulangan Covid-19 Thailand (Centre for Covid-19 Situation Administration atau CCSA). REUTERS/Jorge Silva

    Seorang pria berjalan di pantai Karon saat Phuket bersiap-siap untuk dibuka untuk turis asing mulai 1 Juli yang mengizinkan orang asing yang divaksinasi penuh untuk mengunjungi pulau resor tanpa karantina, Phuket, Thailand 29 Juni 2021. Berdasarkan keterangan resmi dari Tourism Authority of Thailand (TAT), wisatawan yang diizinkan masuk ke Phuket hanya mereka yang berasal dari negara dan wilayah yang telah disetujui oleh Badan Penanggulangan Covid-19 Thailand (Centre for Covid-19 Situation Administration atau CCSA). REUTERS/Jorge Silva

    TEMPO.CO, Jakarta - Thailand akan mencabut aturan wajib karantina virus corona untuk pengunjung yang divaksinasi dari 10 negara berisiko rendah mulai 1 November, kata Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha pada Senin, ketika Thailand mencoba untuk menghidupkan kembali ekonominya yang dilanda pandemi.

    Thailand tahun lalu mengalami kontraksi ekonomi terdalam dalam lebih dari dua dekade, dengan sektor pariwisata yang menjadi andalan pendapatan negara masih berjuang menghadapi imbas pandemi.

    Pengunjung dari setidaknya 10 negara termasuk Inggris, Singapura, Jerman, Cina, dan Amerika Serikat, akan dibebaskan dari karantina pada saat kedatangan, kata Prayuth dalam pidato yang disiarkan televisi, dilaporkan Reuters, 12 Oktober 2021.

    Lebih banyak negara nanti akan ditambahkan ke daftar, kata Prayuth.

    "Saya tahu keputusan ini memiliki beberapa risiko. Hampir pasti kita akan melihat peningkatan sementara dalam kasus-kasus serius saat kita melonggarkan pembatasan ini," ujarnya. "Kita harus melacak situasi dengan sangat hati-hati dan melihat bagaimana menahan dan hidup dengan situasi itu, karena saya tidak yakin jutaan orang yang bergantung pada pendapatan dari sektor perjalanan, rekreasi dan hiburan, bisa menanggung krisis lain dari masa liburan tahun baru untuk kedua kalinya," katanya.

    Tetapi jika ada kemunculan tak terduga dari varian virus baru yang sangat berbahaya di bulan-bulan mendatang, Thailand akan bertindak semestinya, kata Prayuth.

    Persyaratan masuk yang ketat dan tindakan karantina membantu menjaga wabah virus corona di Thailand tetap terkendali hingga beberapa bulan terakhir, tetapi pembatasan tersebut membuat jumlah kedatangan luar negeri turun menjadi sebagian kecil dari hampir 40 juta pengunjung pada 2019.

    Thailand kehilangan sekitar US$50 miliar (Rp710 triliun) pendapatan pariwisata tahun lalu atau turun 82%.

    Thailand telah memulai uji coba pembukaan kembali pada 1 Juli di pulau wisata paling populer, Phuket, yang telah memvaksinasi sebagian besar penduduk setempat.

    Total hanya 100.000 pengunjung asing diharapkan tahun ini, menurut Otoritas Pariwisata Thailand.

    Thailand juga berencana untuk mengizinkan dimulainya kembali penjualan alkohol di restoran dan membuka kembali tempat hiburan pada 1 Desember, kata Prayuth, seraya menambahkan negara itu akan memiliki lebih dari 170 dosis vaksin pada akhir tahun.

    Thailand sejauh ini telah memvaksinasi 32,5% dari 72 juta orang dan telah melonggarkan banyak pembatasan di Bangkok dan provinsi lain, di mana jumlah infeksi COVID-19 telah menurun akhir-akhir ini.

    Baca juga: Turis Indonesia Bisa Masuk Phuket Tanpa Karantina, Syaratnya Sudah Divaksin

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Semeru: Fakta dan Data...

    Semeru mengalami peningkatan aktivitas vulkanis pada 4 Desember 2021. Erupsi Semeru kali ini diduga akibat curah hujan tinggi dan sejumlah faktor.