KBRI Australia Menggelar Diskusi Batik di Tengah Industri Fashion

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Acara Peringatan hari Batik nasional yang diselenggarakan oleh KBRI Canberra, Australia, 2 Oktober 2021. Sumber: dokumen KBRI

    Acara Peringatan hari Batik nasional yang diselenggarakan oleh KBRI Canberra, Australia, 2 Oktober 2021. Sumber: dokumen KBRI

    TEMPO.CO, Jakarta - Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Canberra, Australia, menyelenggarakan acara peringatan hari Batik nasional, yang dirayakan setiap 2 Oktober. Acara peringatan berupa diskusi online membahas bagaimana batik bertahan di tengah industri fashion yang sangat beragam dan menarik.

    KBRI Canberra dalam keterangan menjelaskan, acara diskusi ini diberi judul "Sustainability of Batik as Indonesia’s heritage for the world: Opportunities and Challenges", yang diselenggarakan pada 7 Oktober 2021. Acara ini juga hasil kerja sama KBRI dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA).

    Kristiarto S. Legowo, Duta Besar RI untuk Australia. Sumber: dokumen KBRI Australia

    Menurut Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia dan Vanuatu, Kristiarto S. Legowo, batik sudah menjadi bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari budaya dan diplomasi Indonesia. Sebab batik sudah mendunia dan secara luas dicintai bukan hanya oleh orang Indonesia saja, tapi juga masyarakat dunia.

    Duta Besar Kristiarto menilai batik memiliki dua fungsi, yaitu fungsi budaya dan fungsi ekonomi. Keseimbangan di antara kedua fungsi itulah yang akan menjaga keberlanjutan eksistensi Batik sebagai sebuah warisan Indonesia untuk dunia.

    Supaya berkelanjutan, Batik harus menjalankan dua fungsi secara seimbang, yaitu fungsi budaya dan sebagai warisan budaya.

    “Batik memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi yang harus dijaga dan dilestarikan. Namun, Batik sebagai sebuah produk ekonomi selama ini telah menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat dan ini terus meningkat dari tahun ke tahun,” kata Kristiarto.

    Sedangkan Maria Wornska, pembicara dari James Cook University dalam acara diskusi tersebut, menjelaskan Batik Jawa memiliki kontribusi yang sangat besar bagi dunia sejak berabad yang lalu. Pengaruh Batik Jawa menurutnya, bukan hanya sampai di wilayah nusantara, tapi juga meliputi India, Afrika, Eropa, bahkan Australia.

    Wornska, yang sudah melakuan penelitan tentang Batik Jawa selama lebih dari 30 tahun, mencontohkan motif batik Parang Rusak dari Jawa Tengah telah menginspirasi the “Fan” motive yang diproduksi oleh Vlisco di Belanda.

    “Sebelum 1913, di Manchester terdapat West-Africa batik yang motif nya terinspirasi dari Batik Jawa, bahkan di India, penyair besar Rabindranath Tagore pada 1929 sudah mengenakan batik Jawa. Hal ini menunjukkan betapa Batik Jawa memang sudah mendunia sejak lama,” ujarnya.

    Adapun Yan Yan Sunarya, yang dikenal sebagai Doktor Batik dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menyinggung pengaruh batik sunda, dalam diskusi tersebut. Menurut Yan, batik sunda merupakan suatu kekayaan khas yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

    Batik merupakan kumpulan dari kekayaan pengetahuan, keragaman keindahan, dan sekaligus merupakan identitas nasional, untuk menghormati manusia dan pencapaian budayanya. Berdasarkan penelitian Yan tentang Batik Sunda, sejak abad ke 16 wilayah Sunda sudah familiar dengan produksi Batik.

    Meski banyak ahli mengatakan bahwa Batik sunda pada awalnya terpengaruh oleh Batik Jawa, namun dalam perkembangannya Batik Sunda memiliki karakter spesifik yang berbeda seiring dengan perkembangan nilai dan budaya Sunda yang memiliki perbedaan dengan Jawa.

    Diskusi online memperingati hari Batik nasional ini diharapkan bisa memberikan pemahaman pada peserta mengenai sejarah batik dari beragam perspektif. Acara ini diharapkan pula bukan hanya melahirkan dan menambah kecintaan pada kebesaran budaya Indonesia yang tergambar dari Batik, tapi juga memberikan semangat untuk mempromosikan Batik sebagai trend baru fashion dunia.

    Baca juga: Ditanya Soal Dugaan Korupsi LNG Pertamina, Begini Kata Ahok


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Peringkat Pertama Covid-19 Recovery Index Asia Tenggara: Begini Kondis

    Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dalam Covid-19 Recovery Index yang dirilis media Jepang. Ada hal yang masih jadi perhatian.