Pengadilan Israel Izinkan Yahudi Berdoa di Masjid Al Aqsa, Hamas Siap Melawan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Warga Palestina melaksanakan salat Idul Adha di Kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem, 20 Juli 2021. REUTERS/Ammar Awad

    Warga Palestina melaksanakan salat Idul Adha di Kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem, 20 Juli 2021. REUTERS/Ammar Awad

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengadilan Israel memutuskan umat Yahudi diperkenankan berdoa di kompleks Masjid Al Aqsa. Keputusan itu memicu ketakutan warga Palestina bahwa Yahudi akan merambah situs paling suci di Yerusalem.

    Dikutip dari Al Jazeera, warga Palestina mengecam keputusan Pengadilan Magistrat Israel untuk jamaah Yahudi yang berdoa di Masjid Al Aqsa tidak dianggap sebagai tindakan kriminal. Hal ini membalikkan kesepakatan lama ketika umat Islam beribadah di Al-Aqsa sementara orang Yahudi beribadah di Tembok Barat di dekatnya.

    Keputusan pengadilan datang setelah seorang pemukim Israel, Rabi Aryeh Lippo, meminta pengadilan mencabut larangan sementara memasuki Al-Aqsa. Perintah itu diberikan kepadanya oleh polisi Israel setelah Aryeh Lippo melakukan salat di kompleks itu.

    Perdana Menteri Palestina Mohammad Ibrahim Shtayyeh meminta Amerika Serikat memenuhi janjinya mempertahankan status quo kompleks tersebut. Ia juga meminta negara-negara Arab mendukung Palestina. "Kami memperingatkan upaya Israel untuk memaksakan realitas baru di Masjid Suci Al-Aqsa," kata Shtayyeh pada hari Kamis, 7 Oktober 2021.

    Yordania menyebut keputusan pengadilan itu adalah pelanggaran pelanggaran serius terhadap status historis dan hukum Masjid Al-Aqsa. Yordania berperan sebagai penjaga Al-Aqsa dan diakui dalam perjanjian damai 1994 antara Amman dan Tel Aviv.

    Khaled Zabarqa, seorang pengacara yang ahli dalam kasus Yerusalem dan Al-Aqsa, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sistem peradilan Israel tidak memiliki yurisdiksi hukum untuk mengatur kesucian Masjid Al-Aqsa dan mengubah status quo. Dari sudut pandang hukum, keputusan itu batal.

    Walau demikian, putusan itu menimbulkan kekhawatiran Palestina akan pengambilalihan situs tersuci ketiga dalam Islam oleh Yahudi. Konfrontasi berdarah antara warga Palestina dan pasukan keamanan Israel berulang kali terjadi karena semakin banyak orang Yahudi memasuki kompleks Al-Aqsa untuk berdoa. Mereka menyebut Al Aqsa sebagai Temple Mount.

    Orang-orang Palestina menyebut kunjungan orang-orang Yahudi ke situs itu sebagai provokasi. Palestina juga menuduh Israel secara sistematis berusaha merusak perjanjian sebelumnya.

    Kompleks Masjid Al Aqsa berada di Kota Tua di Yerusalem merupakan bagian dari wilayah yang direbut Israel dalam perang Timur Tengah 1967. Israel mencaplok Yerusalem Timur pada 1980 dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

    Kelompok Hamas mengatakan keputusan pengadilan itu merupakan agresi terang-terangan terhadap Masjid Al-Aqsha. Hamas menyataan siap melawan. “Kami siap melawan untuk mengusir agresi dan membela hak-hak,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.

    Mufti Yerusalem dan Palestina, Sheikh Muhammad Hussein, menyatakan keprihatinan karena eskalasi permusuhan kemungkinan meningkat. “Kami mengimbau orang-orang Arab dan Muslim menyelamatkan Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa dari keputusan invasif pendudukan di Masjid Al-Aqsha. Kami memperingatkan semua orang terhadap pecahnya perang agama,” kata sang mufti.

    Baca: Turki Kecam Keputusan Pengadilan Israel Izinkan Ibadah Yahudi di Al-Aqsa

    AL JAZEERA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Semeru: Fakta dan Data...

    Semeru mengalami peningkatan aktivitas vulkanis pada 4 Desember 2021. Erupsi Semeru kali ini diduga akibat curah hujan tinggi dan sejumlah faktor.