ISIS-K Mengadopsi Taktik Gerilya Taliban untuk Serang Pemerintahan Afghanistan

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tangkapan layar evakuasi korban terluka ke rumah sakit setelah serangan bom bunuh diri di bandara Kabul, di Kabul, Afghanistan, 26 Agustus 2021. Bom bunuh diri yang didalangi kelompok ISIS-K menewaskan sedikitnya 60 warga sipil dan 13 tentara Amerika Serikat. REUTERS TV/1TV/Handout via REUTERS

    Tangkapan layar evakuasi korban terluka ke rumah sakit setelah serangan bom bunuh diri di bandara Kabul, di Kabul, Afghanistan, 26 Agustus 2021. Bom bunuh diri yang didalangi kelompok ISIS-K menewaskan sedikitnya 60 warga sipil dan 13 tentara Amerika Serikat. REUTERS TV/1TV/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Setelah sebulan menguasai Afghanistan dari pemerintahan yang didukung Barat, Taliban kini menghadapi musuh internal mereka, ISIS-K.

    Ironisnya, ISIS-K mengadopsi banyak taktik perang kota Taliban yang menandai keberhasilan kampanye gerilya mereka sendiri.

    Sebuah serangan mematikan di bandara Kabul bulan lalu dan serangkaian ledakan bom di kota timur Jalalabad, semuanya diklaim oleh afiliasi ISIS di Afghanistan, telah menggarisbawahi ancaman terhadap stabilitas dari kelompok militan yang tetap tidak berdamai dengan Taliban.

    Meski juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid telah meremehkan ancaman tersebut dengan mengatakan minggu ini ISIS-K tidak memiliki kehadiran yang efektif di Afghanistan, para komandan Taliban di lapangan tidak mengabaikan ancaman itu begitu saja.

    Dua anggota badan intelijen gerakan yang menyelidiki beberapa serangan baru-baru ini di Jalalabad mengatakan taktik menunjukkan kelompok itu tetap berbahaya, bahkan jika tidak memiliki cukup milisi dan sumber daya untuk merebut wilayah, dikutip dari Reuters, 24 September 2021.

    Dengan menggunakan bom tempel, bom magnet yang biasanya ditempel di bagian bawah mobil, serangan tersebut menargetkan anggota Taliban dengan cara yang persis sama dengan yang digunakan Taliban sendiri untuk menyerang pejabat dan tokoh masyarakat sipil dalam pemerintahan sebelumnya.

    "Kami khawatir dengan bom tempel yang pernah kami terapkan untuk menargetkan musuh kami di Kabul. Kami khawatir tentang kepemimpinan kami karena mereka dapat menargetkan mereka jika tidak berhasil mengendalikan mereka," kata salah satu pejabat intelijen Taliban.

    Tangkapan layar menunjukkan orang-orang di luar rumah sakit setelah serangan di bandara Kabul, di Kabul, Afghanistan, 26 Agustus 2021. REUTERS TV/via REUTERS

    ISIS di Khorasan, nama yang diambil dari nama kuno untuk wilayah yang mencakup Afghanistan modern, pertama kali muncul pada akhir 2014 tetapi telah menurun dari puncaknya sekitar 2018 menyusul kekalahan besar yang ditimbulkan oleh gempuran Taliban dan AS.

    Pasukan keamanan Taliban di Nangarhar mengatakan mereka telah membunuh tiga anggota gerakan ISIS-K pada Rabu malam dan para pejabat intelijen mengatakan gerakan itu masih mempertahankan kemampuan untuk menimbulkan masalah melalui serangan skala kecil.

    "Struktur utama mereka rusak dan mereka sekarang dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk melakukan serangan," kata salah satu dari pejabat intelijen Taliban.

    Taliban telah berulang kali mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan Afghanistan digunakan sebagai basis serangan terhadap negara lain. Tetapi beberapa analis Barat percaya kembalinya kelompok Taliban ke tampuk kekuasaan telah memperkuat kelompok-kelompok seperti ISIS-K dan Al Qaeda, yang telah menjadikan Afghanistan basis mereka ketika Taliban terakhir memerintah negara itu.

    Baca juga: Korban Salah Sasaran Drone AS di Kabul: Permintaan Maaf Saja Tak Cukup

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Peringkat Pertama Covid-19 Recovery Index Asia Tenggara: Begini Kondis

    Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dalam Covid-19 Recovery Index yang dirilis media Jepang. Ada hal yang masih jadi perhatian.