Raja Salman: Arab Saudi Dukung PBB Gagalkan Ambisi Nuklir Iran

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua G20 Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz menyampaikan pidato mengikuti forum KTT Luar Biasa G20 secara virtual dari Riyadh, Arab Saudi, 26 Maret 2020. KTT ini menghasilkan kesepakatan bahwa seluruh negara di dunia terutama anggota G20 akan patungan dana hingga 4 miliar dolar AS atau setara Rp 64 triliun (kurs Rp 16.000 per dolar AS). Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS

    Ketua G20 Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz menyampaikan pidato mengikuti forum KTT Luar Biasa G20 secara virtual dari Riyadh, Arab Saudi, 26 Maret 2020. KTT ini menghasilkan kesepakatan bahwa seluruh negara di dunia terutama anggota G20 akan patungan dana hingga 4 miliar dolar AS atau setara Rp 64 triliun (kurs Rp 16.000 per dolar AS). Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz menyatakan dukungannya terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa atau PBB yang mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. "Kerajaan menekankan pentingnya menjaga Timur Tengah bebas dari senjata pemusnah massal. Atas dasar ini kami mendukung upaya internasional yang bertujuan mencegah Iran memiliki senjata nuklir," katanya saat berpidato di Majelis Umum PBB di New York, Rabu, 22 September 2021.

    Iran dan Arab Saudi, yang memimpin kekuatan Muslim Syiah dan Sunni di Timur Tengah, telah bersaing selama bertahun-tahun. Kedua negara mendukung perang proksi di Yaman, Suriah dan di negara lain.

    Kedua negara memutuskan hubungan diplomatik pada 2016. Namun tahun ini Iran dan Arab Saudi kembali membuka pembicaraan untuk mengurangi ketegangan. Pada Selasa, menteri luar negeri Saudi bertemu dengan mitranya dari Iran, menurut kantor berita semi-resmi Iran Mehr.

    "Iran adalah negara tetangga, kami berharap pembicaraan awal bisa memberikan hasil nyata untuk membangun kepercayaan, menghormati kedaulatan dan tidak mencampuri urusan dalam negeri," kata Raja Salman.

    Pernyataan tersebut menyusul seruan Presiden Iran Ebrahim Raisi untuk melanjutkan pembicaraan nuklir dengan negara-negara di dunia. Iran juga meminta Amerika Serikat menghapuskan sanksi.

    Dalam pidatonya, Raja Salman mengatakan Houthi Yaman menolak inisiatif damai untuk mengakhiri perang. Arab Saudi juga akan mempertahankan diri terhadap rudal balistik dan drone bersenjata.

    Penguasa berusia 85 tahun itu mengatakan bahwa kerajaan telah mengambil langkah besar selama lima tahun terakhir. Hal itu sejak pewaris kerajaan Putra Mahkota Mohammed bin Salman meluncurkan rencana ambisius mendiversifikasi ekonomi dari ketergantungan pada minyak dan perubahan lainnya.

    Raja Salman juga mengatakan Arab Saudi memerangi ekstremisme. "Kerajaan terus memerangi pemikiran ekstremis, yang dibangun di atas kebencian, dan mengawasi organisasi teroris dan milisi sektarian yang menghancurkan umat manusia dan bangsa," katanya.

    Baca: Bertemu Dubes Arab Saudi, Kemenag Lobi agar Jemaah Bisa Berangkat Umrah

    AFIFA RIZKIA AMANI | DEWI | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ramai Tagar #PercumaLaporPolisi

    Kepolisian RI tengah dibanjiri kritik dari masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, hingga ada tagar #PercumaLaporPolisi.