Cina Lockdown Sebagian Kota Harbin karena Penularan Lokal Covid-19

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Arsip - Polisi berpakaian APD terlihat di sebuah bandara di Harbin, Heilongjiang, China --yang berbatasan dengan Rusia, di tengah penyebaran COVID-19 di negara itu, April 2020. ANTARA/REUTERS

    Arsip - Polisi berpakaian APD terlihat di sebuah bandara di Harbin, Heilongjiang, China --yang berbatasan dengan Rusia, di tengah penyebaran COVID-19 di negara itu, April 2020. ANTARA/REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Kota Harbin di timur laut Cina, yang berpenduduk 10 juta orang, memberlakukan lockdown parsial setelah melaporkan penularan Covid-19 untuk pertama kalinya sejak awal Februari.

    Tiga dari 16 kasus lokal baru yang dilaporkan di Cina untuk 21 September berada di Harbin, ibu kota Provinsi Heilongjiang, menurut Komisi Kesehatan Nasional (NHC) pada hari Rabu, dikutip dari Reuters, 22 September 2021. Kasus penularan lokal terakhir yang dilaporkan di kota itu terjadi pada 4 Februari.

    Harbin, yang dikenal dengan musim dinginnya yang minus 30 derajat Celcius, pada Rabu berjanji untuk menyelesaikan putaran awal pengujian di seluruh kota pada Kamis, dan mengatakan kepada penduduknya untuk menahan diri keluar rumah, kecuali jika perlu, sebelum hasil tes mereka keluar.

    Pemerintah kota telah memberi tahu penduduknya untuk menghindari meninggalkan kota kecuali karena alasan penting, dan mereka yang pergi harus menunjukkan bukti hasil tes negatif dalam waktu 48 jam sejak keberangkatan.

    Tempat-tempat di dalam ruangan seperti bioskop, gym, dan tempat main mah-jong juga ditutup, dan lokasi wisata diperintahkan untuk membatasi lalu lintas pengunjung dengan setengah dari kapasitasnya, televisi pemerintah melaporkan pada hari Selasa.

    Kota itu juga akan menangguhkan kelas tatap muka di semua taman kanak-kanak, sekolah dasar dan sekolah menengah atas selama seminggu mulai Rabu, kata televisi pemerintah Selasa malam.

    Tidak jelas apakah tiga kasus Harbin baru terkait dengan wabah saat ini di provinsi timur Fujian.

    Menurut televisi pemerintah, salah satu kasus ditemukan ketika orang tersebut pergi ke rumah sakit setempat untuk pengujian.

    Dua lainnya, kontak dekat dari kasus pertama, kembali ke Cina dari Filipina pada akhir Agustus dan pertama kali dikarantina di kota selatan Guangzhou sebelum dikarantina lagi di rumahnya di Harbin.

    Kabupaten Bayan, tempat tinggal tiga kasus, menangguhkan layanan bus dan taksi dan mengunci beberapa daerah.

    Di Fujian, kota Xiamen dan Putian melaporkan total 13 kasus baru untuk 21 September, menurut NHC pada hari Rabu, turun dari rata-rata hitungan harian minggu lalu.

    Wakil Perdana Menteri Sun Chunlan mengatakan pada Senin, pejabat lokal tidak boleh optimistis secara membabi buta tentang kemajuan yang dibuat di Fujian, karena ketidakpastian tetap ada dan pertempuran melawan virus masih berada pada jalan buntu, media pemerintah melaporkan.

    Sun menuntut upaya untuk menyegel permukiman yang dianggap berisiko virus harus lebih ketat, menurut surat kabar Fujian Daily.

    Empat kota Fujian di Putian, Xiamen, Quanzhou dan Zhangzhou yang telah melaporkan kasus lokal semuanya mengatakan kepada penduduk untuk tidak meninggalkan kota kecuali untuk alasan penting.

    Kota-kota itu juga telah menerapkan memberlakukan lockdown sebagian di area yang berisiko lebih tinggi, menutup berbagai tempat umum, memotong layanan bus jarak jauh tertentu, dan menghentikan pelajaran offline di taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah.

    Baca juga: Covid-19 Tak Akan Hilang, Ahli di Cina Minta Dunia Belajar Hidup Bersama Virus

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Persebaran Pengungsi di Indonesia Menurut UNHCR

    PBB mengucurkan dana untuk program respons sosial ekonomi inklusif untuk menghadapi Covid-19. UNHCR mendata persebaran penerima manfaat di Indonesia.