India Protes, Vaksin AstraZeneca Produksinya Tak Diakui Inggris

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petugas kesehatan menyuntikan vaksin Covid-19 COVISHIELD yang diproduksi oleh Serum Institute of India, pada seorang penggembala dalam perjalanan vaksinasi di Lidderwat dekat Pahalgam, di distrik Anantnag, Kashmir selatan, 10 Juni 2021. REUTERS/Sanna Irshad Mattoo

    Seorang petugas kesehatan menyuntikan vaksin Covid-19 COVISHIELD yang diproduksi oleh Serum Institute of India, pada seorang penggembala dalam perjalanan vaksinasi di Lidderwat dekat Pahalgam, di distrik Anantnag, Kashmir selatan, 10 Juni 2021. REUTERS/Sanna Irshad Mattoo

    TEMPO.CO, JakartaIndia mendesak Inggris mencabut aturan yang mengharuskan pendatang dari India menjalani karantina meskipun mereka sudah divaksinasi lengkap.

    Menurut aturan baru itu, London tidak mengakui vaksin Covishield buatan AstraZeneca yang diproduksi di India oleh Serum Institute, meski identik dengan vaksin yang telah diberikan pada jutaan warga Inggris.

    Aturan yang akan diberlakukan mulai Oktober itu memancing kemarahan India.

    Banyak warga India menyebut keputusan itu sebagai diskriminasi, karena orang Inggris yang disuntik dengan vaksin sama tidak diharuskan menjalani karantina.

    Kebijakan Inggris itu juga berpotensi mendapat balasan dari India.

    Sumber-sumber di pemerintah India mengatakan mereka kemungkinan akan mengambil tindakan balasan jika masalah itu tidak segera diselesaikan.

    Menlu India Subrahmanyam Jaishankar mengatakan lewat Twitter bahwa penyelesaian masalah karantina itu mendesak demi kepentingan bersama.

    Jaishankar baru saja bertemu dengan Menlu Inggris Liz Truss di New York, Amerika Serikat, ketika mereka menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

    Kedutaan Besar Inggris di New Delhi mengatakan pemerintahnya dengan India tengah berupaya untuk menyelesaikan masalah itu.

    "Kami berhubungan dengan Pemerintah India untuk menjajaki kemungkinan memperluas pengakuan sertifikat vaksin bagi orang-orang yang divaksinasi oleh badan kesehatan publik di India," kata juru bicara Kedubes.

    Aturan baru Inggris itu, yang mewajibkan karantina 10 hari bagi pelancong dari India, juga berlaku bagi banyak negara lain yang menggunakan Covishield.

    Shashi Tharoor, seorang penulis dan anggota dewan perwakilan India dari kelompok oposisi, pada Senin (20/9) mengatakan telah membatalkan rencana tur bukunya di Inggris sebagai aksi protes.

    Menurut dia, meminta warga India yang telah divaksinasi untuk menjalani karantina adalah tindakan yang menyinggung perasaan.

    Jairam Ramesh, anggota dewan lainnya, mengatakan keputusan Inggris itu "berbau rasisme".

    AstraZeneca adalah salah satu pemasok penting program vaksinasi Inggris bersama Moderna dan Pfizer dari AS.

    Vaksin AstraZeneca berperan dalam sebagian besar vaksinasi di India. Sejumlah kecil warga India menerima vaksin lokal buatan Bharat Biotech, yang tidak digunakan di Inggris.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ramai Tagar #PercumaLaporPolisi

    Kepolisian RI tengah dibanjiri kritik dari masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, hingga ada tagar #PercumaLaporPolisi.