Australia: Kapal Selam Bertenaga Nuklir Kami Tak Membawa Senjata Nuklir

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal selam serang Type-093A Shang-II Class diyakini mampu membawa rudal jelajah supersonik YJ-18 yang akan menjadi senjata utamanya melawan kapal perang dan target darat, memberikan kemampuan serangan malam pertama. Nationalinterest.com

    Kapal selam serang Type-093A Shang-II Class diyakini mampu membawa rudal jelajah supersonik YJ-18 yang akan menjadi senjata utamanya melawan kapal perang dan target darat, memberikan kemampuan serangan malam pertama. Nationalinterest.com

    TEMPO.CO, JakartaAustralia menyatakan, kapal selam yang akan mereka bangun lewat kemitraan dengan Amerika Serikat dan Inggris tidak akan membawa senjata nuklir.

    Duta Besar Australia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Will Nankervis mengatakan pembangunan armada kapal selam bertenaga nuklir dengan memanfaatkan keahlian AS dan Inggris sangat penting untuk meningkatkan kemampuan angkatan lautnya.

    “Walaupun akan bertenaga nuklir, kapal selam ini tidak akan membawa senjata nuklir. Australia tidak sedang dan tidak akan mencari senjata semacam itu. Kami juga tidak berusaha membangun kemampuan nuklir sipil,” kata Nankervis dalam pernyataan tertulisnya, Selasa.

    Dia juga menegaskan bahwa Australia tetap teguh mendukung Perjanjian Non-Proliferasi (NPT).

    Australia akan bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional untuk memastikan kepatuhan penuh terhadap kewajiban NPT sebagai negara non-senjata nuklir, katanya.

    “Kami tetap berkomitmen untuk memperkuat kepercayaan internasional terhadap integritas rezim non-proliferasi internasional, dan menegakkan kepemimpinan global kami di bidang ini,” ujar Nankervis.

    Menyusul pengumuman kemitraan keamanan Australia, Inggris, dan AS (AUKUS) pekan lalu, Australia menegaskan dukungannya terhadap sentralitas ASEAN dan Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik yang bertujuan menciptakan kawasan terbuka, inklusif, dan sejahtera.

    Nankervis menekankan bahwa AUKUS bukan aliansi atau pakta pertahanan, tetapi upaya Australia untuk memperkuat kemampuan bekerja sama dengan mitra regional dalam mendukung stabilitas dan keamanan regional.

    “Perjanjian baru ini tidak mengubah komitmen Australia terhadap ASEAN maupun dukungan berkelanjutan kami untuk arsitektur regional yang dipimpin ASEAN. Kami berkomitmen untuk terus mendorong kawasan yang damai dan aman dengan ASEAN sebagai pusatnya, dan untuk melengkapi dan memperkuat rancangan yang telah ada, yang dipimpin oleh ASEAN,” tutur dia.

    Sebagai pihak dalam Perjanjian Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan, kata dia, Australia memahami pentingnya Perjanjian Zona Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara bagi negara-negara Asia Tenggara.

    "Australia memastikan akan selalu mendukung perjanjian penting ini," kata Nankervis.

    Australia juga mendukung semua negara untuk dapat menggunakan hak dan kebebasan mereka sesuai dengan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) untuk mewujudkan tatanan maritim berbasis aturan, katanya.

    “Australia akan terus bermitra dengan anggota ASEAN, termasuk dalam pengembangan sumber daya laut yang berkelanjutan dan memerangi tantangan seperti penangkapan ikan ilegal, yang tidak diatur dan tidak dilaporkan, yang dipandu oleh Pandangan ASEAN mengenai Indo-Pasifik,” kata Nankervis.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Persebaran Pengungsi di Indonesia Menurut UNHCR

    PBB mengucurkan dana untuk program respons sosial ekonomi inklusif untuk menghadapi Covid-19. UNHCR mendata persebaran penerima manfaat di Indonesia.