Pakar UI: Indonesia Perlu Gandeng ASEAN dan Cina Tolak Kapal Nuklir Australia

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal selam kelas Seawolf dirancang untuk menggantikan kapal selam serang kelas Los Angeles dan untuk mempertahankan keunggulan Amerika atas Uni Soviet di  bawah laut. Kelas pertama, Seawolf (SSN21), dipesan dari Electric Boat Division of General Dynamics, Connecticut, AS, pada Januari 1989 dan ditugaskan pada Juli 1997. Wikimedia Commons

    Kapal selam kelas Seawolf dirancang untuk menggantikan kapal selam serang kelas Los Angeles dan untuk mempertahankan keunggulan Amerika atas Uni Soviet di bawah laut. Kelas pertama, Seawolf (SSN21), dipesan dari Electric Boat Division of General Dynamics, Connecticut, AS, pada Januari 1989 dan ditugaskan pada Juli 1997. Wikimedia Commons

    TEMPO.CO, JakartaGuru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengatakan Indonesia dapat meminta kepada ASEAN mengadakan sidang khusus untuk  menentang rencana pembangunan kapal selam nuklir oleh Australia.

    "Hasil sidang ini kemudian disuarakan," kata Hikmahanto Juwana dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa, 21 Januari 2021.

    Rencana pembuatan kapal selam nuklir itu tercantum dalam kemitraan keamanan antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat  (AUKUS).

    Menurut dia, Indonesia juga perlu mendekati Cina sebagai pesaing AS untuk menentang rencana Australia tersebut.

    "Indonesia dalam isu ini memiliki garis kebijakan yang sama dengan Cina," kata dia.

    Harapannya adalah AS akan khawatir bila Indonesia bersekutu dengan Cina dan karenanya akan menghentikan rencana Australia membangun kapal selam bertenaga nuklir, kata dia.

    Langkah terakhir, kata Hikmahanto, adalah Indonesia mendekati Prancis yang menentang keras rencana AS, Inggris dan Australia tersebut.

    Ia mengatakan Indonesia dapat mendorong agar Prancis membawa isu ini dalam sidang Dewan Keamanan PBB.

    "Keberatan Indonesia terkait rencana membangun kapal selam bertenaga nuklir karena tiga alasan. Pertama, rencana pembuatan kapal selam bertenaga nuklir berpotensi melanggar Non-Proliferation Treaty (NPT)," kata Rektor Universitas Jenderal A Yani itu.

    NPT adalah perjanjian internasional yang melarang penyebaran pengetahuan nuklir dan nuklir dari negara yang memiliki kepada yang tidak memiliki.

    AS adalah negara pemilik nuklir dan pengetahuannya, sementara Australia bukan, kata Hikmahanto.

    Kedua, lanjut dia, rencana pembuatan kapal selam bertenaga nuklir oleh Australia berpotensi memunculkan perlombaan senjata di kawasan Indo Pasifik.

    Ia mengatakan Cina tentu tidak akan berdiam diri dengan perkembangan geo-politik ini.

    Terakhir, kata dia, rencana pembuatan kapal selam bertenaga nuklir dapat mengancam perdamaian dan stabilitas keamanan di kawasan Indo Pasifik.

    "Bila terjadi perang terbuka dapat dipastikan penggunaan senjata nuklir di kawasan akan tidak dapat dihindari," ujar Hikmahanto.

    Selanjutnya: Sikap ASEAN Tidak Kompak 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Peringkat Pertama Covid-19 Recovery Index Asia Tenggara: Begini Kondis

    Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dalam Covid-19 Recovery Index yang dirilis media Jepang. Ada hal yang masih jadi perhatian.