Peneliti Singapura Mengubah Kulit Durian Jadi Perban Antibakteri

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang peneliti memegang lembaran hidrogel yang terbuat dari kulit durian dengan fenolik ragi di Singapura 16 September 2021.[REUTERS/Lee Ying Shan]

    Seorang peneliti memegang lembaran hidrogel yang terbuat dari kulit durian dengan fenolik ragi di Singapura 16 September 2021.[REUTERS/Lee Ying Shan]

    TEMPO.CO, Jakarta - Para ilmuwan di Nanyang Technological University (NTU) di Singapura sedang menangani limbah makanan dengan mengubah kulit durian yang dibuang menjadi perban gel antibakteri.

    Prosesnya mengekstrak bubuk selulosa dari kulit buah setelah diiris dan dikeringkan, kemudian dicampur dengan gliserol. Campuran ini menjadi hidrogel lunak, yang kemudian dipotong menjadi strip perban.

    "Di Singapura, kami mengonsumsi sekitar 12 juta durian per tahun, jadi selain dagingnya, kami tidak bisa berbuat banyak tentang kulit dan bijinya dan ini menyebabkan pencemaran lingkungan," kata Profesor William Chen, direktur program ilmu dan teknologi pangan di NTU Singapura, dikutip dari Reuters, 20 September 2021.

    Direktur Program Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Teknologi Nanyang (NTU) William Chen berpose di Singapura, 16 September 2021.[REUTERS/Travis Teo]

    Kulit buah durian, yang merupakan lebih dari setengah komposisi durian, biasanya dibuang dan dibakar, sehingga menyebabkan limbah lingkungan.

    Chen mengatakan teknologi tersebut juga dapat mengubah limbah makanan lainnya, seperti kacang kedelai dan biji-bijian bekas, menjadi hidrogel, membantu membatasi limbah makanan negara.

    Dibandingkan dengan perban konvensional, perban organo-hidrogel juga mampu menjaga area luka lebih dingin dan lembab, yang dapat membantu mempercepat penyembuhan.

    Kulit durian dan cawan petri berisi lembaran hidrogel selulosa yang terbuat dari kulit durian dengan fenolik ragi terlihat di Singapura 16 September 2021.[REUTERS/Lee Ying Shan]

    Para peneliti mengatakan menggunakan bahan limbah dan ragi untuk perban antimikroba lebih hemat biaya daripada produksi perban konvensional, yang sifat antimikrobanya berasal dari senyawa logam yang lebih mahal seperti ion perak atau tembaga.

    Pedagang grosir durian, Tan Eng Chuan, mengatakan, ia menjual setidaknya 30 peti durian sehari selama musim durian atau sekitar 1.800 kg. Bisa memanfaatkan bagian buah durian yang biasanya dibuang, kata dia, merupakan inovasi yang membuatnya lebih ramah lingkungan.

    Baca juga: Dalam 50 Menit, Durian Senilai Rp 216 Miliar Ludes Dibeli Peserta Flash Sale

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Peringkat Pertama Covid-19 Recovery Index Asia Tenggara: Begini Kondis

    Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dalam Covid-19 Recovery Index yang dirilis media Jepang. Ada hal yang masih jadi perhatian.