Ayah Tuntut Sekolah Rp 14 Miliar karena Potong Rambut Anak Tanpa Izin

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi potong rambut. Pixabay.com

    Ilustrasi potong rambut. Pixabay.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Jimmy Hoffmeyer, seorang ayah di Michigan, Amerika Serikat, menuntut pihak sekolah sebesar US$ 1 juta atau setara Rp 14 miliar karena memotong rambut putrinya yang berumur 7 tahun tanpa izin. Selain ke pihak sekolah, tuntutan dilayangkan ke distrik tempat sekolah berada, pustakawan dan asisten guru dengan tuduhan bias rasial.

    Gugatan diajukan di pengadilan federal pada Selasa lalu di Grand Rapids terhadap Sekolah Umum Mount Pleasant. Hoffmeyer adalah pria campuran kulit hitam dan putih. Ia mengajukan sejumlah tuntutan terhadap pihak sekolah yaitu pelanggaran hak konstitusional, diskriminasi rasial, intimidasi etnis, penderitaan yang disengaja dari tekanan emosional dan penyerangan dan baterai.

    Insiden tersebut terjadi pada Maret lalu. Saat itu Jurnee yang berusia 7 tahun pulang dari sekolah dengan satu sisi rambutnya dipotong.

    Jurnee mengatakan teman sekelasnya telah memotong rambutnya. Pihak keluarga yang tidak puas membawa gadis kecil itu ke salon untuk meratakannya.

    Hanya dua hari kemudian, setelah mengadukan kejadian itu kepada kepala sekolah, Jurnee pulang ke rumah sambil menangis. Seorang pustakawan, yang berkulit putih, memotong rambutnya lagi. Ibu Jurnee juga berkulit putih.

    "Dia (Jurnee) mengatakan gurunya telah memotong rambut untuk meratakannya," ujar Hoffmeyer.

    Menurut gugatan tersebut, pihak sekolah gagal melatih, memantau, mengarahkan, mendisiplinkan dan mengawasi karyawan dengan benar. Pihak sekolah juga mengetahui bahwa karyawannya terlibat dalam perilaku tersebut. Selain itu kurangnya disiplin untuk karyawan. 

    Tak terima dengan perlakuan pihak sekolah, Hoffmeyer mengeluarkan putrinya dari sekolah. Pada bulan Juli, penyelidikan internal oleh distrik sekolah menemukan bahwa pustakawan itu tidak bertindak rasisme. Sekolah juga sudah memperingatkan keras terhadap pustakawan tersebut dan mengancam adanya pemutusan hubungan kerja jika ada pelanggaran lagi.

    Dua karyawan sekolah lainnya mengetahui kejadian itu tetapi tidak melaporkannya. Mereka telah menerima teguran tertulis, menurut pejabat distrik.

    Baca: Taliban Tak Izinkan Perempuan Afghanistan Masuk Gedung Kementerian

    NY POST | AP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ramai Tagar #PercumaLaporPolisi

    Kepolisian RI tengah dibanjiri kritik dari masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, hingga ada tagar #PercumaLaporPolisi.